Guru Ngaji Dan Pimpinan Ponpes Diminta Bersinergi Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan
TANGERANG - Para guru ngaji, ustad, ustadzah dan para pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) diminta untuk bersama-sama bersinergi dan berkolaborasi mencegah tindak kekerasan terhadap perempuan dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Hal tersebut disampaikan Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, saat membuka acara sosialisasi pencegahan kekerasan kepada perempuan dan TPPO, Selasa (9/6).
“Kami mohon sekali lagi bantuannya kepada para guru ngaji, ustad, ustadzah dan pengelola ponpes, mari kita bergandeng tangan cegah pelanggaran pidana. Jangan pernah lelah dan letih untuk terus mengedukasi masyarakat,” pinta Maesyal Rasyid.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak serta TPPO bukan hanya tindak pidana atau pelanggaran hukum semata, tapi juga merupakan tragedi kemanusiaan yang mencederai norma-norma.
“Kalau ada kejadian seperti ini, bukan urusan pidana atau hukum saja. Persoalan kekerasan itu tidak sekadar pelanggaran hukum pidana, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan yang mencederai norma-norma agama,” ucapnya.
Lanjutnya, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mengalami kenaikan setiap tahunnya harus benar-benar menjadi perhatian bersama semua pihak untuk ditekan dan ditangani bersama.
Guru ngaji, ustad, ustadzah dan para pengelola ponpes sebagai salah satu garda terdepan pembinaan umat diharapkan mampu memberikan sumbangsihnya secara nyata mengatasi berbagai tindakan KDRT yang dapat menghancurkan masa depan generasi penerus.
“Saya minta para guru ngaji, kyai, ustad, ustadzah dan pimpinan ponpes bisa terus memberikan edukasi mengenai keharmonisan rumah tangga, tanggung jawab suami-istri serta pola asuh yang disisipkan dalam setiap ceramahnya. Supaya kita bersama bisa mengurangi kasus yang mengalami penambahan setiap tahunnya,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Bupati Maesyal Rasyid pun mendorong Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk menguatkan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak lintas sektor dalam rangka mendukung pemberdayaan lingkungan pesantren untuk aktivitas bina usaha bagi para santri.
“Nanti kalau ada tanah di ponpes yang nggak dipakai, kita akan bantu upayakan melalui dinas (DP3A) atau dinas terkait lainnya untuk bisa ditanamin holtikultura atau palawija atau bikin bioflok kolam ikan supaya ada kesibukan bagi santri dan guru ngaji dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan,” ujarnya.
Kepala DP3A Kabupaten Tangerang, Asep Suherman menyampaikan, agenda tersebut diharapkan dapat meningkatkan peran para ustad, ustadzah dan ponpes sebagai mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan lingkungan yang aman, ramah perempuan dan anak serta bebas dari segala bentuk kekerasan dan TPPO.
“Tujuan kegiatan ini untuk menaikkan kesadaran dan peran aktif ustad, ustadzah serta ponpes dalam upaya preventif kekerasan terhadap perempuan dan anak serta TPPO melalui penguatan pengetahuan kewaspadaan, edukasi masyarakat serta sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan,” terangnya.
Asep menambahkan, agenda itu menggandeng Kementerian Agama Kabupaten Tangerang, Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Provinsi Banten dan advokat dengan peserta ustad dan ustadzah, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren, tokoh agama, para Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan serta tokoh masyarakat.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 6 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 17 jam yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 3 hari yang lalu


