TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Berjuang Hadapi Resesi Global

Oleh: KIKI ISWARA DARMAYANA
Sabtu, 06 Agustus 2022 | 08:02 WIB
KIKI ISWARA DARMAYANA
KIKI ISWARA DARMAYANA

JAKARTA - Ekonomi global makin tak menentu. Akibatnya banyak negara miskin terancam kolaps. Terutama mereka yang tak memiliki stok bahan pangan dan energi.

Negara-negara Eropa pun, kini mu­lai terseok-seok. Stok energi mereka menipis akibat minimnya suplai migas dari Rusia. Sejak Mei 2022 lalu, stok gandum dan bahan pangan lainnya juga terus berkurang. Ini akibat tersendatnya pasokan dari Rusia.

Perang Rusia-Ukraina telah memu­kul ekonomi global. Harga minyak mentah loncat dari 80 an dolar AS per barel ke angka 100 hingga 110 dolar AS per barel.

Dalam kondisi banyak negara masih “sakit” akibat serangan Covid-19, tiba-tiba muncul badai resesi. Ini pukulan telak yang menyebabkan, sebagian dari mereka mati suri.

Resesi global secara langsung maupun tidak langsung juga menekan ekonomi Indonesia. Naiknya harga minyak mentah dunia menyebabkan bengkaknya angka subsidi BBM. Tapi kita patut bersyukur, melonjaknya harga batubara, nikel dan minyak sawit langsung mempertebal kocek negara, sehingga Indonesia punya uang yang cukup untuk subsidi BBM.­

Indonesia juga masih mampu me­nyediakan dana bantuan untuk rakyat miskin dan sangat miskin. Ini penting supaya orang-orang yang ada di lapisan paling bawah tidak kelaparan.

Di saat negara ini belum 100 pers­en pulih dari “sakit” akibat serangan Covid, pemerintah tetap harus memberikan subsidi BBM.

Kita berharap, dengan masih adanya subsidi BBM dan bansos tunai, ekonomi rakyat tetap bisa berputar.

Naiknya harga bahan pangan di pasar dunia ikut memicu lonjakan harga di pasar domestik. Inilah yang menyebabkan angka inflasi naik tipis.

Tapi berkat adanya bansos tunai, rakyat tetap bisa membeli beras. Rakyat tetap bisa membeli minyak goreng dan gula.

Supaya pendapatan negara naik lebih tinggi lagi, produksi batubara, nikel dan minyak sawit perlu di­genjot.

Kita juga berharap, kegiatan investasi dipacu lagi, terutama untuk industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Ini semua penting supaya ekonomi tetap bisa tumbuh di atas 5 persen.

Kalau pada kuartal II, ekonomi tumbuh 5,44 persen, kita berharap pada kuartal III naik sedikit ke angka 5,55 persen.

Untuk ini diperlukan kerja keras pemeritah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha. Sehingga kegiatan investasi dan ekspor naik lebih tinggi lagi. Ini salah satu cara yang ampuh untuk bisa selamat dari serangan badai resesi ekonomi global. (rm.id)

Komentar:
Berita Lainnya
Dr. Muhadam Labolo, M.Si. (Dok. Pribadi)
Ekses Citayam Fashion Week
Sabtu, 13 Agustus 2022
KIKI ISWARA DARMAYANA
Jangan Stop Bansos Tunai
Sabtu, 13 Agustus 2022
Prof. DR KH. Nasaruddin Umar
Memelihara Kejujuran
Jumat, 12 Agustus 2022
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Berlomba Melakukan Kebaikan
Senin, 08 Agustus 2022
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Senantiasa Bertutur Santun
Minggu, 07 Agustus 2022
Prof. KH. DR. Nasaruddin Umar
Memelihara Rasa Optimisme
Jumat, 05 Agustus 2022
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo