Benyamin Wacanakan Pendidikan Informal Gratis untuk Warga Kurang Mampu
SERPONG – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai mewacanakan pengembangan sekolah informal gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Hal itu diungkapkan Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie usai menghadiri acara keagamaan di Masjid Baiturrahmi, Islamic Center, Rabu (24/6).
Ia menerangkan, program ini digagas sebagai upaya memperluas akses pendidikan agar tidak ada anak yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi maupun sarana belajar.
"Ya, kita sudah memfasilitasi 5 ribu anak yang mendapatkan bantuan biaya pendidikan. Nanti saya ingin lagi kembangkan misalnya (seperti konsep) homeschooling," ujar Benyamin kepada awak media.
Ia melanjutkan bahwa dari segi waktu dan tempat, program ini akan memberikan pelayanan pendidikan yang lebih fleksibel dan mudah dijangkau masyarakat.
Sebab menurutnya, pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas formal. Konsep yang tengah dipikirkan adalah penyelenggaraan pendidikan berbasis komunitas dengan model serupa homeschooling yang dapat dilaksanakan di berbagai tempat fasilitas masyarakat.
"Misalnya, sekolahnya mah ngampar aja di emperan misalnya masjid," imbuhnya.
Ia menegaskan, program tersebut ditujukan untuk membantu anak-anak dari keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan agar tetap memperoleh hak pendidikan secara layak.
"Tapi itu resmi, dapat jasa bagi anak-anak yang tidak mampu. Jadi siapapun yang berada di bawah garis kemiskinan misalnya, anak-anaknya tetap dapat difasilitasi sekolah, sekolah-sekolah informal," katanya.
Benyamin menilai konsep pendidikan informal bukan hal baru. Menurutnya, sejumlah inisiatif serupa telah mulai dirintis di masyarakat, termasuk program sekolah lansia yang digagas oleh istrinya.
"Makanya diawali tadi istri saya juga membuat sekolah buat lansia. Itu juga rintisan-rintisan seperti homeschooling lah kalau bahasa awamnya seperti itu," ungkapnya.
Lebih lanjut, Benyamin menjelaskan, konsep pendidikan informal tersebut nantinya tidak bergantung pada keberadaan bangunan sekolah maupun jumlah peserta didik yang besar. Yang terpenting, proses belajar mengajar tetap berjalan dengan dukungan tenaga pendidik dan regulasi yang memadai.
"Tapi ini tempat-tempat yang tidak terikat kepada ruang yang kudu ada ruang kelasnya. Mau tiga, lima, sepuluh anak, udah itu sekolah. Kita sederhanakan implementasi seperti itu supaya lebih banyak lagi. Saya harus menyiapkan guru, saya harus menyiapkan regulasinya," tegasnya.
Melalui wacana tersebut, Pemkot Tangsel berharap semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu yang dapat mengakses pendidikan, sekaligus membuka peluang lahirnya model pembelajaran yang lebih inklusif dan dekat dengan masyarakat.
Pos Banten | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu




