Harga Minyak Dunia Tembus 106 Dolar, Ancaman Inflasi Membesar
JAKARTA - Harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus 106 dolar AS per barel. Memanasnya konflik di Timur Tengah memperketat kekhawatiran pasokan dan meningkatkan risiko inflasi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Mengutip Reuters, Rabu (14/10/2026), harga minyak Brent naik 89 sen atau 0,8 persen menjadi 106,58 dolar AS per barel pada pukul 07.30 WIB. Kenaikan ini terjadi setelah harga acuan global tersebut terkoreksi 0,9 persen pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 80 sen atau 0,9 persen menjadi 94,94 dolar AS per barel, melanjutkan kenaikan 0,4 persen pada perdagangan sebelumnya.
Lonjakan harga energi dinilai berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong kenaikan harga barang dan jasa. Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Silvana Tenreyro mengatakan, kenaikan harga energi dan komoditas akibat perang dapat memicu inflasi sekaligus menghambat aktivitas ekonomi.
Pernyataan itu disampaikan Tenreyro dalam konferensi pers peluncuran laporan World Economic Outlook di Bangkok, Thailand, Rabu (14/10/2026), sebagaimana dikutip dari laman resmi IMF.
Tekanan serupa juga menjadi perhatian Bank Dunia. Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengungkapkan, lembaganya tengah berdialog dengan sekitar 30 hingga 40 negara untuk membahas kemungkinan bantuan dalam menghadapi guncangan energi dan kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah.
“Tekanan itu ada. Jadi, saya kira dalam beberapa bulan mendatang, akan banyak negara meminta sebagian pendanaan,” kata Banga, dikutip dari Reuters, Rabu (14/10/2026).
Menurut Banga, kenaikan harga solar dan pupuk semakin membebani negara berkembang. Situasi ini kian sulit karena banyak negara memiliki ruang fiskal terbatas dan masih menanggung utang tinggi.
Di pasar keuangan, krisis energi kembali menjadi perhatian investor. Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, menilai gangguan produksi minyak di Teluk Meksiko akibat Badai Isaias turut memperbesar risiko pasokan.
“Berbagai kondisi ini membuat harga minyak bertahan di level tinggi,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026).
Mengantisipasi tekanan pasar, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent pada Desember 2026 menjadi 90 dolar AS per barel, dari sebelumnya 85 dolar AS. Harga WTI diperkirakan rata-rata mencapai 81 dolar AS per barel pada Desember 2026 dan 73 dolar AS per barel pada 2027.
Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, mengatakan kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi turut mendorong harga minyak. Namun, peningkatan ekspor solar Rusia berpotensi meredakan ketatnya pasar.
Kikukawa memperkirakan harga WTI bergerak dalam kisaran 90–100 dolar AS per barel.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menuding kelompok Houthi di Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi untuk mendorong kenaikan harga minyak menjelang pemungutan suara di AS. Tuduhan tersebut disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social, Selasa (13/10/2026).
Harga Minyak Indonesia Ikut Terkerek
Tekanan harga minyak global juga tercermin pada harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan ICP September 2026 sebesar 112,81 dolar AS per barel, melonjak 23,38 dolar AS dibandingkan Agustus yang tercatat 89,43 dolar AS per barel.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, kenaikan tersebut dipicu memanasnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengguncang pasar minyak dunia. Kenaikan juga terjadi pada berbagai acuan harga minyak internasional.
Tekanan pasokan semakin besar setelah serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut. Salah satunya, penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi yang memiliki kapasitas 7 juta barel per hari sebagai langkah pencegahan menyusul serangan drone.
Selain itu, penundaan kuota produksi OPEC+ serta serangan terhadap kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Kenaikan harga dapat meningkatkan biaya impor energi dan menambah tekanan terhadap anggaran subsidi serta kompensasi energi, sekaligus berpotensi merembet ke harga barang dan jasa di dalam negeri.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu




