Jembatan Sinarjaya Ambruk Dimakan Usia
DPUPR Bakal Upaya Mewujudkan Jembatan Bailey
PANDEGLANG - Jembatan dengan lembar sekitar 4 meter dan panjang 7 meter yang dibangun pada tahun 1994 atau berusia sekitar 32 tahun di Kampung Sinarjaya, Desa Sinarjaya, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, ambruk total pada saat hujan deras melanda, Sabtu (31/1), sekitar pukul 13.00 WIB.
Jembatan yang ambruk dimakan usia itu menghubungkan empat desa, yakni Desa Sinarjaya, Panjangjaya, Cikumbueun dan Desa Ramea. Dalam kejadian tak ada korban jiwa, hanya saja mengakibatkan akses warga sekitar terhambat.
Mendapatkan informasi tersebut, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pandeglang telah meninjau ke lokasi melakukan pengukuran untuk kebutuhan dibuatkan jembatan sementara bailey.
Perangkat Desa Sinarjaya, Agis (25) mengungkapkan, jembatan ambruk di wilayahnya terjadi kemarin (Sabtu) pada saat kondisi hujan deras. “Ya ambruk, ambruknya kemarin sekitar pukul 13.00 WIB, waktu itu kondisi cuaca hujan deras,” kata Agis, Minggu (1/2).
Jembatan yang menghubungkan empat desa itu, dibangun pada tahun 1994 lalu. Jadi kata dia, wajar jembatan tersebut mengalami ambruk karena kondisinya sudah tua.
“Kondisi jembatan memang sudah tua, karena dibangunnya pada tahun 1994. Jadi pada saat hujan deras melanda, tiba-tiba saja jembatan itu ambruk. Dalam kejadian tidak ada korban jiwa,” katanya.
Kondisi itu sudah dilaporkan kepada para pihak terkait, bahkan pihak DPUPR Pandeglang sudah ke lokasi kejadian. “Kami sudah melaporkan kejadian ini ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, dari dinas juga sudah meninjau,” pungkasnya.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala DPUPR Pandeglang, Roni membenarkan, jembatan yang ambruk itu sudah cukup tua, sehingga pada saat diterjang air deras mengalami ambruk.
“Jembatan itu cukup tua, dibangun pada tahun 1994. Kalau lantainya masih bagus, hanya saja abutment (kepala jembatan,red) sudah rapuh, sehingga diterjang air deras berakibat ambruk,” jelasnya.
Dia memastikan, warga masih bisa beraktivitas karena ada jalur alternatif yang dapat dilalui. “Tadi juga kami berkoordinasi dengan Kepala Desa (Kades), dan meninjau langsung jalur alternatif sangat dekat. Jadi warga masih bisa beraktivitas,” ujarnya.
Roni mengaku, bersama jajarannya sudah ke lokasi jembatan ambruk tersebut. Pihaknya juga langsung melakukan pengukuran untuk kebutuhan dipasang jembatan sementara berbahan bailey.
“Jembatan itu lebarnya 4 meter dan panjang 7 meter. Tapi jika harus dibuatkan jembatan bailey, membutuhkan panjang sekitar 12 meter karena untuk jarak aman,” katanya.
Supaya dapat terwujud dibuatkan jembatan bailey, pihaknya bakal bersurat ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Pandeglang.
“Mudah-mudahan masih ada, karena sudah ada dua jembatan bailey yang digunakan di Pandeglang. Jika di Pemprov Banten tidak ada, kami akan berupaya ke pihak BPJN (Balai Pelaksanaan Jalan Nasional) Banten,” pungkasnya.
Katanya lagi, untuk jangka panjang. Terlebih dahulu bakal membuat dokumen perencanaan teknis rinci yang mencakup gambar kerja, spesifikasi teknis, hitungan struktur, dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang digunakan sebagai acuan utama dalam pelaksanaan proyek konstruksi jembatan.
“Kami akan buat DED (Detail Engineering Design)-nya, sekalian yang jembatan di Koranji. Mudah-mudahan anggarannya ada di Kabupaten, kalau tidak ada kami akan ajukan ke Pemprov atau BPJN,” tandasnya.
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 13 jam yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu


