TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Karhutla Kian Parah, Asap Pekat Picu Krisis Kesehatan

Reporter: Farhan
Editor: AY
Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:32 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

SUMATERA - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan kian mengkhawatirkan. Pagi hari berubah gelap seperti malam, jarak pandang menyusut, dan warga mulai kesulitan bernapas. Dampaknya bahkan meluas hingga sejumlah negara tetangga.


Palembang, Sumatera Selatan, menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah. Pada Kamis (15/10/2026) pagi, jarak pandang hanya berkisar 50–100 meter. Aktivitas warga terganggu, sementara kualitas udara masuk kategori berbahaya.


Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5 di Palembang mencapai 1.134,5 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menembus angka 553, jauh di atas ambang kategori berbahaya, yakni 300.


Kabut asap yang mengepung Palembang selama sekitar sebulan terakhir juga memukul aktivitas ekonomi dan pendidikan. Penumpang ojek daring berkurang, sedangkan sejumlah sekolah meliburkan siswa dan menerapkan pembelajaran daring.


“Bukannya berkurang, tapi semakin pekat. Penumpang berkurang, anak sekolah libur, belajar online,” kata Adi, pengemudi ojek daring di Palembang.
Warga lainnya mengeluhkan kondisi udara yang semakin sulit ditoleransi. Seorang pedagang kue di kawasan Seberang Ulu meminta pembakaran hutan segera dihentikan.


“Pagi ini gelap nian. Tolong jangan bakar hutan lagi,” ujarnya.


Herman, warga Tangga Takat, Palembang, bahkan menyebut jarak pandang di sekitar tempat tinggalnya tidak mencapai 50 meter.


“ Aktivitas terganggu. Pagi-pagi seperti malam saja. Mudah-mudahan yang bakar hutan ditangkap dan sadar,” katanya.


Kondisi serupa terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Langit kerap berubah jingga pekat akibat asap, membuat jarak pandang menurun dan warga mengeluhkan gangguan pernapasan.


Kabut asap juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Pada Rabu (14/10/2026) malam, dua sepeda motor terlibat kecelakaan di persimpangan Jalan Cempaka, Palangka Raya.
Seorang anak berusia sembilan tahun yang dibonceng kakaknya terlempar ke parit. Korban mengalami patah tulang tangan dan kaki.


“Saya sendiri, (korban) berdua sama kakaknya,” kata Hendra Kusuma, salah satu pengendara yang terlibat kecelakaan.


Di Kalimantan Timur, seorang bayi dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami sesak napas. Bayi tersebut sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mulya Medika, Samarinda Seberang. Namun, kaitan langsung antara kematian tersebut dan kabut asap belum dapat dipastikan dari informasi yang tersedia.


ISPA Tembus 277 Ribu Kasus
Dampak kesehatan akibat karhutla juga tercermin dalam data Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota pada enam provinsi terdampak.


Kalimantan Selatan mencatat kasus terbanyak, yakni 73.392 kasus, disusul Sumatera Selatan 72.335 kasus, Kalimantan Barat 52.201 kasus, Riau 31.285 kasus, Kalimantan Tengah 24.101 kasus, dan Kalimantan Timur 23.761 kasus.


Dari total tersebut, sebanyak 62.400 kasus ISPA dialami anak berusia 0–5 tahun. Selain ISPA, gangguan kesehatan lain yang dilaporkan meliputi pneumonia, penyakit mata, dan penyakit kulit.
Kabut asap juga tak lagi menjadi persoalan domestik. Asap dari karhutla di Indonesia dilaporkan berdampak hingga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Timor Leste.


Di Singapura, kualitas udara sempat masuk kategori sangat tidak sehat dengan indeks AQI mencapai 216. Sejumlah sekolah di Malaysia juga diliburkan dan menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat memburuknya kualitas udara.


Sementara itu, di Dili, ibu kota Timor Leste, warga terpaksa mengenakan masker saat beraktivitas di bawah langit kekuningan. Otoritas setempat bahkan meliburkan sekolah selama tiga hari mulai Kamis (15/10/2026).


“Baru-baru ini, polusi di Dili sangat parah. Kami bahkan tidak bisa melihat matahari, polusinya sangat pekat,” ujar warga Dili, Sonya da Costa Soares, seperti dikutip AFP.


Penanganan Dikebut, Korporasi Dibidik
Meluasnya kabut asap mendorong negara-negara ASEAN meningkatkan koordinasi menjelang KTT ASEAN ke-49 di Manila pada November mendatang. Malaysia mengusulkan mekanisme regional untuk menangani persoalan tersebut, sedangkan Singapura membuka kemungkinan menempuh jalur hukum terhadap perusahaan yang diduga bertanggung jawab.


Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, mengatakan pemerintahnya masih mengumpulkan dan meninjau data sebelum menentukan langkah selanjutnya.


Di dalam negeri, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi berjanji mempercepat penanganan karhutla.


“Targetnya as soon as possible, secepat mungkin. Jangan sampai menunggu karena rakyat sudah terdampak,” kata Kristomei di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026).


Selain pemadaman, aparat penegak hukum juga memburu pihak yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkapkan, terdapat 97 laporan terkait karhutla. Sebanyak 92 laporan di antaranya telah naik ke tahap penyidikan, dengan penanganan perkara mulai mengarah kepada korporasi.


“Sudah mengerucut pada korporasi yang sedang kita periksa. Ini sedang dalam proses penyidikan,” tegas Suyudi.


Meski penanganan terus dikebut, pekatnya asap dan tingginya kasus gangguan pernapasan menunjukkan besarnya dampak karhutla terhadap masyarakat. Penegakan hukum terhadap pelaku serta perlindungan kesehatan warga menjadi pekerjaan mendesak di tengah krisis asap yang belum mereda.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit