TangselCity

Ibadah Haji 2024

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

Untuk Pilkada, PDIP Dan Gerindra Mesra

Laporan: AY
Selasa, 14 Mei 2024 | 08:30 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Foto : Ist
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Foto : Ist

JAKARTA - Hubungan PDIP-Gerindra yang kemarin-kemarin renggang karena Pilpres 2024, kini mulai ada tanda-tanda kemesraan. Kedua partai sama-sama melirik jagoan yang sama buat Pilkada. Di Jawa Barat misalnya, mereka sama-sama melirik Ridwan Kamil dan di Jawa Timur, sama-sama kepincut Khofifah Indar Parawansa.
Dalam 3 kali Pilpres, PDIP dan Gerindra selalu berada di posisi bersebrangan. Tak jarang, perbedaan sikap politik itu juga merambah dalam koalisi di Pilkada. Berhadapan di Pilkada Jakarta, berseberangan di Jawa Timur, hingga bersaing di Jawa Barat. 
Namun, dalam Pilkada serentak yang digelar November ini, PDIP-Gerindra menunjukkan sikap yang berbeda. Kedua partai berpotensi bersama untuk mengusung jagoan yang sama. 
Ketertarikan Banteng pada sosok yang juga diincar Gerindra, diungkap Hasto Kristiyanto. Politisi yang menjabat Sekjen PDIP itu menuturkan, saat ini Banteng  tengah menggodok sejumlah nama untuk dicalonkan sebagai Cagub Jabar. 
Yang masuk radar PDIP, yakni politisi PAN Bima Arya, politisi Gerindra Dedi Mulyadi, hingga kader Golkar Ridwan Kamil. "Dengan Pak Ridwan Kamil, kami juga menjalin komunikasi yang baik," kata Hasto, di Jakarta, Senin (135/2024). 

Sejauh ini, Emil-sapaan Ridwan Kamil, memang menjadi calon kuat untuk memimpin Jabar. Tak heran, selain Golkar, partai lain juga banyak yang mengincar Emil. Salah satunya Gerindra. Meskipun sudah punya Dedi Mulyadi, Gerindra juga membuka opsi untuk mengusung Emil. 
Apakah PDIP-Gerindra bakal berkoalisi?  "Ya, sangat mungkin (berkoalisi dengan Golkar dan Gerindra)," tegas Hasto. 

Selain Jabar, daerah yang juga dilirik PDIP adalah Jawa Timur. Calon yang sedang dilirik Banteng adalah Khofifah. Sebagai petahana, Khofifah sudah mengantongi dukungan dari 3 partai. Seperti Gerindra, Golkar, dan Demokrat. 
Hasto menuturkan, selama ini pihaknya sudah berkomunikasi dengan Khofifah terkait Pilgub Jatim.  "Ya Pak Said Abdullah selaku yang ditugaskan di Jawa Timur, melakukan komunikasi yang intens dengan ibu Khofifah, yang tentu saja itu menjadi suatu opsi,” sebut dia. 

Kendati demikian, kata Hasto, PDIP masih menjadikan Khofifah sebagai opsi. Sebab, Banteng akan terlebih dulu berkomunikasi dengan partai lain, sembari melihat potensi diusungnya kader natural. 

"Misalnya dengan PKB, kemudian ada juga dari Golkar yang sudah berkomunikasi, dari Gerindra, sehingga nama-nama saat ini masih pengerucutan, mengingat pendaftaran itu baru dilakukan pada 24 sampai 27 Agustus,” jelas Hasto. 
Khusus untuk Pilkada Jatim, Gerindra secara resmi telah menyatakan dukungannya terhadap Khofifah. Artinya, Gerindra dan PDIP berpeluang mengusung figur yang sama. "Jawa timur sudah selesai, kita fokus pada pemenangan Ibu Khofifah," jelas Muzani. 
Menyoal beberapa wilayah lain, Muzani menjelaskan pihaknya masih menggodok sejumlah nama. Terutama untuk beberapa provinsi di Pulau Jawa, salah satunya DKI Jakarta. 
"Jawa Tengah, Jawa Barat, termasuk DKI Jakarta. Jakarta kita perlu waktu sedikit untuk mengambil kesimpulan siapa yang akan kita majukan," lanjut Wakil Ketua MPR itu. 

Jabar, diakui Muzani, nama Ridwan Kamil juga masuk radar Gerindra. Sekalipun, saat ini calon kuat yang diusung Gerindra adalah Dedi Mulyadi. Sementara untuk beberapa daerah lain, radar Gerindra masih berproses. 

"Arahnya sudah cukup, tetapi ada beberapa pilihan untuk wakil dan seterusnya. Jadi saya kira itu yang sedang dipikirkan sebentar," jelas Muzani. 
Pengamat politik dari Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi menilai, koalisi di tingkat nasional memang tak sama dengan di daerah. Partai yang berseberangan nasional, justru bisa mesra untuk Pilkada. 
Menurutnya, PDIP dan Gerindra yang hubungannya masih renggang, berpeluang untuk "kawin" saat di Pilkada. Kalau itu benar terjadi, kata dia, peluang  rekonsiliasi antar keduanya sangat terbuka untuk di tingkat nasional. 
"Hal ini tentu pada akhirnya akan ditentukan oleh dinamika konstelasi politik. Positioning dalam politik lokal termasuk Pilkada akan menentukan langkah PDI Perjuangan ke depan," ramal Airlangga Pribadi saat dihubungi Rakyat Merdeka. 
"Artinya, peran di luar atau di dalam pemerintahan masih terbuka ruang akan diambil oleh PDI Perjuangan," pungkasnya. 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo