TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Stok Beras Melimpah, Harga Justru Terus Menanjak

Reporter: Farhan
Editor: AY
Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:31 WIB
Gudang Bulog. Foto : Ist
Gudang Bulog. Foto : Ist

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan anomali dalam pergerakan harga beras. Di tengah stok nasional yang disebut melimpah, harga beras justru mengalami kenaikan di berbagai tingkatan.


Data Perum Bulog menunjukkan stok beras nasional mencapai sekitar 4,5 juta ton. Produksi beras juga masih berlangsung di sejumlah daerah meski Indonesia tengah menghadapi dampak El Nino.


BPS memproyeksikan produksi beras pada periode September-November 2026 mencapai 7,06 juta ton.


Namun, kondisi tersebut belum mampu menahan kenaikan harga. Sepanjang September 2026, harga beras di tingkat penggilingan rata-rata naik 0,81 persen dibandingkan Agustus 2026. Jika dibandingkan September 2025, kenaikannya mencapai 6,04 persen.


Berdasarkan jenisnya, beras premium mencatat kenaikan harga paling tinggi secara tahunan. Harga beras premium di tingkat penggilingan naik 0,81 persen secara bulanan dan 10,52 persen secara tahunan.


Sementara itu, harga beras medium meningkat 0,87 persen secara bulanan dan 4,72 persen secara tahunan.
Kenaikan harga juga terjadi di tingkat grosir dan pengecer. BPS mencatat harga beras grosir naik 0,61 persen secara bulanan dan 4,93 persen secara tahunan. Di tingkat pengecer, harga meningkat 0,80 persen secara bulanan dan 3,73 persen secara tahunan.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, angka tersebut merupakan harga rata-rata beras dari berbagai kualitas di seluruh wilayah Indonesia.


Menurutnya, kenaikan harga antara lain dipengaruhi berkurangnya pasokan di tingkat hulu setelah berakhirnya puncak panen raya.


“Terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya,” ujar Ateng dalam rilis data BPS di Jakarta, Kamis (1/10/2026).


Faktor cuaca juga ikut memengaruhi ketersediaan pasokan. Dampak El Nino membatasi aktivitas tanam petani di sejumlah sentra produksi sehingga pasokan gabah yang masuk ke penggilingan ikut mengalami hambatan.
Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya menyoroti dugaan permainan harga beras di pasaran.


Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan mengatakan, kenaikan harga diduga dimanfaatkan oknum tertentu untuk mengambil keuntungan.


“Istilah Pak Kepala Bapanas, mafia yang memanfaatkan kondisi saat ini untuk menaikkan harga,” kata Hermawan, Rabu (30/9/2026).


Hermawan juga menyebut adanya keterbatasan stok beras di sejumlah ritel modern. Kondisi tersebut terjadi setelah sebagian produsen yang menyalurkan beras fortifikasi bermasalah dihentikan produksinya.


Meski demikian, dia memastikan ketersediaan beras premium dan medium di pasar tradisional masih mencukupi.


“Beras premium dan medium di pasar tradisional itu banyak. Yang jadi masalah memang di ritel modern,” ujarnya.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan menindak pihak yang diduga memainkan harga beras.


Amran menyebut Satgas Pangan Polri telah menetapkan 102 tersangka sepanjang 2024 hingga 2026 terkait berbagai praktik yang dinilai merugikan kepentingan pangan nasional.


“Mafia kita beresin. Ini ada mafia, ada 102 tersangka,” tegas Amran.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit