Houthi Ancam Riyadh, Maskapai Ramai-Ramai Batalkan Penerbangan
RIYADH – Arab Saudi memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga 17 Oktober 2026. Serangan rudal dan drone kelompok Houthi dari Yaman memicu gangguan penerbangan besar-besaran dan membuat sejumlah maskapai membatalkan layanan.
Dikutip dari Channel News Asia, Selasa (13/10/2026), otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan penutupan dilakukan untuk memastikan keamanan dan kesiapan operasional bandara. Pemberitahuan penerbangan menyebut bandara baru akan dibuka kembali pada 18 Oktober pukul 04.00 WIB.
Pada Senin malam, Houthi mengklaim telah menyerang bandara menggunakan rudal balistik. Sebelumnya, Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh. Houthi juga mengklaim menyerang pangkalan udara di Khamis Mushait menggunakan drone, tetapi belum ada konfirmasi langsung dari pihak Saudi.
Dampak serangan meluas ke sektor penerbangan. Perusahaan analitik Cirium mencatat pembatalan penerbangan di seluruh bandara Arab Saudi mencapai 46,4 persen. Data Flightradar24 juga menunjukkan pesawat menghindari Riyadh, meski sejumlah penerbangan masih beroperasi melalui Jeddah.
Sejumlah maskapai internasional ikut menghentikan layanan. Lufthansa Group membatalkan penerbangan ke Riyadh hingga 16 Oktober, Air France-KLM memperpanjang penangguhan hingga akhir Oktober, sementara Etihad Airways juga memperpanjang pembatalan. Delta Air Lines menunda pembukaan rute Atlanta-Riyadh dari 23 Oktober menjadi Maret 2027.
Amerika Serikat dan Uni Eropa turut memperingatkan maskapai agar meningkatkan kewaspadaan saat melintasi wilayah udara Arab Saudi. OPSGROUP menyarankan maskapai menghindari koridor penerbangan selatan Timur Tengah dan memilih rute melalui Asia Tengah. Perubahan jalur ini berpotensi menambah waktu perjalanan dan membatasi akses ke sejumlah pusat penerbangan regional.
Eskalasi konflik juga mengancam aktivitas bisnis Arab Saudi. Sejumlah agenda besar di Riyadh, termasuk konferensi investasi dan Kongres Energi WPC, ikut terdampak. Tekanan tersebut menambah tantangan bagi perekonomian Saudi yang diproyeksikan mengalami kontraksi 3,6 persen tahun ini, antara lain akibat melemahnya sektor minyak.
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




