TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Prabowo Tak Ingin Petani Sawit Dirugikan Permainan Harga

Reporter & Editor : AY
Kamis, 18 Juni 2026 | 20:31 WIB
Mentan Andi Amran Sulaiman saat menghadap Presiden Prabowo. Foto : Ist
Mentan Andi Amran Sulaiman saat menghadap Presiden Prabowo. Foto : Ist

JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan Presiden RI Prabowo Subianto memberi perhatian serius terhadap penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir.


Menurut Amran, Presiden menilai anjloknya harga TBS tidak boleh sampai merugikan petani dan meminta penjelasan langsung terkait kondisi tersebut.


“Beliau menelepon dan menanyakan kenapa terjadi penurunan harga. Saya sampaikan bahwa kondisi ini merupakan anomali,” ujar Amran usai pertemuan dengan Presiden di Istana Negara, Kamis (18/6).


Amran menjelaskan, secara ekonomi penurunan harga TBS dinilai tidak wajar. Sebab, di saat harga minyak sawit mentah (CPO) dunia mengalami kenaikan dan nilai tukar dolar AS menguat sekitar 10 persen, harga yang diterima petani justru turun.


Merespons kondisi itu, Kementerian Pertanian segera mengumpulkan pelaku usaha sawit dari berbagai daerah.

Pertemuan tersebut melibatkan perwakilan sekitar 700 perusahaan dari total 1.900 pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di Indonesia.


Pemerintah menegaskan tidak akan membiarkan petani menjadi pihak yang dirugikan.


“Kami minta jangan bermain-main. Jangan korbankan rakyat. Petani plasma jumlahnya mencapai 15 juta orang, dan bersama keluarganya diperkirakan mencapai 30 juta jiwa,” kata Amran.


Hasil evaluasi pemerintah menunjukkan sebanyak 274 PKS belum menyesuaikan harga TBS sesuai kondisi pasar. Namun setelah dilakukan pembinaan dan pengawasan, sebagian besar perusahaan telah mulai menaikkan harga pembelian.


“Sekarang yang belum menyesuaikan tinggal sekitar 100 perusahaan atau sekitar 5–10 persen,” ujarnya.


Amran menyebut sekitar 90 persen harga TBS telah kembali mendekati kondisi normal dan pemerintah optimistis pemulihan akan terus berlangsung dalam waktu dekat.


Untuk mempercepat penyesuaian harga, Kementan juga menggandeng aparat penegak hukum. Surat telah dikirim kepada Kapolri untuk menindaklanjuti perusahaan yang belum melakukan penyesuaian harga.


Ke depan, pemerintah juga menyiapkan sistem tata niaga ekspor sawit yang lebih terintegrasi guna memperkuat kesejahteraan petani dan menutup potensi kebocoran dalam rantai perdagangan.


“Harapannya sistem satu pintu ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dan menjaga harga TBS tetap sehat,” tutup Amran.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit