TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Banten dalam Lingkaran Api dan Racun: Ketika Strategi Industri Kehilangan Arah

Oleh: Winny Septiana Sari
Editor: Redaksi
Selasa, 17 Februari 2026 | 18:39 WIB
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

Banten sedang memberi pelajaran mahal tentang bagaimana sebuah wilayah industri dapat kehilangan kendali atas risiko yang diciptakannya sendiri. Dalam kurun kurang dari satu tahun, publik menyaksikan rangkaian insiden yang sulit lagi disebut kebetulan. Ia membentuk pola.

 

September 2025, ekspor udang beku Indonesia terdeteksi mengandung radioaktif Cesium-137. Penelusuran mengarah pada material scrap metal di kawasan industri Cikande. Dua puluh empat perusahaan dan lebih dari seribu ton material dinyatakan terkontaminasi. Radioaktif bukan sekadar limbah berbahaya; ia adalah simbol kegagalan pengawasan paling elementer.

 

Januari 2026, Cilegon kembali diselimuti asap akibat kebocoran uap asam nitrat. Puluhan warga mengalami gangguan pernapasan. Februari 2026, pencemaran pestisida pascakebakaran fasilitas industri mengalir ke sungai Jaletreng dan Cisadane. Dampaknya menjalar lebih dari dua puluh kilometer—ikan mati, air berubah warna, kecemasan publik meningkat.

 

Kini, Tangerang Selatan menghadapi episode serupa: kebakaran fasilitas industri yang diduga memicu limpasan bahan kimia ke badan sungai. Bau menyengat dan perubahan warna air bukan lagi anomali, melainkan gejala sistemik.

 

Pertanyaan yang relevan bukan lagi “mengapa ini terjadi?”, melainkan “mengapa terus berulang?” 

 

Ekosistem sebagai Korban yang Tak Bersuar
 

Sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah infrastruktur ekologis dan ekonomi. Cisadane menopang kebutuhan air baku lintas kota Tangerang, Tangerang Selatan, bahkan sebagian DKI Jakarta.
 

Ketika pestisida seperti cypermethrin atau profenofos masuk ke badan air, dampaknya melampaui kematian ikan. Plankton musnah, invertebrata hilang, rantai makanan terputus, oksigen terlarut menurun, dan bioakumulasi mengendap di sedimen. Dalam perspektif ekologi, ini bukan gangguan sesaat, melainkan disrupsi struktur trofik.
 

Kerusakan tersebut berarti hilangnya jasa lingkungan: air bersih, perikanan rakyat, hingga stabilitas sosial masyarakat bantaran. Dan biaya kehilangan ini jarang tercermin dalam neraca perusahaan. Ia dipindahkan ke publik.
 

Tata Kelola yang Reaktif
 

Rangkaian kejadian ini memperlihatkan pola tata kelola yang bergerak setelah krisis, bukan sebelum.
 

Dalam kerangka manajemen strategik, wilayah industri berisiko tinggi semestinya menerapkan 
Enterprise Risk Management (ERM) yang terintegrasi—identifikasi risiko, mitigasi, monitoring real-time, dan pengendalian lintas sektor. Namun yang terlihat adalah fragmentasi: pengawasan sektoral, data kualitas lingkungan yang tidak real-time dan minim keterbukaan, serta koordinasi 
lintas wilayah yang lambat.
 

Industri kimia dan pengolahan logam adalah sektor berisiko tinggi. Tanpa sistem containment yang ketat, kebakaran tidak berhenti pada api. Ia berpotensi menjadi bencana kimia.
 

Lebih jauh lagi, muncul persoalan klasik agency problem. Pemerintah sebagai regulator (principal) memberi mandat kepada perusahaan (agent) untuk beroperasi sesuai standar. Ketika pengawasan lemah dan sanksi tidak memberikan efek jera, moral hazard menjadi konsekuensi logis. Biaya risiko dialihkan kepada masyarakat.
 

Risiko Reputasi dan Daya Saing
 

Banten diposisikan sebagai tulang punggung industri nasional. Namun reputasi adalah aset strategis yang rapuh. Kontaminasi radioaktif pada produk ekspor, pencemaran sungai, dan paparan bahan kimia pada warga membentuk narasi kawasan berisiko tinggi.
 

Dalam era Environmental, Social, and Governance (ESG), investor global semakin sensitif terhadap rekam jejak lingkungan. Sekali reputasi tercoreng, biaya pembiayaan meningkat, akses pasar menyempit, dan daya saing regional tergerus.

 

Ironisnya, kerusakan lingkungan masih diperlakukan sebagai eksternalitas. Padahal dalam manajemen strategik modern, keberlanjutan bukan beban—ia adalah fondasi keunggulan kompetitif jangka panjang. 

 

Strategi yang Hilang

 

Yang absen adalah integrasi antara strategi pembangunan industri dan daya dukung lingkungan.

 

Pertama, belum terlihat sistem early warning berbasis sensor kualitas air real-time yang terintegrasi lintas daerah. Sungai yang melintasi batas administratif tidak bisa diawasi secara parsial.

 

Kedua, indikator kinerja lingkungan belum menjadi KPI inti manajemen perusahaan. Selama target produksi lebih dominan dibanding target keberlanjutan, risiko ekologis akan selalu berada di pinggir.

 

Ketiga, transparansi publik masih terbatas. Tanpa data terbuka, partisipasi masyarakat dalam

pengawasan menjadi lemah.

 

Antara Pertumbuhan dan Ketahanan

 

Banten tidak kekurangan industri. Yang kurang adalah keberanian menempatkan lingkungan sebagai inti strategi, bukan sekadar lampiran izin.

 

Jika pola ini berlanjut, krisis lingkungan akan bermetamorfosis menjadi krisis kesehatan public

dan pada akhirnya krisis ekonomi. Biaya remediasi selalu lebih mahal daripada pencegahan. Kepercayaan publik selalu lebih sulit dipulihkan dibanding memperbaiki fasilitas fisik.

 

Manajemen strategik mengajarkan bahwa organisasi yang unggul bukan yang paling agresif bertumbuh, melainkan yang paling adaptif terhadap risiko jangka panjang.

 

Pilihan kini berada pada pemangku kebijakan: terus sibuk memadamkan api dan membersihkan racun, atau mulai membangun sistem yang mencegahnya.

 

Karena sungai yang tercemar tidak pernah benar-benar diam. Ia mengalir membawa konsekuensi—hingga ke hilir, dan hingga ke masa depan.

 

Karena itu, isu yang dihadapi Banten bukan hanya tentang penanganan insiden per insiden, melainkan tentang konsistensi strategi. Integrasi antara pembangunan industri dan perlindungan lingkungan perlu ditempatkan sebagai prioritas struktural. Tanpa itu, pola krisis berulang akan terus menggerus kualitas lingkungan, kepercayaan publik, dan daya saing kawasan secara bertahap.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit