Ironi Hari Pangan Sedunia: Jutaan Orang Kelaparan, Makanan Terbuang
SERPONG - Peringatan Hari Pangan Sedunia setiap 16 Oktober menyoroti ironi dalam sistem pangan global. Di saat jutaan orang masih kelaparan dan miliaran lainnya kesulitan mengakses makanan bergizi, sebagian besar pangan justru terbuang sia-sia.
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama sejumlah badan PBB memperkirakan sekitar 645 juta orang atau 7,8 persen populasi dunia mengalami kelaparan pada 2025. Sementara itu, sekitar 2,7 miliar orang belum mampu membeli makanan sehat.
Ironi tersebut semakin nyata ketika melihat besarnya pemborosan makanan di berbagai negara. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), dalam publikasi 30 Maret 2026, menyebut sekitar 19 persen makanan yang tersedia bagi konsumen terbuang. Selain itu, sekitar 13 persen makanan hilang setelah panen sebelum mencapai tingkat ritel.
Rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pemborosan makanan, dengan porsi sekitar 60 persen dari total makanan yang terbuang. Sektor layanan makanan menyumbang 28 persen, sedangkan ritel sebesar 12 persen. Angka tersebut mengacu pada estimasi global UNEP sebelumnya.
Pemborosan makanan bukan sekadar persoalan perilaku konsumsi. Setiap makanan yang terbuang juga berarti sumber daya untuk memproduksi, mengangkut, dan menyimpannya ikut terbuang. Penggunaan air, lahan, dan energi menjadi tidak efisien, sementara limbah makanan turut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.
Ketimpangan ini memperlihatkan bahwa persoalan pangan dunia bukan semata-mata soal jumlah produksi. Akses terhadap makanan bergizi, distribusi pangan, dan pengelolaan makanan yang efektif juga menentukan apakah pangan dapat dinikmati secara merata.
Momentum Hari Pangan Sedunia seharusnya tidak berhenti pada kampanye meningkatkan kesadaran. Upaya mengurangi kelaparan perlu berjalan beriringan dengan pencegahan pemborosan makanan, perbaikan distribusi, dan perluasan akses terhadap pangan bergizi.
Sebab, di tengah jutaan orang yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan makan, membiarkan makanan terbuang merupakan ironi yang tidak bisa terus diabaikan.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu




