TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

RI Jajaki Produksi Alutsista Bareng Tiga Negara

Oleh: Arya MG
Editor: AY
Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:50 WIB
Wakil Menteri Pertahanan RI Yusuf Jauhari (paling kanan) menandatangani nota kesepahaman Badr bersama perwakilan Turki, Qatar, dan Pakistan di Doha, Qatar, pada 21 Oktober 2026. Foto : Ist
Wakil Menteri Pertahanan RI Yusuf Jauhari (paling kanan) menandatangani nota kesepahaman Badr bersama perwakilan Turki, Qatar, dan Pakistan di Doha, Qatar, pada 21 Oktober 2026. Foto : Ist

DOHA — Indonesia memperluas kerja sama industri pertahanan dengan Turki, Qatar, dan Pakistan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Badr. Kesepakatan ini menjadi pintu bagi pengembangan teknologi, produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista), hingga riset dan pelatihan teknis bersama.


Penandatanganan berlangsung di Doha, Qatar, Rabu (21/10). Indonesia diwakili Wakil Menteri Pertahanan Yusuf Jauhari. Hadir pula Menteri Pertahanan Turki Yaşar Güler, Menteri Pertahanan Qatar Sheikh Saud bin Abdulrahman Al Thani, serta Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif.


Kepala Badan Industri Pertahanan Turki, Haluk Görgün, menegaskan bahwa kolaborasi teknologi dan penguatan kapasitas produksi domestik menjadi kunci membangun industri pertahanan yang berkelanjutan.


“Berbagi teknologi, pengembangan bersama, dan penguatan kemampuan produksi dalam negeri menjadi inti industri pertahanan yang berkelanjutan,” ujarnya, dikutip Reuters, 21 Oktober 2026.


Meski membuka peluang kerja sama strategis, MoU Badr belum menguraikan proyek alutsista yang akan digarap, skema produksi, maupun pembagian peran masing-masing negara. Realisasi kerja sama masih bergantung pada tindak lanjut kesepakatan tersebut.


MoU ini juga bukan pakta pertahanan bersama yang mewajibkan negara peserta saling membantu secara militer jika terjadi serangan. Fokus utamanya adalah penguatan industri pertahanan dan pengembangan kemampuan teknologi.


Bagi Indonesia, keberhasilan kerja sama ini akan diukur dari manfaat konkret bagi industri nasional, terutama transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan pengurangan ketergantungan pada alutsista impor. Tanpa proyek yang jelas dan implementasi terukur, kesepakatan tersebut berisiko berhenti sebatas komitmen.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit