TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Batik Pekalongan Diboyong ke Washington, Jadi Simbol Persahabatan AS-ASEAN

Reporter: Farhan
Editor: AY
Senin, 21 September 2026 | 10:05 WIB
Dubes AS untuk ASEAN Kevin Kim (kiri) meresmikan lukisan kain batik bertema “250 America” karya pembatik asal Pekalongan Mugi Raharjo (kanan) di kediaman Dubes AS untuk ASEAN, Jakarta. Foto : Ist
Dubes AS untuk ASEAN Kevin Kim (kiri) meresmikan lukisan kain batik bertema “250 America” karya pembatik asal Pekalongan Mugi Raharjo (kanan) di kediaman Dubes AS untuk ASEAN, Jakarta. Foto : Ist

JAKARTA — Batik tulis karya perajin asal Pekalongan, Jawa Tengah, bakal menghiasi koleksi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) di Washington DC. Karya bertajuk “250 America” itu menjadi simbol persahabatan AS dengan negara-negara Asia Tenggara.


Batik tersebut diperkenalkan dalam resepsi di Kediaman Duta Besar AS untuk ASEAN Kevin Kim di Jakarta, Jumat (18/9/2026).


Menariknya, kain batik ini memadukan dua simbol dari kawasan berbeda. Burung elang khas AS disandingkan dengan tangkai padi yang menjadi lambang ASEAN sekaligus menggambarkan kemakmuran masyarakat Asia Tenggara.


Karya tersebut dibuat melalui proses batik tulis oleh perajin Pekalongan, Mugi Raharjo. Menurut Kevin Kim, batik dipilih karena menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia sekaligus medium yang tepat untuk mempertemukan budaya AS dan Asia Tenggara.


“Batik itu indah, dan kita sedang berada di Jakarta, Indonesia. Merayakan budaya Amerika Serikat dan Asia Tenggara secara bersamaan melalui batik adalah hal yang sangat masuk akal,” ujar Kim.


Batik Indonesia bukan hal baru dalam lingkungan diplomatik AS. Kim menyebut Departemen Luar Negeri AS di Washington telah mengoleksi sejumlah karya batik Indonesia sejak era 1930-an hingga 1970-an.


Termasuk di antaranya batik yang dikenakan Presiden AS Ronald Reagan saat berkunjung ke Indonesia pada 1982.


Kini, Kim ingin meneruskan sejarah tersebut dengan membawa karya “250 America” ke Washington. Batik itu rencananya ditempatkan di lokasi yang menonjol sebagai pengingat hubungan AS dengan masyarakat Asia Tenggara.


“Saya akan menggantungnya dan membuatnya tampak menonjol sebagai simbol abadi dari rasa kasih sayang, hubungan antarmasyarakat, serta apresiasi terhadap budaya dan seni kita masing-masing,” katanya.


Bagi Mugi, kepercayaan tersebut menjadi kehormatan sekaligus kebahagiaan. Ia mengaku berupaya menerjemahkan makna 250 tahun kemerdekaan AS melalui motif batik yang mempertemukan dua identitas budaya.


“Merupakan kehormatan dan kebahagiaan bagi saya dapat berada di sini dan mempersembahkan karya Batik US 250. Karya ini dibuat dengan proses batik tulis,” tutur Mugi.


Ia berharap karya tersebut tidak hanya menjadi koleksi seni, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah hubungan AS dan ASEAN.


“Semoga persahabatan Amerika Serikat dan ASEAN semakin kuat, serta membawa kebaikan dan kemakmuran bagi kita semua,” harapnya.


Resepsi itu juga dihadiri para alumni muda program pertukaran Pemerintah AS dari berbagai negara Asia Tenggara. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antarmasyarakat di kawasan.


Kim menilai para alumni program pertukaran merupakan bagian penting dari investasi jangka panjang AS di Asia Tenggara.


“Kami akan terus membuka tangan bagi siapa saja yang ingin bekerja sama,” ujarnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit