FOMO Menghantui Anak Muda, Ini Dampaknya
SERPONG – Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal dari aktivitas, informasi, dan tren yang diikuti orang lain semakin banyak dialami anak muda. Fenomena ini kian mudah muncul seiring masifnya penggunaan media sosial.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, FOMO merupakan perasaan takut tertinggal dari sesuatu yang baru, seperti berita maupun tren. Media sosial dapat memperkuat perasaan tersebut karena pengguna terus terpapar aktivitas orang lain dan terdorong membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
FOMO bukan sekadar keinginan mengikuti tren. Penelitian terhadap 1.125 orang berusia 17–26 tahun menemukan beberapa kelompok tingkat FOMO. Mereka yang memiliki tingkat FOMO tinggi cenderung lebih sering menggunakan media sosial, kesulitan mengendalikan penggunaannya, serta lebih rentan mengalami penggunaan media sosial yang bermasalah.
Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. FOMO dikaitkan dengan meningkatnya stres, menurunnya rasa percaya diri, terganggunya produktivitas hingga masalah tidur. Kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain juga dapat menimbulkan perasaan bahwa hidup sendiri kurang menarik.
Temuan lain memperlihatkan adanya kaitan antara penggunaan media sosial yang bermasalah dengan kecemasan. Meta-analisis pada 2024 yang melibatkan 252.337 partisipan dari 28 negara menemukan hubungan positif antara penggunaan media sosial bermasalah dengan sejumlah bentuk kecemasan, termasuk FOMO.
Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti media sosial secara otomatis menyebabkan gangguan kecemasan pada setiap orang.
Salah satu cara mengurangi FOMO adalah membatasi waktu menggunakan media sosial. Penelitian terhadap 230 mahasiswa di Amerika Serikat menunjukkan, pembatasan penggunaan media sosial hingga 30 menit per hari selama dua minggu dapat menurunkan FOMO, kecemasan, depresi, dan kesepian dibandingkan kelompok yang tidak menerapkan pembatasan.
Langkah sederhana lainnya antara lain mematikan notifikasi yang tidak penting, menetapkan waktu khusus untuk membuka media sosial, serta mengingat bahwa unggahan di media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga penting. Media sosial tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi dan hiburan, selama pengguna mampu menetapkan batas.
Mengikuti tren bukan masalah. Yang perlu dihindari adalah ketika keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan membuat seseorang kehilangan kendali atas waktu dan kehidupannya sendiri.
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 22 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu





