TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Tembus Rp18.010, BI Perkuat Intervensi Pasar

Reporter: Farhan
Editor: AY
Rabu, 30 September 2026 | 08:16 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Dalam perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah sempat menembus level Rp18.010 per dolar Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya ditutup menguat ke Rp17.960 per dolar AS.


Mengutip data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,03 persen ke posisi Rp17.970 per dolar AS. Tekanan semakin kuat hingga mata uang Garuda menyentuh level Rp18.010 pada perdagangan siang.


Namun, rupiah mampu berbalik arah menjelang penutupan. Mata uang Garuda menguat 40 poin dan berakhir di level Rp17.960 per dolar AS.


Pergerakan rupiah tersebut terjadi di tengah kondisi mata uang Asia yang bergerak bervariasi. Yuan China menguat 0,10 persen, ringgit Malaysia naik 0,09 persen, dan won Korea Selatan terapresiasi 0,14 persen. Sementara peso Filipina melemah 0,06 persen, dolar Singapura turun 0,14 persen, dan yen Jepang terkoreksi 0,02 persen.


Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika mayoritas mata uang negara maju melemah terhadap dolar AS. Euro turun 0,24 persen, poundsterling 0,17 persen, dolar Australia 0,43 persen, dolar Kanada 0,14 persen, dan franc Swiss 0,25 persen.


Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal.


Tekanan tersebut diperkuat kenaikan harga minyak yang mencapai lebih dari 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.


Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Imbasnya, imbal hasil (yield) US Treasury (UST) tenor 10 tahun kembali naik menjadi 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.


“Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” ujar Erwin dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).


BI menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah 0,67 persen.


Di tengah tekanan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia masih relatif kuat. Hingga akhir Agustus 2026, cadangan devisa tercatat meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS.


Erwin menegaskan BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan mekanisme pasar berjalan secara baik sesuai kondisi fundamental perekonomian.


Stabilisasi dilakukan melalui penguatan strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pasar, sekaligus menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan.
BI juga memperkuat instrumen lindung nilai melalui peningkatan insentif untuk transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.


Intervensi di pasar valuta asing akan terus dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.


“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” kata Erwin.


Pemerintah Pantau Rupiah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah. Pemerintah, kata dia, akan mendorong peningkatan ekspor untuk memperkuat penerimaan devisa.


“Kita monitor dulu. Pemerintah tentu kita akan menggenjot ekspor supaya devisa meningkat,” ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/9/2026).


Airlangga mengatakan kondisi fundamental makroekonomi Indonesia masih terjaga. Namun, nilai tukar juga dipengaruhi sentimen dan berbagai faktor eksternal.


“Kalau kita lihat karena kondisi makro cukup baik, kita lihat aja, kan selalu ada faktor di luar fundamental, faktor sentimental kan ada juga. Kita harus mem-balance aja,” tuturnya.
Pemerintah juga belum mengubah asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2027 yang ditetapkan sebesar Rp17.500 per dolar AS.


“Tidak diganti, optimis,” tegas Airlangga.
HSBC Proyeksikan Rupiah di Rp18.000
Sementara itu, HSBC memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS hingga akhir 2026.
Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan ruang pergerakan rupiah hingga akhir tahun relatif terbatas karena waktu yang tersisa sekitar tiga bulan.


HSBC memperkirakan rupiah akan bergerak stabil atau mengalami pelemahan terbatas. Menurut Frederic, tekanan terhadap rupiah lebih banyak mencerminkan penguatan dolar AS secara global ketimbang memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.


“Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed sedang menaikkan suku bunga saat ini dan dolar karena itu mendapat banyak dukungan. Kita melihat penguatan dolar terhadap banyak mata uang, yen Jepang misalnya, Eropa, euro juga,” kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).


Dia menilai penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan berbagai mata uang, termasuk rupiah.
“Ini lebih merupakan cerminan dari kekuatan dolar daripada pada dasarnya kelemahan rupiah,” ujarnya.


Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi harga minyak dunia yang masih tinggi.


Menurutnya, kenaikan harga minyak meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal.

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit