Mikroplastik Mengepung Kehidupan: Ada di Air, Makanan hingga Tubuh Manusia
SERPONG - Plastik ternyata tak selalu berakhir sebagai botol, kantong, atau kemasan yang mudah terlihat. Seiring waktu, material tersebut dapat terurai menjadi partikel berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.
Partikel berukuran kecil itu kini ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari air, makanan, hingga udara. Bahkan, sejumlah penelitian telah mendeteksi keberadaan mikroplastik dalam sampel biologis manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan mikroplastik sebagai salah satu emerging contaminants atau pencemar yang terus menjadi perhatian. Manusia dapat terpapar melalui sejumlah jalur, terutama dengan mengonsumsi makanan dan air yang terkontaminasi serta menghirup udara yang mengandung partikel tersebut.
Meski demikian, WHO menegaskan keberadaan mikroplastik tidak serta-merta membuktikan adanya dampak kesehatan tertentu. Tingkat risiko terhadap manusia masih terus diteliti karena terdapat sejumlah kesenjangan data dan ketidakpastian ilmiah.
Salah satu jalur paparan yang banyak dikaji adalah makanan dan minuman. Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2026 terhadap 55 penelitian mengenai mikroplastik dan nanoplastik menunjukkan bahwa partikel tersebut dapat ditemukan di berbagai tahapan rantai makanan dan air.
Paparan dapat terjadi sejak partikel berada di lingkungan, selama proses pengolahan, melalui penggunaan kemasan, hingga makanan dan minuman dikonsumsi.
Lebih jauh, penelitian tersebut mencatat adanya temuan mikroplastik dalam sejumlah sampel biologis manusia, antara lain feses, urine, dan darah.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian yang diterbitkan Scientific Reports pada 2025. Studi tersebut mendeteksi mikroplastik pada sejumlah sampel minuman dan es, sekaligus menunjukkan bahwa makanan dan minuman dapat menjadi salah satu jalur masuknya partikel plastik ke tubuh.
Selain makanan dan minuman, udara juga menjadi sumber paparan yang mendapat perhatian peneliti.
Tinjauan ilmiah dalam Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology menunjukkan manusia kemungkinan terpapar mikroplastik melalui udara, baik di dalam ruangan maupun lingkungan luar.
Namun, para peneliti masih menghadapi keterbatasan data untuk menentukan secara akurat seberapa besar paparan yang dialami manusia serta bagaimana hubungan paparan tersebut dengan risiko kesehatan.
Dengan demikian, mikroplastik belum dapat begitu saja disebut sebagai ancaman kesehatan yang sudah terbukti secara pasti. Bukti mengenai keberadaannya memang semakin banyak, tetapi penelitian mengenai dosis paparan, mekanisme biologis, serta dampak jangka panjang terhadap manusia masih terus berkembang.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan sampah plastik tidak berhenti ketika botol, kantong, atau kemasan dibuang dan tak lagi terlihat. Sebagian material tersebut dapat berubah menjadi partikel sangat kecil yang kemudian berpindah melalui lingkungan dan berpotensi masuk ke rantai makanan, air, serta udara.
Mikroplastik pun menjadi pengingat bahwa jejak plastik dapat bertahan jauh setelah benda asalnya menghilang dari pandangan.
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu





