TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Bangun Budaya Peduli Lingkungan, 75 SD Tangsel Komitmen Ikuti Program Adiwiyata

Reporter & Editor : Redaksi
Rabu, 07 Oktober 2026 | 18:34 WIB
Penandatanganan komitmen Program Adiwiyata tersebut digelar di Gedung Galeri Koperasi dan UMKM Kota Tangsel, Serpong, Rabu (7/10). (Ist)
Penandatanganan komitmen Program Adiwiyata tersebut digelar di Gedung Galeri Koperasi dan UMKM Kota Tangsel, Serpong, Rabu (7/10). (Ist)

SERPONG – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) terus mendorong terbentuknya budaya peduli lingkungan sejak usia dini. Sebanyak 75 sekolah dasar (SD) diikutsertakan dalam Program Adiwiyata dan menandatangani komitmen untuk menerapkan gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah.

 

Sosialisasi sekaligus penandatanganan komitmen Program Adiwiyata tersebut digelar di Gedung Galeri Koperasi dan UMKM Kota Tangsel, Serpong, Rabu (7/10). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas penerapan budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.

 

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, Program Adiwiyata tidak sekadar berkaitan dengan kebersihan sekolah. Program tersebut mendorong seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru hingga staf, untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.

 

"Ya, sekolah Adiwiyata itu merupakan sekolah yang sudah menerapkan program pelestarian lingkungan di sekolahnya masing-masing, di unit-unit sekolahnya masing-masing. Mengajak para guru, para staf, dan juga para pelajar, siswa-siswi, untuk sama-sama melakukan pelestarian lingkungan seperti misalkan penanaman pohon, ya, lalu juga pemilahan sampah, pengolahan sampah organik dan non-organik," ujar Pilar.

 

Menurutnya, penerapan Adiwiyata juga dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan keseharian siswa. Di antaranya bercocok tanam, perikanan, hingga peternakan mini yang dapat sekaligus mendukung ketahanan pangan.

 

Pilar mengatakan, sejumlah sekolah di Tangsel telah menjalankan program serupa dan bahkan menjadi contoh di tingkat nasional. Karena itu, sekolah yang belum mengikuti program tersebut diberikan kesempatan untuk mulai menerapkannya secara bertahap.

 

"Tahun ini ada 75 sekolah dasar yang akan bergabung untuk melakukan komitmen bersama-sama supaya bisa menerapkan program Adiwiyata ini di sekolahnya, mulai dari siswa-siswi, para staf, dan juga para guru. Semuanya harus sama-sama berkomitmen dan konsisten menjaga program ini supaya berjalan," katanya.

 

Pilar menekankan, tujuan utama program tersebut bukan semata-mata mengejar predikat atau penghargaan Adiwiyata. Lebih penting, program itu menjadi sarana membangun kebiasaan mencintai lingkungan yang terbawa hingga siswa berada di luar sekolah.

 

"Ya, jadi kebiasaan mencintai lingkungan hidup ya, menjaga alam dan seisinya itu harus disosialisasikan, harus diajarkan, diterapkan dari mulai usia-usia dini, baik itu tingkat PAUD, SD, dan juga SMP," tuturnya.

 

Menurut Pilar, kebiasaan menjaga lingkungan harus dibangun sejak anak masih kecil. Hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, membawa kembali sampah hingga menemukan tempat pembuangan, serta memilah sampah perlu menjadi kebiasaan sehari-hari.

 

 

Ia menilai sekolah memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan tersebut. Edukasi yang diberikan di sekolah diharapkan tidak berhenti di lingkungan pendidikan, tetapi turut dibawa siswa ke rumah dan lingkungan tempat tinggalnya.

 

"Nah, untuk mengedukasi itu, kita selain orang tua yang kita edukasi, tentu yang paling tepat itu adalah mengedukasi anak-anaknya supaya membiasakan itu sejak usia dini, bahwa sampahmu adalah tanggung jawabmu," ujarnya.

 

Dalam pelaksanaannya, Pilar juga mendorong sekolah memanfaatkan barang yang sudah tersedia sehingga penerapan Adiwiyata tidak harus membutuhkan anggaran besar. Barang bekas maupun material yang tidak terpakai dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lingkungan.

 

"Sebetulnya tidak menggunakan biaya besar. Itu pintar-pintar daripada sekolah, iya kreativitas sekolahnya dan mengajak kebersamaan anak-anaknya," katanya.

 

Ia mencontohkan, ember bekas dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bercocok tanam, pipa yang tidak terpakai bisa digunakan untuk hidroponik, sedangkan wiremesh dapat dimanfaatkan menjadi taman gantung.

 

Menurut Pilar, keterlibatan siswa secara langsung menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran. Merawat tanaman sejak bibit hingga tumbuh, menyiram dan memberi pupuk merupakan aktivitas sederhana yang dapat menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel Bani Khosyatullah mengatakan, keberhasilan Program Adiwiyata membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, terutama sekolah, Dinas Pendidikan dan Forum Adiwiyata.

 

Ia berharap program tersebut tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi benar-benar membentuk budaya menjaga lingkungan yang diterapkan secara konsisten di sekolah.

 

"Yang kami sangat berharap kolaborasi, kemudian mobilisasi dalam rangka pelaksanaan program tersebut. Karena harapan terhadap program Adiwiyata ini tidak mungkin hanya dari tingkat nasional, provinsi, kemudian kembali ke kota," ujarnya.

 

Bani menambahkan, edukasi lingkungan perlu dilakukan sejak usia sekolah agar kepedulian tersebut dapat menjadi kebiasaan hingga mereka dewasa. Menurutnya, sekolah menjadi salah satu tempat penting untuk membentuk perilaku tersebut.

 

 

Lebih lanjut, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kota Tangsel Doni Herawan mengatakan, 75 SD yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan sekolah negeri maupun swasta. Setelah kegiatan untuk jenjang SD, sosialisasi serupa akan dilanjutkan kepada 75 sekolah tingkat SMP.

 

"Jadi target kita 150, hari ini 75 untuk SD, besoknya 75 lagi untuk SMP. Target kita semua yang ikut sekarang ini bisa masuk ke program Adiwiyata," kata Doni.

 

Doni menjelaskan, Program Adiwiyata merupakan program nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup yang menitikberatkan pada gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah.

 

Melalui program tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di rumah.

 

"Program Adiwiyata itu program nasional, Kementerian Lingkungan Hidup. Itu lebih ke gerakan budaya peduli di sekolah. Jadi harapannya para siswa di sekolah itu bisa nanti meneruskan di rumahnya masing-masing untuk lebih peduli lingkungan, olahan sampahnya, kemudian penggunaan tidak menggunakan sampah plastik, kemudian dukung hijauan dan lain-lain," jelasnya.

 

Doni mengatakan, DLH bersama Forum Adiwiyata akan memberikan pendampingan kepada sekolah yang mengikuti program. Pasalnya, terdapat sejumlah persyaratan dan kriteria yang perlu dipenuhi, mulai dari administrasi, komitmen kepala sekolah hingga kegiatan nyata dalam pengelolaan lingkungan.

 

"Prosesnya memang agak panjang. Administrasi, ada penyelesaian administrasi, kemudian komitmen kepala sekolah, kemudian juga apa yang sudah dilakukan sekolah, bahkan banyak poin-poin kriterianya," ungkapnya.

 

Selain sosialisasi, DLH juga akan melakukan pendampingan dengan mendatangi sekolah-sekolah yang telah mengikuti kegiatan. Langkah tersebut dilakukan agar sekolah dapat memahami tahapan program dan tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi persyaratan.

 

Doni menegaskan, keterlibatan Dinas Pendidikan juga penting karena sekolah berada dalam pembinaan dinas tersebut. Kolaborasi dengan Forum Adiwiyata turut diperkuat untuk memastikan penerapan budaya peduli lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.

 

"Harapan kami kalau sudah Dinas Pendidikan masuk, itu bisa berkolaborasi ya dengan kami, bagaimana program ini bisa berjalan, sehingga semua target sekolah di Tangerang Selatan bisa ikut programnya," ujarnya.

 

Menurutnya, keberhasilan program bukan hanya dilihat dari berapa banyak sekolah yang mengikuti atau mendapatkan predikat Adiwiyata. Yang lebih penting adalah terbentuknya perilaku peduli lingkungan yang benar-benar diterapkan oleh warga sekolah dan terbawa hingga ke lingkungan keluarga.

 

"Jadi intinya, kita juga perlu dukungan dari teman-teman jurnalis, teman-teman wartawan. Untuk mempublikasi secara positif ya, program ini bagus untuk usia dini. Karena kalau nggak dibantu sama anak-anak kita, adik-adik kita di sekolah, agak sulit. Bagaimana mengelola lingkungan itu bisa diterapkan di rumah. Di sekolah langsung diterapkan di rumah juga," pungkas Doni.

Epaper
Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit