TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Dinkes Minta Warga Waspadai Abu Vulkanik

Bisa Sebabkan Iritasi Mata Hingga Infeksi Saluran Pernapasan

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Selasa, 08 September 2026 | 07:15 WIB
ABU VULKANIK. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel, Fitria Oriza saat menjelaskan partikel abu vulkanik yang berbahaya jika terhirup ke tubuh manusia.
ABU VULKANIK. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel, Fitria Oriza saat menjelaskan partikel abu vulkanik yang berbahaya jika terhirup ke tubuh manusia.

SETU-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang menyelimuti sejumlah wilayah. Meski secara kasat mata jumlah abu yang turun tidak terlalu tebal, material tersebut dinilai perlu diwaspadai karena mengandung partikel silika yang dapat mengganggu kesehatan.

 

 Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel, Fitria Oriza mengatakan, karakteristik abu vulkanik berbeda dengan debu atau abu biasa. Kandungan silika di dalamnya memiliki bentuk partikel yang dapat bersifat tajam dan berpotensi melukai jaringan tubuh ketika masuk ke saluran pernapasan.

 

 “Kalau abu vulkanik ini konsistensinya mengandung silika. Kalau silika itu dilihat melalui mikroskop, gambarnya seperti beling atau kaca. Sehingga kalau masuk ke saluran pernapasan, itu bisa melukai jaringan-jaringan pernapasan. Jadi memang lebih berbahaya dibandingkan abu biasa,” ujarnya, Senin (7/9).

 

 Menurut Fitria, paparan abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi, baik pada saluran pernapasan maupun mata. Jika terhirup dalam jumlah tertentu, partikel tersebut dapat menyebabkan luka-luka kecil atau mikrolesi pada jaringan pernapasan yang kemudian berpotensi memicu infeksi.

 

 “Makanya walaupun abu vulkaniknya tidak terlalu banyak, kita tetap concern terhadap dampaknya. Abu vulkanik bisa menyebabkan iritasi pada pernapasan yang kemudian menimbulkan infeksi saluran pernapasan. Kalau mengenai mata juga bisa menyebabkan iritasi,” jelasnya.

 

 Karena itu, masyarakat diminta tidak menyepelekan paparan abu vulkanik, terutama ketika beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah sederhana yang penting dilakukan untuk mengurangi risiko partikel abu masuk ke saluran pernapasan.

 

 Fitria juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengucek mata apabila terkena abu vulkanik. Sebab, partikel yang memiliki karakteristik menyerupai serpihan kaca tersebut dapat menggores permukaan kornea ketika mata digosok.

 

 “Kalau misalnya abu vulkanik masuk ke mata, jangan dikucek. Lebih baik mata langsung disiram menggunakan air mengalir supaya partikelnya bisa lepas tanpa melukai kornea. Kalau dikucek, justru bisa menyebabkan baret pada kornea dan membuat iritasi mata menjadi lebih parah,” tuturnya.

 

 Selain penggunaan masker, masyarakat terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia (lansia) juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi abu vulkanik masih terjadi.

 

 Langkah tersebut pula yang menjadi salah satu pertimbangan Dinkes dalam mendukung penerapan, seperti pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik. Kebijakan itu dinilai sebagai bentuk pencegahan untuk menekan risiko paparan, khususnya bagi anak-anak yang harus bepergian menggunakan kendaraan menuju sekolah.

 

 “Makanya PJJ untuk anak-anak sekolah direkomendasikan sebagai langkah pencegahan. Kalau mereka terpapar di perjalanan, misalnya menggunakan motor atau kendaraan lainnya, kemudian abu vulkanik masuk ke saluran pernapasan, itu bisa menyebabkan infeksi,” katanya.

 

 Fitria menegaskan, PJJ bukan berarti abu vulkanik secara langsung menjadi penyebab meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Sebab, ISPA dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari virus, alergi hingga penyebab lainnya.

 

 “ISPA ini bukan hanya disebabkan abu vulkanik. Sebelum ada abu vulkanik pun kasus ISPA memang sudah ada dan angkanya cukup tinggi. Bisa karena virus, alergi atau faktor lainnya. Tetapi yang kita lakukan adalah meminimalisir efek akibat paparan abu vulkanik terhadap saluran pernapasan,” ungkapnya.

 

 Dinkes, lanjut Fitria, juga mengantisipasi agar paparan abu vulkanik tidak berkembang menjadi gangguan pernapasan yang lebih berat. Sebab, iritasi yang berlanjut dan infeksi pada saluran pernapasan dapat menimbulkan komplikasi, termasuk pneumonia.

 

 “Yang kita cegah jangan sampai paparan ini menyebabkan infeksi yang lebih lanjut, seperti pneumonia dan lain-lain. Mudah-mudahan kondisi abu vulkanik ini bisa segera reda sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal,” harapnya.

 

 Di sisi lain, Dinkes Tangsel hingga Senin (7/9) belum menemukan adanya peningkatan signifikan kasus ISPA sejak terjadinya erupsi yang menyebabkan abu vulkanik terbawa hingga wilayah Tangsel.

 

 “Untuk sampai detik ini, kita belum ada peningkatan kasus yang signifikan untuk ISPA. Masih seperti minggu-minggu sebelumnya, belum ada peningkatan,” ungkap Fitria.

 

 Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat Dinkes mengendurkan langkah mitigasi. Pencegahan dilakukan sejak awal dengan mengurangi potensi paparan, terutama terhadap anak-anak serta kelompok masyarakat yang lebih rentan.

 

 “Makanya kita melakukan mitigasi bersama Dinas Pendidikan dengan PJJ. Ini sebagai upaya pencegahan supaya anak-anak dan kelompok rentan seperti lansia tetap berada di dalam rumah. Kalau mereka tetap beraktivitas di luar dan terpapar abu secara terus-menerus, kita khawatir ke depannya kasus ISPA bisa meningkat,” jelasnya.

 

 Fitria menyebut, berdasarkan pemantauan hingga pekan ke-34, tercatat sebanyak 4.844 kasus ISPA di Tangsel. Namun, angka tersebut merupakan akumulasi kasus sejak awal tahun hingga akhir pekan lalu, bukan kasus yang seluruhnya berkaitan dengan paparan abu vulkanik.

 

 

 “Untuk ISPA sampai minggu ke-34 atau minggu kemarin ada 4.844 kasus. Tetapi itu kasus kumulatif, dari 1 Januari sampai akhir minggu kemarin. Jadi bukan berarti semuanya disebabkan oleh abu vulkanik,” terangnya.

 

 Kasus tersebut tercatat pada berbagai kelompok usia. Berdasarkan pencatatan dalam Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), tidak terdapat kecenderungan khusus berdasarkan jenis kelamin.

 

 “Untuk usia, kasusnya semua umur. Sedangkan kalau berdasarkan jenis kelamin, di SKDR tidak disebutkan secara khusus laki-laki atau perempuan. Jadi untuk ISPA tidak ada kecenderungan tertentu,” pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit