TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo
Bagaimana Merawat Kemabruran Haji?

Memelihara Rasa Optimisme

Oleh: Prof. KH. DR. Nasaruddin Umar
Jumat, 05 Agustus 2022 | 10:57 WIB
Prof. KH. DR. Nasaruddin Umar
Prof. KH. DR. Nasaruddin Umar

CIPUTAT - Para jemaah haji seniscayanya memelihara optimismee, kalau perlu menjadi contoh di dalam masyarakat tentang sikap optimismee. Rasa optimisme sangat diidealkan di da­lam Al-Qur’an. Lukman pernah memberikan nasehat kepada putranya:

"Wahai anakku, gantungkanlah harapanmu kepada Allah dengan harapan yang tidak membuat kamu merasa aman dari siksaan. Takutlah karena Allah dengan rasa takut yang tidak menjerumuskan kamu untuk putus asa dari rah­mat Allah, sebab orang mukmin itu mempunyai dua hati; satu hati yang mengharap dan satu hati lagi yang merasa ta­kut. Janganlah putus asa, sebab Tuhan Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Janganlah berangkat tanpa perlengkapan, sebab dalam perjalanan ada hal ketakutan yang dikhawat­irkan.

Lukman mengutip firman Allah SWT,: “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rah­mat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Zumar/39: 53).

Optimismee yang kadang juga diistilahkan dengan peng­harapan (raja’) memiliki beberapa makna. Bisa berari hara­pan, angan-angan, dan bisa juga berarti takut. Raja’ dalam arti harapan, yakni rasa optimismee seorang hamba setelah melakukan bernagai ketaatan dan seara maksimal telah beru­saha menghindarkan diri dari segala larangan. Harapan seperti ini adalah harapan yang terpuji sebagaimana ayat disebutkan di atas.

Ada juga harapan dalam arti angan-anagn, yang dalam bahasa Arab biasa diistilahkan dengan al-tamanna, konotas­inya negatif. Al-tamanna hanya menghabiskan waktu untuk menghayal dan berangan-angan tanpa diiringi usaha yang kongkrit. Nabi menela orang-orang yang suka memanjangkan angan-angan dan banyak menghayal, sebagaimana sabdanya:

“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan atas umatku adalah mengumbar hawa nafsu dan panjang harapan. Mengumbar hawa nafsu akan menutupi kebenaran dan panjang harapan akan melupakan akhirat”.

Dalam hadis lain disebutkan “Aku ada sebagaimana dalam prasangka hamba-Ku, Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam Diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah kumpulan orang banya, maka Aku mengingatnya dalam kumpulan orang banyak yang lebih baik dari itu. Jika ia mendekati-Ku sejarak satu jengkal, Aku mendekatinya se­jarak satu hasta. Jika ia mendekati-Ku sejarak satu hasta, Aku mendekatinya sejarak sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepedanya dengan berlari.”

Raaja’ bisa juga berarti takut, seperti firman Allah SWT: “Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? (QS. Nuh/71: 13). Menurut kalangan ahli tasawuf, pengharapan ialah menggantungkan hati pada sesuatu yang dicintai agar terjadi di masa yang akan datang.

Raja’ diartikan dengan kepercayaaan atas kemurahan Yang Maha Pemurah, mendekatkan hati kepada kemahalembutan Tuhan, menyenangkan hati dengan adanya janji baik, atau hidupnya hati dengan penuh harapan.

Raja’ dalam tulisan ini lebih ditekankan kepada makna pandangan keluasan rahmat Allah SWT. Optimismee tidak akan terwu­jud tanpa disertai rasa takut, sebagaimana rasa takut juga tak akan terwujud tanpa disertai harapan.

Ibarat sepasang sayap, keduanya tak dapat dipisahkan, harapan tanpa rasa takut, akan hilang esensinya. Rasa takut tanpa harapan, esensinya akan terbengkalai dan melahirkan sikap putus asa dari rahmat Allah.

Oleh karena itulah, sebagian ahli hakekat mengatakan, rasa takut dan harapan adalah seperti sepasang suami isteri, salah satu pihak tak berguna tanpa kerja sama antarkeduanya.

Jika diumpamakan sepasang sayap, jika keduanya seirama dan berfungsi normal maka burung akan terbang dengan seimbang. Jika salah satu sayapnya berat, maka terbangnya akan mengalami gangguan. Jika kedua sayapnya hilang, maka burung itu akan jatuh dan jadilah seperti bangkai. Idealnya jika kita merasa perfect, ketaatan sudah dipenuhi dan perbuatan dosa sudah dijauhi maka mood seseorang wajar merasa optimis berharap dengan penuh optimisme.

Sebaliknya ketaatan belum tuntas dan dosa pun dikoleksi, maka wajar jika mood yang bersangkutan merasa takut (khauf). Jangan sampai terbalik, ada orang mrasa raja’ sementara ia berlepotan dosa dan mak­siyat, dan ibadahnya pun kurang.

Sebaliknya jangan juga terus menerus merasa takut sekalipun sudah mengamalkan ajaran agamanya seara sempurna dan sudah lama meninggalkan dunia dosa dan maksiyat. Keseimbangan antara keduanya menentu­kan sukses tidaknya seseorang mengemban amanah sebagai hamba (‘ábid) dan sebagai khalifah di bumi. 

Komentar:
Berita Lainnya
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Berlomba Melakukan Kebaikan
Senin, 08 Agustus 2022
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Senantiasa Bertutur Santun
Minggu, 07 Agustus 2022
KIKI ISWARA DARMAYANA
Berjuang Hadapi Resesi Global
Sabtu, 06 Agustus 2022
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Memelihara Rasa Tawakkal
Senin, 01 Agustus 2022
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Memelihara Tahmid Dan Syukur
Jumat, 29 Juli 2022
Prof. DR. KH. Nasaruddin Umar
Hakekat Thawaf
Senin, 25 Juli 2022
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo