Bupati Dewi Canangkan Tiga Varietas Ubi Jalar Lokal NDS
Perkuat Ketahanan Pangan & Peluang Ekonomi Baru
PANDEGLANG - Untuk memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi pertanian serta kesejahteraan pertani, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang tengah mencanangkan tiga varietas ubi jalar unggul lokal NDS yakni, ubi NDS 08 Ungu, NDS 08 Merah, dan NDS 08 Kuning.
Bupati Pandeglang, Raden Dewi Setiani, mengatakan, pengembangan varietas unggul lokal merupakan langkah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya genetik daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan petani.
“Ini bukan sekadar memperkenalkan varietas baru. Kita ingin menjadikan kekayaan sumber daya genetik lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan petani Pandeglang,” kata Bupati Dewi, di UPT Puskeswan Kecamatan Karangtanjung, Senin (28/9).
Menurut wanita berkerudung dan berkacamata ini, sektor pertanian memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian Kabupaten Pandeglang. Katanya, lebih dari 43 persen penduduk Pandeglang menggantungkan kehidupannya pada sektor tersebut.
Maka dari itu tegasnya, setiap inovasi di bidang pertanian harus bermuara pada peningkatan produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan petani.
“Ketiga varietas ubi jalar yang dicanangkan memiliki karakteristik berbeda. NDS 08 Ungu memiliki warna daging ungu yang khas dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan bernilai tambah. Kemudian NDS 08 Merah memiliki warna daging merah jingga dan berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan, maupun bahan baku berbagai produk olahan. Sementara NDS 08 Kuning memiliki warna daging kuning dengan potensi produktivitas yang baik,” jelasnya.
Bupati Dewi menegaskan, pencanangan tersebut bukan merupakan akhir dari proses pengembangan varietas ubi jalar lokal Pandeglang. Ia meminta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pandeglang segera menindaklanjuti proses formal pendaftaran varietas sesuai ketentuan yang berlaku.
“Langkah tersebut diperlukan agar varietas unggul lokal tersebut memperoleh legalitas dan dapat dikembangkan secara lebih luas,” katanya.
Selain peningkatan produksi, Dewi juga mendorong adanya hilirisasi agar ubi jalar tidak hanya dijual dalam bentuk segar. Menurutnya, komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung, puree, keripik, dan produk pangan lainnya.
“Keberhasilan pembangunan pertanian bukan hanya diukur dari seberapa banyak hasil panen yang kita produksi, tetapi juga dari seberapa besar nilai tambah yang dapat dinikmati petani dan masyarakat,” pungkasnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Tanti Yulianti, menambahkan, pengembangan ketiga varietas tersebut diarahkan ke tujuh kecamatan, yakni Menes, Kaduhejo, Mekarjaya, Mandalawangi, Cikedal, Saketi, dan Cisaat.
“Rencana pengembangan melibatkan 82 kelompok tani dengan total luas penanaman sekitar 8,2 hektare. Dengan umur panen sekitar empat bulan, ubi jalar diharapkan dapat menjadi salah satu komoditas alternatif untuk mengoptimalkan lahan pertanian dan meningkatkan indeks pertanaman,” katanya.
Produktivitas yang ditargetkan berada pada kisaran 25 hingga 40 ton per hektare. “Semua tergantung varietas, kondisi lahan, teknologi budidaya, dan pengelolaan tanaman,” tandasnya.
Internasional | 22 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu




