Musim Kemarau Di Tangsel Dipredikai Sampai September
CIPUTAT-Kota Tangerang Selatan (Tangsel) diprediksi memasuki puncak musim kemarau pada September 2026. Kondisi tersebut membuat curah hujan di wilayah Tangsel diperkirakan tetap rendah, sehingga masyarakat diminta mulai mewaspadai potensi kekeringan dan keterbatasan air bersih.
Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto melalui pernyataan resminya, Selasa (11/8), mengatakan, seluruh wilayah Banten saat ini telah memasuki musim kemarau. Untuk Tangsel, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September.
“Prediksi puncak musim kemarau 2026 di wilayah Banten berada pada bulan Juli hingga September 2026,” ujar Hartanto, Selasa (11/8).
Berdasarkan pemetaan BMKG, Tangsel masuk dalam Zona Musim (ZOM) 168 bersama wilayah selatan Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang bagian tenggara. Wilayah tersebut diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September.
Kondisi atmosfer regional turut berkontribusi terhadap rendahnya curah hujan. Menurunnya aktivitas konvektif di atmosfer membuat pertumbuhan awan hujan ikut berkurang.
“Kondisi atmosfer regional berkontribusi terhadap penurunan curah hujan di wilayah Indonesia termasuk wilayah Banten. Kondisi ini mengurangi aktivitas konvektif di atmosfer sehingga pertumbuhan awan konvektif dan potensi hujan cenderung menurun,” jelasnya.
Untuk periode dasarian II dan III Agustus, curah hujan di Banten secara umum diprediksi berada pada kategori rendah, yakni 0-20 milimeter. Kondisi serupa masih berlanjut hingga dasarian I dan II September.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, terutama berkurangnya ketersediaan air. Penghematan air dan menjaga sumber air bersih perlu dilakukan sejak dini.
“Masyarakat di Provinsi Banten diimbau untuk mewaspadai potensi penurunan curah hujan seiring dengan menguatnya kondisi El Niño,” kata Hartanto.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau serta meningkatkan kekeringan meteorologis. Dampaknya dapat berupa berkurangnya ketersediaan air dan penurunan debit sungai.
“Masyarakat diharapkan melakukan penghematan penggunaan air, menjaga sumber-sumber air bersih, mengoptimalkan irigasi dan distribusi air untuk lahan pertanian, serta tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah secara terbuka,” imbaunya.
Selain Tangsel, sejumlah wilayah Banten juga menghadapi kondisi hari tanpa hujan yang cukup panjang. Wilayah pesisir utara dan selatan didominasi kategori sangat panjang, yakni 31-60 hari. Bahkan, kategori kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari tercatat di sejumlah wilayah Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon dan Kabupaten Lebak.
BMKG juga mengingatkan potensi peningkatan kecepatan angin di Banten bagian selatan. Kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang tinggi lebih dari 2,5 meter di Selat Sunda bagian barat Pandeglang serta perairan selatan Pandeglang dan Lebak.
Sementara, untuk wilayah pesisir utara Kabupaten Tangerang, potensi banjir pesisir atau rob juga perlu diwaspadai. BMKG mencatat potensi rob pada 9-10 Agustus 2026 di wilayah Teluknaga, Mauk dan Kosambi.
Suplai Air Bersih Ke Lokasi Kekeringan Temui Kendala
Sejak Juli, kekeringan mulai dirasakan warga Kampung Keranggan, RT 12/RW 05, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorong Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangsel turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan.
Sarpras PMI Kota Tangsel, Sutikno Yusuf alias Mang Zbenk mengatakan, proses pendistribusian air bersih ke RT 12/RW 05 memiliki tantangan tersendiri. Kondisi geografis dan akses jalan yang sempit membuat kendaraan tangki berukuran besar tidak dapat menjangkau lokasi.
“Untuk RT 12/RW 05 memang tidak bisa masuk mobil tangki besar. Makanya kita menggunakan mobil pickup PMI Tangsel dengan kapasitas toren 1.000 liter,” kata Sutikno.
Untuk menyiasati keterbatasan akses tersebut, PMI Tangsel menggunakan mobil pickup yang telah dilengkapi toren berkapasitas 1.000 liter. Air bersih kemudian dibawa secara bertahap menuju lokasi warga.
Namun, proses pendistribusian air bersih tidak selalu berjalan mulus. Kendaraan PMI Tangsel sempat terperosok ketika melintasi jalan sempit yang menjadi akses menuju permukiman warga.
Petugas pun harus melakukan sejumlah upaya agar kendaraan dapat kembali bergerak. Salah satunya dengan terlebih dahulu mengosongkan air yang berada di dalam toren kendaraan sehingga proses pengangkatan mobil dapat dilakukan.
“Mobil ini dikosongkan terlebih dahulu airnya, baru kita upayakan pengangkatan. Karena jalannya sempit, kendaraan tidak bisa leluasa bergerak,” ujarnya.
Meski menghadapi kendala akses, PMI Tangsel tetap berupaya menjaga distribusi air bersih kepada masyarakat. Dalam sehari, sekitar 4.000 liter air bersih disalurkan ke wilayah tersebut.
Air yang didistribusikan kemudian ditampung di dua toren milik warga yang masing-masing memiliki kapasitas 2.000 liter. Sementara itu, kapasitas toren yang terdapat pada kendaraan PMI hanya 1.000 liter.
Dengan kapasitas tersebut, petugas harus melakukan beberapa kali perjalanan untuk memenuhi kebutuhan dua toren penampungan yang tersedia di lokasi. “Sehari sekitar 4.000 liter yang kita distribusikan. Karena kapasitas toren di mobil 1.000 liter, pengangkutannya memang harus beberapa kali,” jelas Sutikno.
Sutikno menjelaskan, kondisi kekeringan di wilayah Keranggan mulai terjadi sejak pertengahan Juli 2026. Apabila musim kemarau masih berlangsung hingga pertengahan Agustus, ia memperkirakan wilayah yang mengalami kesulitan air bersih berpotensi semakin meluas.
Karena itu, PMI Tangsel mendorong jajaran kelurahan dan kecamatan untuk meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang mulai mengalami keterbatasan pasokan air bersih.
“Untuk sementara imbauan dari PMI lebih kepada pihak kelurahan dan kecamatan agar lebih sering memantau wilayahnya,” katanya.
Menurut Sutikno, respons cepat menjadi hal penting dalam penanganan kebutuhan air bersih masyarakat. Ia meminta proses administrasi tidak menjadi penghambat ketika warga membutuhkan bantuan air.
“Kalau ada pengajuan air bersih, jangan sampai terhambat surat-menyurat. Dahulukan airnya, surat bisa menyusul,” tegasnya.
Ia juga berharap koordinasi antara masyarakat, kelurahan, kecamatan, BPBD, dan PMI dapat terus diperkuat. Koordinasi yang baik dinilai penting agar bantuan air bersih dapat segera dikirim ketika warga mulai mengalami kesulitan mendapatkan air.
Di tengah musim kemarau, distribusi air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi warga Keranggan. Bagi masyarakat yang terdampak, bantuan tersebut bukan hanya sekadar bentuk kepedulian, tetapi menjadi bagian penting untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.(dra)
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 23 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu




