TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Panas Ekstrem Mengintai, Dehidrasi hingga Heatstroke Ancam Kesehatan

Oleh: Silmi MG
Editor: AY
Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:28 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

SERPONG – Cuaca panas ekstrem bukan sekadar membuat tubuh gerah.

 Paparan suhu tinggi dapat memicu dehidrasi hingga sengatan panas atau heatstroke yang berpotensi mengancam jiwa. Masyarakat diimbau menjaga asupan cairan dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari untuk mencegah gangguan kesehatan.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun di dunia selama periode 2000–2019.

Sebanyak 45 persen di antaranya terjadi di Asia. Paparan panas berlebih juga dapat memperburuk penyakit jantung, diabetes, gangguan ginjal, hingga penyakit pernapasan.


Ancaman tersebut kian perlu diwaspadai menyusul tingginya suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum di beberapa daerah menembus 37 derajat Celsius pada 12–13 Oktober 2026. Lampung mencatat suhu tertinggi mencapai 38,2 derajat Celsius, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masing-masing mencapai 37,8 derajat Celsius.


Suhu tinggi membuat tubuh kehilangan cairan melalui keringat. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, dehidrasi dapat terjadi dengan gejala berupa rasa haus berlebihan, pusing, mulut kering, dan tubuh lemas.


Dalam kondisi lebih parah, paparan panas dapat memicu heatstroke, yakni kondisi darurat medis ketika tubuh kehilangan kemampuan mengendalikan suhu internal. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera karena dapat berakibat fatal.


Untuk menekan risiko tersebut, masyarakat disarankan rutin minum air putih, mengenakan pakaian ringan, serta mencari tempat teduh saat beraktivitas di luar ruangan. Aktivitas fisik berat sebaiknya dikurangi ketika suhu udara sedang tinggi.


Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, dan orang dengan penyakit kronis. Mereka lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan panas.


Di tengah suhu udara yang meningkat, menjaga kecukupan cairan dan mengurangi paparan sinar matahari langsung menjadi langkah penting.

 

 Masyarakat juga perlu mengenali gejala gangguan akibat panas agar dapat segera mengambil tindakan sebelum kondisinya memburuk.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit