TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Nyaris Rp 18.000, BI Ungkap Biang Keroknya

Reporter & Editor : AY
Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:46 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kian tertekan hingga mendekati Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) menyebut lonjakan inflasi AS, ekspektasi suku bunga tinggi, serta ketidakpastian konflik Timur Tengah menjadi pemicu pelemahan mata uang Garuda.


Pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10/2026), rupiah berada di level Rp 17.950 per dolar AS. Posisi ini melemah 0,26 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 17.903 per dolar AS.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya mendorong ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih agresif dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).


Di sisi lain, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah membuat harga minyak dunia bertahan di atas 105 dolar AS per barel. Kondisi ini turut meningkatkan risiko fiskal ke depan.


Tekanan tersebut mendorong penguatan dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko global. Indeks dolar AS (DXY) bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik 12 basis poin hingga mencapai 4,90 persen.


Situasi ini memicu pergeseran investasi ke aset yang dinilai lebih aman dan menekan aliran modal ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.


Meski demikian, Erwin menilai pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), pelemahan rupiah tercatat terbatas sebesar 0,17 persen.


“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, Kamis (15/10/2026).


Dari sisi ketahanan eksternal, BI mencatat cadangan devisa Indonesia sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.


Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi di pasar keuangan, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.


BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta mengelola struktur suku bunga dan kecukupan likuiditas di pasar uang.


Selain langkah stabilisasi tersebut, BI memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar guna menjaga kepercayaan dan memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamental ekonomi.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit