TangselCity

Ibadah Haji 2024

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

Pusat Data

Oleh: Dahlan Iskan
Rabu, 03 Juli 2024 | 11:00 WIB
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

SERPONG - Suatu ketika saya bertemu anak muda. Asalnya kota kecil. Nilai di sekolahnya biasa-biasa saja. Ia pun hanya SMA biasa. Tidak kuliah. Tapi ia mempunyai kemampuan –yang bagi orang lama seperti saya– menakjubkan.

Tentu saja ia punya nomor telepon banyak orang, termasuk nomor HP yang saya pegang. Saya juga ingin mengujinya.

"Silakan Anda membajak nomor saya ini," kata saya.

Anak muda itu pun main-main sebentar dengan HP miliknya. Lalu teman di sebelah saya menerima WA. Dari saya. Dari nomor saya. Dengan foto wajah saya di nomor itu.

Padahal saya lagi ngobrol asyik dengan beberapa teman di situ. Saya memang pegang HP, tapi tidak melakukan apa-apa. Tiba-tiba ada yang menerima WA dari nomor saya.

Anak itu bisa ''mencuri'' kata sandi saya. Tentu saja dia hanya melakukan itu saja. Saya berjanji tidak akan mengirim WA lagi kepada saya.

Katanya: Itu hanya untuk membuktikan bahwa ia punya kemampuan seperti itu.

Itu setahun yang lalu. Bulan itu saya masih bertemu lagi beberapa kali dan lalu tidak bertemu lagi. Saya juga lupa kalau pernah punya teman setia dan sehebat itu.

Saya baru ingat dia minggu lalu. Yakni ketika media menghebohkan terjadinya pembobolan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) milik Indonesia di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Saya pun mencari anak muda itu. Saya merasa sulit menulis soal pembobolan itu kalau belum bertemu dengannya. Saya ingin tahu kira-kira seperti apa kejadiannya.

Saya ingat namanya, tetapi tidak ingat nomor teleponnya. Saya cari di HP saya. Tidak ketemu. Saya ingat: ini HP baru, yang harganya hanya seperempat HP lama.

Mungkin nomor kontaknya tidak ter-copy ke HP baru.

.Dari teman sekelasku, nomor anak muda itu bisa aku dapat. Hubungi saya. Tidak berhasil. Telepon saya tidak ada sambungnya. Saya WA: cukup centang satu. Setiap hari saya coba hubungi. Gagal.

Temannya juga sulit menghubunginya. Mereka juga sudah tiga bulan tidak bertemu. Saya pun malu: tidak bisa segera menulis tentang pembobolan PDNS itu. Padahal medsos begitu nyata. Sampai ada yang marah-marah mengapa presiden tidak mengangkat anak muda sebagai menkominfo. Yakni anak muda yang paham teknologi informasi.

Saya sendiri, secara pribadi, tidak merasakan dampak apa pun dari pembobolan itu. Tak ada sedikit pun kesulitan. Hidup saya berjalan normal.

Para peneliti Disway juga tidak ada yang bercerita tentang kesulitan hidup mereka akibat pembobolan itu.

pernyataan bahwa pembobol bisa masuk ke situs PDNS. Lalu mengganti kata sandinya dengan kata sandi lain.

Kementerian pun tidak bisa lagi mengaksesnya. Kata sandi yang ada tidak dapat berfungsi.

Anda sudah tahu lebih dulu: Si pembobol bersedia memberikan kata sandi baru asal pemerintah membayarnya sebesar USD 8 juta. Anda juga sudah tahu: pemerintah tidak melayani permintaan itu. Toh akan sia-sia. Jika kata sandi baru didapat, itu bisa saja terjadi keesokan harinya ketika giliran teman yang membobol. Tidak akan ada habisnya.

Menurut anak muda tadi, begitu banyak anak seumurannya yang punya kemampuan seperti ia. Situs-situs pemerintah adalah situs yang paling mudah dibobol. Biasanya justru untuk latihan awal.

Apakah setelah permintaannya ditolak si pembobol lantas marah; lalu mengambil semua data itu untuk dijual ke pihak lain seharga USD 8 juta?

Kalau yang dicuri itu dompet, mungkin dompetnya akan dibuang di pinggir jalan setelah uangnya diambil. Tapi yang diambil ini password. Datanya bisa jadi diambil. Bisa jadi tidak.

Apalagi kalau si pembobol adalah anak muda dari dalam negeri. Jangan-jangan awalnya ini hanya ajang latihan bagi mereka. Ternyata ada yang berhasil. Mereka tidak menyangka kalau seheboh ini. Hebohnya di luar perkiraan, lalu takut sendiri.

Maka langkah yang terbaik adalah segera cari anak muda yang bisa membobol si pembobol. Lalu bisa menghancurkan data itu.

Toh data-data lama masih ada di instansi masing-masing. Bisa dikompilasi lagi dengan cepat. Lalu dibuatkan backup. "Kalau perlu sampai rangkap empat," seperti yang kemarin dikatakan menko Polhukam. Atau, katanya, dibuatkan kasta-kasta data. Mana yang paling rahasia sampai yang agak rahasia.

Penyimpanannya pun tidak akan lagi hanya di Surabaya dan Tangerang. Mungkin yang Surabaya dipindah; karena ternyata yang dibobol itu yang di Surabaya. Jangan-jangan harus ada yang di Pulau Rote.

Saya agak mengkhawatirkan anak muda yang pernah bertemu saya itu. Saya tahu ia pembaca Disway. Halllooooo... Anak muda! Di mana Anda.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo