TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Didominasi LSL, Sepanjang 2026 Dinkes Kota Serang Temukan 60 Kasus HIV

Oleh: Ari Supriadi
Editor: Ari Supriadi selected
Kamis, 02 Juli 2026 | 00:15 WIB
Ilustrasi HIV.(Istimewa)
Ilustrasi HIV.(Istimewa)

SERANG - Pada rentang waktu enam bulan sepanjang 2026 terdapat temuan 60 orang yang teridentifikasi mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Serang. Namun secara kumulatif sejak 2017 terdapat 415 orang yang tercatat positif HIV dan sekitar 303 orang dalam proses pengobatan. Dari jumlah tersebut, pasien yang terpapar HIV  didominasi oleh Lelaki Seks Lelaki (LSL) dan Pekerja Seksual (PSK). Sementara penularan HIV melalui jarum suntik sudah tidak lagi ditemukan kasusnya.

 

Ketua Tim Kerja (Katim) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) pada Dinkes Kota Serang, Usep Khudori menjelaskan, secara kumulatif pasien HIV sejak 2017 sebanyak 415 dan sebanyak 303 yang tengah dalam proses pengobatan oleh tim pendampingan.

 

“Kasus HIV di Kota Serang ini didominasi oleh LSL dan WPS (Wanita Pekerja Seks, red) dengan temuan tahun ini sebanyak 60 kasus. Tingginya kasus HIV karena memang Kota Serang ini daerah urban dan perlintasan dari beberapa daerah lain, jadi beberapa temuan itu justru bukan warga Kota Serang,” ujar saat ditemui tangselpos.id di kantornya di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Cipare, Kota Serang, Rabu (1/7/2026) siang.

 

Dikatakan Usep, untuk penanganan kasus HIV pihaknya dibantu oleh non government organization (NGO), yakni Bina Muda Gemilang (BMG) sebagai penjangkau dan Andaru sebagai pendamping pengobatan pasien. “Dalam hal penanganan kasus HIV di Kota Serang ini sama halnya seperti penanganan TBC (Tuberculosis, red), yakni melalui screening, misal screening di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan, red) kemudian visit ke sejumlah tempat hiburan malam yang didampingi oleh organisasi penjangkau tadi,” ujarnya.

 

Jika dalam kegiatan screening tersebut terdapat warga yang reaktif atau terdiagnosis HIV, maka tahap selanjutnya adalah untuk segera dilakukan pengobatan melalui Puskesmas terdekat. “Kendala penanganan HIV ini karena adanya stigma negatif dari masyarakat terhadap penderita HIV. Akhirnya orang yang terdiagnosis HIV ini kadang menutup diri dan ini sulit dijangkau oleh tim medis,” sambung Usep.

 

Berdasarkan pengalaman, kata dia, tidak jarang pasien yang sudah terdata dan masuk dalam jadwal pengobatan Antiretroviral (ARV) itu justru menghilang tanpa kabar dan tidak melanjutkan pengobatan. Padahal seluruh pengobatan bagi pasien HIV itu disediakan secara gratis oleh pemerintah.

 

“Kasus HIV dan TBC ini seperti fenomena gunung es yang nampak kecil di permukaan, padahal besar di bawah. Kasus ini jika dibiarkan akan semakin liar penularannya, karena Kota Serang ini sebagai hilirisasi antara kota dan kabupaten dan pusatnya ada di tengah-tengah ini (Kota Sereng, red). Jadi pasien HIV tidak seluruhnya warga Kota Serang tetapi ada juga warga di luar Kota Serang,” tukasnya.(*)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit