TangselCity

Ibadah Haji 2024

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

Jokowi Jelaskan Situasi Dunia Terkini

500 Juta Orang Terancam Kelaparan

Oleh: Farhan
Sabtu, 06 Juli 2024 | 08:59 WIB
Presiden Jokowi bersama Ibu Negara saat berkunjung ke Sulawesi Selaran. Foto : Ist
Presiden Jokowi bersama Ibu Negara saat berkunjung ke Sulawesi Selaran. Foto : Ist

SULSEL - Presiden Jokowi kembali menyampaikan warning soal ekonomi. Kata dia, situasi global saat ini tak mudah. Ekonomi dunia sedang menghadapi tekanan berat. Di saat yang sama, ada ancaman perubahan iklim yang membuat kekeringan di mana-mana. Karena terjadi kekeringan dan bahan pangan berkurang, sebanyak 500 juta orang di dunia berpotensi terancam kelaparan.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat meresmikan Bendungan Pamukkulu, di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Jumat (5/7/2024). Dalam sambutannya, Kepala Negara menjelaskan, saat ini sedang terjadi penurunan produktivitas bahan pangan. Tak hanya di Indonesia, tapi hampir merata di seluruh dunia. Penyebabnya adalah kekurangan air. Banyak negara dilanda kekeringan.

"Karena semua negara produktivitas pertaniannya turun, produksi berasnya turun, ada potensi 500 juta orang akan kelaparan di seluruh dunia," kata Jokowi, mengingatkan.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menekankan pentingnya pengelolaan air. Kata dia, menghadapi berbagai ancaman itu, Pemerintah tidak diam saja. Pemerintah sudah melakukan berbagai antisipasi. Misalnya, melakukan program pompanisasi di tengah ancaman kekeringan. Program ini membagikan pompa kepada petani untuk mengairi lahan persawahan untuk meningkatkan produktivitas.

Dengan program ini, Jokowi berharap sawah yang biasanya berproduksi satu kali panen menjadi dua kali panen dalam setahun. Untuk yang dua kali panen, bisa menjadi tiga kali.

"Tadi pagi kita membagikan pompa untuk menaikkan air dari sungai ke sawah agar produksi beras kita tidak jatuh, anjlok karena kemungkinan adanya kekeringan panjang," kata Jokowi.

Sebelum meresmikan Bendungan Pamukkulu, Jokowi membagikan 80 pompa di Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Total pompa yang sudah dibagikan sekitar 20 ribu pompa. "Nanti targetnya adalah 70 ribu pompa yang itu akan kita manfaatkan untuk menaikkan produktivitas pertanian kita," sambungnya.

Jokowi berharap, Bendungan Pamukkulu bisa menjadi solusi menjelang musim kemarau panjang mendatang. Bendungan ini juga bermanfaat sebagai sarana untuk pembangkit listrik hingga mereduksi banjir di kawasan. Air dari bendungan tersebut dapat dijadikan untuk air baku, juga untuk pembangkit tenaga listrik.

Bisa juga baik mereduksi-mengurangi banjir, dan yang paling penting adalah untuk irigasi kita, mengairi sawah-sawah yang ada di Kabupaten Takalar dan sekitarnya," katanya.

Bendungan yang dibangun sejak 2017 itu, memiliki daya tampung mencapai 82 juta meter kubik dengan luas genangan 460 hektare. Menurut Jokowi, ini adalah bendungan yang besar dan menghabiskan biaya yang juga sangat besar yaitu Rp 1,6 triliun.

Sebelum meresmikan bendungan, Jokowi mengecek langsung pemberian bantuan pompa di Kabupaten Bantaeng. Jokowi menjelaskan, sawah di daerah tersebut biasanya satu kali panen dalam setahun. Dengan program pompanisasi, Jokowi berharap produksi petani di Bantaeng meningkat.

"Kita harapkan nanti bisa masuk penanaman yang ketiga,” kata Jokowi.

Pompanisasi tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim global. "Arahnya ke sana dan juga untuk mengantisipasi kekeringan panjang yang terjadi di semua negara," lanjut Jokowi.

Terkait swasembada pangan, Jokowi mengatakan, hal tersebut merupakan proses panjang yang dipengaruhi faktor iklim yang tidak menentu. Tidak hanya Indonesia, faktor iklim juga mempengaruhi produktivitas pangan di semua negara.

Di lokasi yang sama, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pompanisasi memungkinkan petani untuk menanam di sepanjang musim. Ia menyebut, pompanisasi merupakan solusi cepat mengantisipasi ancaman iklim seperti kekeringan yang berpotensi besar menurunkan produksi pangan.

“Kita perlu pompanisasi untuk memenuhi air dari sungai ke sawah. Mustahil kita lolos dari krisis pangan kalau solusi cepat ini tidak kita lakukan. Ingat, saat ini ada 50 negara yang mengalami kelaparan. Jangan sampai kita mengalami hal yang sama,” ujar Amran.

Amran menerangkan, Pemerintah telah menargetkan capaian swasembada dan juga lumbung pangan dunia agar bisa dicapai dalam waktu cepat. Untuk itu, fokus kerja yang sedang dilakukan adalah memasang pompanisasi, mencetak sawah, hingga mentransformasi pertanian tradisional ke pertanian modern.

“Dulu kita swasembada, 2017, 2019 dan 2020. Dan yang kita kerjakan ini adalah produk kebijakan serta kolaborasi bersama.” kata dia.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo