TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Ketenaran Citayam Fashion Week Mulai Meredup

Zebra Cross Dijaga Petugas Dan Diberi Barrier

Oleh: MS/AY
Minggu, 31 Juli 2022 | 10:11 WIB
Lokasi Citayam Fashion Week kini dijaga anggota gabungan. (Ist)
Lokasi Citayam Fashion Week kini dijaga anggota gabungan. (Ist)

JAKARTA - Fenomena Citayam Fashion Week (CFW) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, mulai meredup. Pengunjung mulai sepi setelah petugas Kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan, melarang zebra cross digunakan sebagai catwalk.

Ajang pamer busana di zebra cross ini sempat menjadi magnet bagi warga. Bahkan, Minggu (24/7), terjadi kemacetan yang luar biasa karena pengunjung membludak.

Sejak saat itulah, Polda Metro Jaya dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai bertindak. Pemanfaatan zebra cross untuk lintasan peragaan busana mulai dilarang. Puncaknya, petugas gabungan memblokade zebra cross dan menutupnya dengan barrier.

Pantauan Rakyat Merdeka (Tangsel Pos Group) kawasan Dukuh Atas mulai sepi. Zebra cross yang menjadi tempat para remaja Sudirman, Citayam, Bojonggede dan Depok (SCBD) berlenggak-lenggok pun lengang. Di kanan dan kiri zebra cross berjejer barrier berwarna oranye. Sejumlah petugas terlihat berjaga di kedua sisi jalan.

Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Jakarta Pusat Kombes Komarudin mengatakan, penjagaan dan pemasangan barrier untuk mengembalikan fungsi zebra cross sebagai tempat menyeberang jalan.

“Zebra cross tidak ditutup. Tapi difungsikan sebagaimana mestinya,” kata Komarudin.

Menurutnya, pekan lalu terjadi kerumunan di Dukuh Atas, hingga membuat kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman hingga ke Senayan. Kemudian petugas mengambil tindakan untuk menormalisasi.

Apalagi, selama empat hari berturut-turut, CFW membuat kendaraan mengular mencapai lebih dari empat kilometer.

Kemacetan ini, kata Komarudin, karena banyaknya warga yang datang, tidak hanya untuk menyaksikan CFW. Mereka juga asyik foto-foto dan membuat konten hingga tumpah ke jalan.

Selain itu, banyak pengunjung CFW yang memarkir kendaraannya di trotoar dan bahu jalan. Sehingga fungsi trotoar dan zebra cross terganggu.

“Jalur pedestrian full karena kendaraan roda dua parkir di sana. Makanya, kami menertibkan dan kami kembalikan fungsi pedestrian itu,” ujarnya.

Sanksi Sapu Jalan

Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Tumbur Parluhutan Purba mengatakan, pihaknya akan terus menggelar pengawasan secara humanis dan persuasif di CFW.

“Penegakan peraturan daerah digelar rutin di kawasan TOD Dukuh Atas untuk memastikan pengunjung mematuhi aturan, yakni membuang sampah pada tempatnya dan memakai masker,” kata Tumbur.

Pada Kamis (28/7) malam, kata dia, petugas gabungan memberikan sanksi kepada 10 warga di kawasan TOD Dukuh Atas yang melanggar peraturan.

“Mereka dikenakan sanksi teguran dan menyapu jalan serta memakai rompi oranye. Pengunjung yang tidak memakai masker, usai menjalani hukuman diberikan masker,” ungkapnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sudin Lingkungan Hiduo Jakarta Pusat Edy Mulyanto menuturkan, pihaknya menyiagakan 16 personel yang dibagi menjadi tiga shif untuk penegakan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013.

Menurut Edy, pengunjung yang kedapatan membuang sampah sembarangan saat ini semakin berkurang dibandingkan dua pekan lalu.

“Semoga semakin hari, pengunjung disiplin membuang sampah di tempat yang sudah disediakan,” harapnya.

Sebab, kata Edy, fenomena CFW juga berdampak pada peningkatan volume sampah. Sehari sampai 2,5 meter kubik atau hampir 1,5 ton dengan dua lokasi, Tanah Abang dan Menteng.

Edy mengatakan, pembuang sampah sembarangan diberi sanksi, mulai dari teguran hingga menyapu jalan dan berkeliling menggunakan rompi yang bertuliskan jenis pelanggaran. “Yang bertulis ‘Kami pelanggar Perda 3/2013’,” katanya.

Menurutnya, hukuman itu untuk efek jera dan peringatan kepada warga lainnya.

“Di situ banyak warga yang lalu lalang. Sementara memang belum diterapkan sanksi denda. Mudah-mudahan mereka bisa diberikan edukasi,” ujarnya.

Sebagai informasi, sejak viral awal Juni lalu, kawasan Dukuh Atas ini selalu ramai. Warga, yang mayoritas remaja dari berbagai daerah, Citayam, Bojonggede, Depok, Tangerang, Bekasi, berdatangan ke sana. Bahkan pejabat hingga artis pun ikut berkunjung.

Kawasan Dukuh Atas strategis. Sangat mudah diakses. Banyak dijangkau angkutan umum. Ongkosnya juga murah. Jika menggunakan Transjakarta, turun di Halte Polda Metro.

Kalau naik KRL Jakarta-Bogor, berhenti di Stasiun Sudirman. Bagi yang memilih MRT, turun di Stasiun Dukuh Atas BNI. Bahkan kini, lokasi CFW sudah ada di Google Maps.

Manfaatin Kota Tua

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, sangat cocok menjadi tempat penyelenggaraan CFW. Kawasan ini sangat luas dan terjangkau dengan kereta Commuter Line.

Karena itu, Trubus mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memindahkan CFW ke kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.

Menurutnya, CFW berpotensi mendongrak perekonomian Jakarta. Kegiatan ini merupakan ajang kreativitas generasi muda yang ingin menunjukkan eksistensi.

“CFW jangan disikapi sebagai pelanggaran ketertiban umum. Apalagi, pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” ungkap Trubus saat dihubungi.

Trubus menegaskan, Pemprov DKI memiliki kewenangan membuat aturan penyelenggaraan CFW. Sehingga, kegiatan ini dapat memberikan nilai positif bagi generasi muda dan meningkatkan perekonomian Jakarta.

“Harusnya sebagai pembuat kebijakan, Pemprov DKI dapat mengatur terselenggaranya CFW satu minggu sekali. Sehingga tidak menimbulkan ekses negatif bagi masyarakat. Seperti mengatur pelaksanaan Car Free Day (CFD) setiap akhir pekan,” sarannya.

Selain itu, Pemprov DKI juga bisa mencarikan tempat penyelenggaraan CFW seperti ke Kemayoran atau Kota Tua yang memiliki lahan terbuka yang luas. Bukan di Gedung atau di TIM yang masuk saja harus membayar parkir. Jika penyelenggaraan CFW dilakukan di gedung, komunitas SCBD pasti tak tertarik.

Pemprov DKI dapat merespons positif kreativitas anak muda menengah bawah ini dengan berkoordinasi memanfaatkan lahan di Kawasan Kota Tua milik BUMN, yang tengah direvitalisasi dan direnovasi.

Kawasan itu memiliki lahan luas. Kota Tua juga memiliki akses kereta api yang biasanya dijadikan sarana transportasi komunitas anak muda yang memeriahkan CFW.

Menurutnya, Pemprov juga bisa melakukan inisiasi untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka. Dengan memberikan beasiswa atau bekerja sama dengan Menteri Erick Thihir dan BUMN, untuk penggembangan kreativitas generasi muda Indonesia.

“Harusnya Pemprov DKI dapat berkolaborasi dengan Menteri Erick untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka,” ujar Trubus. (rm.id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo