Meraki Cipta Rasa Tembus Pasar Ekspor, Produksi Cireng Capai 8 Ton per Bulan
PAMULANG – Berawal dari usaha cireng yang dirintis secara konvensional, Meraki Cipta Rasa kini berkembang menjadi produsen makanan olahan dengan sekitar 35 jenis produk. Usaha yang berasal dari Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), tersebut tak hanya menyasar pasar dalam negeri, tetapi juga mulai menembus pasar ekspor.
Salah satu owner Meraki Cipta Rasa, Santi Krisantina Hakim, mengatakan puluhan produk yang dipasarkan saat ini didominasi makanan beku atau frozen. Sementara produk kering yang dihasilkan di antaranya abon dan sambal.
Di bawah Meraki Cipta Rasa terdapat dua brand, yakni Pondok Cabai dan Wizz. Pondok Cabai fokus pada produk tradisional dan jajanan Nusantara, seperti cireng, aneka jajanan khas daerah, serta sambal. Sedangkan Wizz mengembangkan produk olahan daging, ikan, dan ayam, seperti sosis, nugget, dan abon.
“Meraki itu dari bahasa Yunani. Artinya mengerjakan sepenuh jiwa. Jadi kita mencipta rasa dengan sepenuh jiwa, itulah intinya,” ujar Santi.
Nama tersebut juga memiliki filosofi yang tergambar pada logo perusahaan. Dua bentuk rumah dalam logo menggambarkan dua keluarga yang menjadi pemilik usaha dan kemudian bergabung membentuk sebuah rumah produksi.
Santi menjelaskan, Meraki Cipta Rasa dibangun oleh dua pasangan suami istri. Selain dirinya bersama almarhum suaminya, Sutejo Fajar Nugroho, terdapat pasangan Meliana dan Redi Ruslan. Keempatnya merupakan teman mengaji yang memiliki visi yang sama dalam mengembangkan usaha.
“Teman ngaji lebih akrab dari saudara. Karena ngajinya lebih sering ketemu. Dan lagi pula kita se-visi. Karena ini bukan cuma menjadi ladang penghasilan, tapi ladang ibadah juga buat kita,” katanya.
Perjalanan usaha tersebut bermula pada 2007 ketika Meliana dan Redi Ruslan mulai memproduksi cireng. Saat itu pemasaran masih dilakukan secara konvensional melalui distributor yang memasok produk ke sekolah-sekolah. Produksi cireng bahkan telah mencapai sekitar 7.000 keping setiap malam.
Namun, pandemi Covid-19 menjadi ujian berat bagi usaha tersebut. Sekolah yang menjadi salah satu pasar utama harus ditutup sehingga permintaan merosot drastis. Distributor pun menghentikan kerja sama.
Kondisi tersebut justru menjadi titik balik bagi Santi untuk bergabung dan membawa strategi baru. Ia mulai mengubah pola pemasaran dari konvensional menjadi digital dengan membangun e-commerce, media sosial, hingga website.
“Saya mengubah strategi. Kalau tadinya offline, saya online-kan semua. Mulai ke digital, e-commerce, media sosial, website saya bangun. Tapi tidak semudah itu,” ungkapnya.
Selain pemasaran, pembenahan dilakukan pada sisi legalitas dan standar produksi. Santi aktif mengurus berbagai perizinan serta mengikuti program pendampingan pemerintah, termasuk sertifikasi halal dan Good Manufacturing Practices (GMP) atau Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik.
“Halal gratis, PIRT gratis. Sampai GMP yang nilainya puluhan juta pun saya ditawarkan. Saya merasa support dari Tangsel luar biasa,” tuturnya.
Selama pandemi, Meraki Cipta Rasa juga melakukan diversifikasi produk. Salah satunya dengan mengembangkan sosis yang dibuat tanpa pengawet, pewarna buatan, MSG, maupun pemutih. Produk tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan mesin produksi yang sudah dimiliki.
Dari berbagai produk yang dikembangkan, cireng tetap menjadi salah satu produk andalan. Jika sebelum pandemi produksinya sekitar 7.000 keping per malam, kini produksi cireng telah mencapai sekitar 8 ton per bulan.
“Kalau cireng sekarang satu bulan itu kita kurang lebih 8 ton. Untuk yang Horeka (hotel, restoran, dan kafe) saja kalau order minimal setengah ton per minggu,” jelas Santi.
Pasar yang dibidik pun tidak hanya konsumen langsung atau business to consumer (B2C). Meraki Cipta Rasa memperkuat pasar business to business (B2B), termasuk melalui kerja sama private label dan white label dengan sejumlah mitra.
Dari kerja sama tersebut, Meraki Cipta Rasa mendapat tantangan untuk mengembangkan berbagai jajanan Nusantara. Produk yang kemudian dikembangkan antara lain lalampa, panada, bakwan, martabak, samosa, hingga sosis solo.
Produk Meraki Cipta Rasa juga telah dipasarkan di sejumlah toko buah dan gerai oleh-oleh. Untuk produk kering seperti abon dan sambal, pemasarannya telah menjangkau sejumlah pasar ritel.

Peluang pasar juga mulai merambah mancanegara. Produk cireng secara rutin telah diekspor ke Papua Nugini, sedangkan abon dikirim ke Hong Kong.
Santi mengaku tidak menyangka cireng justru menjadi produk yang lebih dahulu berhasil menembus pasar ekspor.
“Tidak pernah kebayang bahwa kita ekspor cireng,” katanya.
Untuk pengiriman melalui kepabeanan, ekspor ke Papua Nugini dan Hong Kong saat ini masih dalam skala kecil, sekitar tiga kali dalam setahun. Produk abon bahkan dikirim melalui jalur udara dengan volume di bawah 20 kilogram.
Upaya memperluas pasar luar negeri dilakukan Santi setelah mengikuti Export Coaching Program (ECP). Awalnya, abon menjadi produk yang dibawa untuk ditawarkan ke pasar ekspor. Namun, justru cireng yang mendapat peluang lebih dahulu.
Saat ini, Meraki Cipta Rasa memiliki sekitar 15 pekerja di bagian produksi dan sekitar tiga orang di bagian pemasaran. Perusahaan juga menerapkan sistem kerja hybrid bagi tim kantor yang mayoritas diisi anak muda.
Kantor yang kini berada di Tangsel difokuskan untuk aktivitas pemasaran dan distribusi, sementara proses produksi dilakukan di fasilitas produksi. Pemisahan tersebut dilakukan agar masing-masing fungsi dapat berjalan lebih optimal.
Di tengah perkembangan usaha, Meraki Cipta Rasa masih mengejar penyelesaian sejumlah izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk beberapa produknya. Kelengkapan tersebut menjadi salah satu syarat untuk memperluas pemasaran ke pasar modern.
“Target kita tahun ini, dalam dua sampai tiga bulan ke depan kita harus selesai semuanya,” ujarnya.
Santi menilai perjalanan Meraki Cipta Rasa membuktikan bahwa keberlangsungan sebuah usaha sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Menurutnya, produk yang telah bertahan selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa masyarakat menerima produk tersebut. Namun, cara menjangkau konsumen harus terus menyesuaikan perkembangan zaman.
“Yang pasti yang kita rasakan, dengan hidup sampai saat ini berarti produk kita proven. Terbukti diterima di masyarakat. Cuma bagaimana cara itu sampai ke masyarakat, yang butuh adjustment dari perkembangan zaman,” pungkasnya.
Dukungan Pemerintah Kota Tangsel juga dinilai berperan dalam perjalanan usaha tersebut. Mulai dari legalitas, hak kekayaan intelektual, pemasaran, pengembangan produk, hingga berbagai program kompetisi dan inkubasi bisnis telah diikuti Meraki Cipta Rasa.
Santi tercatat pernah meraih juara pertama Tangsel Digifest 2022 kategori food. Ia juga mendapat penghargaan dari Pertamina Agregator dalam kategori resiliensi.
Kini, setelah suaminya, Sutejo Fajar Nugroho, meninggal dunia pada Mei lalu, peran sebagai komisaris dilanjutkan estafetnya kepada generasi berikutnya, yakni putranya, Handaru Nusapradana.
Bagi Santi, keberlanjutan Meraki Cipta Rasa bukan hanya soal mempertahankan bisnis yang telah dibangun bersama. Usaha tersebut juga diharapkan terus berkembang menjadi wadah untuk menghadirkan produk pangan berkualitas sekaligus membuka peluang bagi generasi penerus.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu




