TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Undang Ekonom Galak Ke Istana, Jokowi Kasih Bukti Tidak Tipis Kuping

Oleh: AN/AY
Jumat, 05 Agustus 2022 | 10:40 WIB
Presiden Joko Widodo. (Ist)
Presiden Joko Widodo. (Ist)

JAKARTA - Diam-diam, Presiden Jokowi mengundang sejumlah ekonom ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (3/8). Ekonom yang diundang pun dikenal galak-galak dalam mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah. Pertemuan ini dipuji karena Jokowi kasih bukti tidak "tipis kupingnya."

Hingga tadi malam, memang tidak ada rilis maupun pemberitahuan dari pihak Istana, terkait pertemuan tersebut. Termasuk di kanal-kanal media sosial Istana.

Kabar pertemuan ini pertama kali diungkapkan oleh Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Prof Didik J Rachbini. Namun, Didik tidak bisa ikut karena hasil test PCR yang dipersyaratkan untuk ketemu presiden, telat keluarnya.

Ekonomi INDEF lainnya, Esther Sri Astuti membenarkan adanya pertemuan itu. Bahkan dirinya ikut dalam pertemuan itu.

Lalu apa saja yang dibicarakan Jokowi dalam pertemuan itu? Esther mengatakan, pertemuan itu diawali dengan makan siang, sekitar pukul 12 bersama presiden Jokowi di Istana. Ada sekitar sejaman mereka makan siang, sambil diskusi.

Selain Esther, ada ekonom lain juga yang ikut diundang, yaitu Aviliani, Dradjad Hari Wibowo, ekonom CORE Hendri Saparini, Rektor Atmajaya Prof Agustinus Prasetyantoko, Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro, dan beberapa ekonom bank lainnya.

Setelah makan siang, baru Jokowi yang didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung, memberikan paparan. Diantaranya soal capaian pajak yang meningkat, pertumbuhan ekonomi hingga infrastruktur.

Selain itu, Jokowi juga pamer surplusnya ekspor. Termasuk ke China, dari sebelumnya minus 7 miliar dolar AS di tahun 2012, menjadi surplus 2,4 miliar dolar AS tahun 2021. Tak cuma China, ekspor Indonesia juga tercatat surplus dengan Amerika Serikat.

Mantan Wali Kota Solo itu, kata Esther, juga cerita soal pembicaraan-pembicaraan terkait ekonomi saat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden China Xi Jinping.

"Pak Jokowi saat kunjungan ke China itu, menanyakan tiga hal, apa yang bikin ekonomi China melompat dan tinggi sekali GDP-nya," cerita Esther, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Jawaban Xi Jinping ke Jokowi saat itu, kata Esther, adalah hilirisasi, infrastruktur, serta inovasi dan teknologi. Tiga hal inilah yang kemudian berhasil mengungkit ekonomi China yang puluhan tahun lalu, susah dan banyak rakyatnya kelaparan.

Tiga jurus jitu yang dipakai China itu, juga mirip-mirip dengan yang dijalankan Jokowi saat ini. Bedanya, 3 jurus Jokowi itu adalah infrastrutur, inovasi dan digitalisasi.

Soal hilirisasi juga ikut disinggung Jokowi dalam pertemuan itu. Sebab, selama ini ekspor masih didominasi oleh barang mentah. Karena itu, hilirisasi mulai digenjot, salah satunya di Morowali. Dimana nikel tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan dalam bentuk barang jadi. Misalkan, berwujud baterai dan lainnya.

Hitungan Jokowi, nilai ekonomi dari ekspor barang jadi naik 10 sampai 20 kali lipat ketimbang barang mentah.

Esther mengungkapkan, banyak uneg-uneg ekonom disampaikan dalam pertemuan tersebut. Esther misalnya menyoroti soal hilirasi. Ia meminta agar kebijakan hilirisasi melalui kajian yang matang. Tidak sekedar hanya membuat pabrik, tapi tidak melakukan riset kebutuhan pasar global terlebih dahulu.

Selain itu, hilirisasi juga membutuhkan kawasan industri yang terintegrasi. Khususnya dengan bandara, jalan raya yang memadai hingga pelabuhan. Sehingga biaya logistik bisa lebih efisien. "Kalau sekarang ekspor, jalannya jauh-jauh, enggak efisien,' tandasnya.

Didik Kasih Masukan Ke Jokowi

Meski batal hadir, Prof Didik J Rachbini tetap memberikan masukan kepada Jokowi. Rektor Universitas Paramadina ini meminta pemerintah menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah krisis ekonomi global. Menurut dia, tekanan pada APBN datang dari subsidi yang sangat besar, terutama subsidi energi.

Menurut dia, saat ini pemerintah seperti gagap untuk mengambil keputusan mengurangi subsidi energi yang sudah mencapai Rp 500 triliun. Jumlah subsidi ini sama besarnya dengan anggaran pemerintah SBY dengan kurs rupiah relatif tidak berbeda jauh.  

Apalagi, kata dia, pada tahun depan pemerintah dan DPR harus mengembalikan defisit di bawah 3 persen sesuai undang-undang yang dibuatnya. Jika desifit tahun depan tidak bisa di bawah 3 persen, maka ini menjadi pelanggaran konstitusi yang serius bagi pemerintah.

Didik juga mengusulkan, Jokowi melakukan blusukan ke sektor-sektor industri kecil dan besar. Sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi itu sedang loyo, sehingga pertumbuhan ekonomi stagnan di bawah 5 persen.

Didik juga mengusulkan, pemerintah menjalankan strategi kebijakan ekonomi “outward loking”, yaitu strategi berorientasi keluar dengan pilar kebijakan ekspor dan investasi yang berkualitas. Strategi ini dalam sejarah ekonomi modern sudah dilakukan semua negara maju.

Apa kata DPR soal pertemuan Jokowi dan para ekonom? Anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno mengaku, senang melihat sosok presiden yang mau mendengarkan banyak pihak. "Ini sangat terpuji. Jangan hanya mendengarkan skenario tunggal, seperti prediksi IMF dan Word Bank saja," kata Hendrawan, tadi malam.

Menurutnya, jika mau mendengarkan para ekonom yang kritis, maka pemerintah akan mendapatkan banyak input penting, objektif dan logis. Daripada hanya mendengarkan paparan dari internal pemerintah saja. (rm id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo