TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

Jakarta Diguyur Bansos

Rakyat Teriak, Harga Beras Dan Ayam Tetap Menggila

Laporan: AY
Sabtu, 09 Maret 2024 | 07:40 WIB
Pj Gubernur DKI Heru Budi (baju putih) saat meninjau pasar murah di Lingkungan Balaikota. Foto : Ist
Pj Gubernur DKI Heru Budi (baju putih) saat meninjau pasar murah di Lingkungan Balaikota. Foto : Ist

JAKARTA - Berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menekan harga beras, belum menuai hasil menggembirakan. Harga komoditas itu ogah turun.
Hal itu diungkapkan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dae­rah (DPRD) Wa Ode Herlina. Bahkan, menurutnya, harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok lainnya juga terus merangkak naik.
“Cukup (ketersediaan pangan) saja tidak cukup, Pak. Untuk menghadapi kondisi sekarang. Yang ngeluh ke kita bukan masyarakat saja, tetapi juga peda­gang. Pedagang bilang, daya beli masyarakat luar biasa minim,” kata Wa Ode saat rapat bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bidang pangan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (6/3/2024).

Dalam rapat membahas Persiapan Ketahanan Pangan Menjelang Bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriyah ini, Wa Ode bilang masyarakat di bawah teriak.

“Tadi pagi, di depan rumah ada ibu-ibu (teriak) kenapa beras tidak turun-turun dari harga Rp 15 ribu per liter. Jadi apa yang dipaparkan ini berbeda dengan kenyataannya. Terus katanya ada Satgas pangan, mana?” cecarnya.
Selain beras, Wa Ode menyebut harga daging ayam mengalami lonjakan. Saat ini, harganya tem­bus Rp 42.000 per kilogram (kg). Politisi PDI Perjuangan ini pun meminta Satgas Pangan Pemprov DKI mengecek harga bahan po­kok, terutama di Pasar Thomas, Gambir, Jakarta Pusat (Jakpus).

“Coba Pak Dirut Food Station bawa Satgas Pangannya, nyamar jadi warga biasa, itu luar biasa harganya. Masyarakat itu tidak tenang,” ujarnya.
Menurut dia, tingginya harga pangan menurunkan daya beli masyarakat. Akibatnya, kebu­tuhan protein bagi masyarakat tidak terpenuhi.

“Langkah taktis apa yang dilakukan untuk mengatasi ini?” tanya dia.

Hal senada dilontarkan Komisi B DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak. Gilbert mendesak Pemprov DKI segera mengevaluasi lonjakan harga kebutuhan pokok.
“Sehubungan dengan bulan Ramadan dan kemudian Lebaran, setiap tahun kita melihat selalu ada kenaikan harga pangan. Jangan masyarakat yang dikorbankan,” ingat Gilber

Gilbert menduga lonjakan harga disebabkan Pemprov DKI menyelenggarakan program Bantuan Sosial (Bansos).
“Artinya Pemerintah melaku­kan program yang tidak mem­perkirakan dampaknya terhadap masyarakat. Ini sebuah kebijakan tak terukur,” ucapnya.
Dia mendorong Pemprov DKI bertindak nyata dengan mengun­jungi seluruh pasar guna mensta­bilkan harga bahan pokok.
Dengan begitu, lanjut Gilbert, Pemprov DKI menyaksikan langsung jeritan warga yang terimbas lonjakan harga tersebut.

“Harga pangan naik gila-gilaan. Kondisi ini membuat kita tidak nyaman,” tuturnya.

Berdasarkan infopangan.ja­karta.go.id per 5 Maret 2024, harga beras berkisar Rp 14.000-Rp 20.000 per kg, telur ayam Rp 32.000-Rp 33.000 per kg, daging ayam Rp 42.000-Rp 60.000 per kg, cabe merah Rp 79.000-Rp 90.000 per kg, dan daging sapi Rp 138.000-Rp 160.000 per kg.

Terus Jaga Pasokan
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, pihaknya akan memenuhi permintaan untuk mengecek langsung harga daging di Pasar Thomas. Eli, sapaan Suharini Eliawati mengakui, ada selisih harga daging di pasar dengan harga yang ditetapkan oleh Perumda Dharma Jaya.

“Pasar Jaya dan Dharma Jaya hari ini jual ayam beratnya 0,9-1 kilo­gram harganya Rp 25.000,” kata Eli.
Dia memastikan harga daging yang dijual oleh BUMD bidang pangan lebih murah dibanding­kan harga pasaran.

Untuk menghindari lonjakan harga semakin menggila, Eli minta warga Jakarta tidak panik dan melakukan aksi borong. Dia menegaskan, Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat sedang beru­paya agar ketersediaan atau stok pangan tetap tercukupi.
“Aksi borong justru itu yang membentuk harga menjadi tinggi,” ujarnya.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Pamri­hadi Wiraryo mengungkapkan, beberapa hal menyebabkan kenaikan harga komoditas beras di Jakarta. Di antaranya, keter­batasan produksi petani akibat anomali cuaca yang berdampak pada berkurangnya hasil panen.

Selain itu, jumlah penggilingan beras di daerah pemasok beras bertambah. Namun jumlah lahan pertanian tidak bertambah. Para penggiling berebut gabah dan akhirnya memicu kenaikan harga jual beras.
“Siklus panen padi sudah masuk masa paceklik dan terjadi pergeseran masa tanam yang harusnya September menjadi Desember,” tandas Wiraryo.
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menegaskan, pihaknya terus berupaya memastikan stok ba­han pokok aman dan inflasi di Jakarta terkendali jelang Rama­dan dan Idul Fitri.

Upaya itu, lanjut Heru, dilakukan pihaknya bersinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Pemerintah pusat, Bank Indo­nesia (BI) DKI Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS), Perum Bulog, hingga Polda Metro Jaya.

“Salah satu langkah konkret untuk menekan inflasi di Jakarta adalah memastikan ketersediaan bahan pangan aman,” kata Heru usai menggelar High Level Meet­ing (HLM) Tim Pengendalian In­flasi Daerah (TPID) di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (6/3/2024).
Heru mengungkapkan, Perum Bulog dan BUMD Food Station menyampaikan stok cukup me­madai untuk kebutuhan di Jakarta.

Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta Arlyana Abubakar mengatakan, inflasi di Jakarta pada Februari 2024 masih terkendali. Yakni 2,12 persen (year on year/yoy). Angka tersebut masih dalam rentang sasaran inflasi, yaitu 2,5±1 persen dan lebih rendah daripada angka nasional sebesar 2,75 persen (yoy).
“Untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri dan Ramadan, kami berkoordinasi untuk meyakinkan bahwa ketersediaan pangan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Pemimpin Wilayah Perum Bu­log Kantor Wilayah DKI Jakarta-Banten Mohamad Alexander juga menyatakan, stok komodi­tas beras tercukupi dengan baik.

“Kami pastikan untuk stok yang dikuasai Bulog saat ini sangat aman. Baik untuk menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadan, Idul Fitri, dan setelahnya,” jelasnya.
Untuk menyikapi situasi harga beras yang mengalami pening­katan, Perum Bulog menyeleng­garakan program Bulog Siaga (Aksi Amankan Harga) yang di­laksanakan di 183 titik di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Yakni, dengan menjual Beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), Beras Premium dan komoditas pangan lainnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo