TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Loyalis Puan Rapatkan Barisan Di Senayan

Namanya Dewan Kolonel Ngumpulnya Di Lantai 7

Laporan: AY
Rabu, 21 September 2022 | 08:32 WIB
(Foto : Istimewa)
(Foto : Istimewa)

JAKARTA - Ternyata, ikhtiar para Banteng Senayan untuk mendongkrak elektabilitas Puan Maharani, gencar dilakukan. Mereka rajin ngumpul lantai 7, Gedung Nusantara I, Kompleks DPR, hingga tercetus ide membentuk "Dewan Kolonel."

Dewan Kolonel ini bermula dari celetukan Johan Budi sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu. Mantan Juru Bicara KPK yang kini duduk di Komisi III DPR dari Fraksi PDIP itu, berkeinginan melakukan sesuatu untuk menunjukkan loyalitasnya ke Puan.

Saat bertemu rekan-rekannya di ruang Pimpinan Fraksi PDIP, ia mengusulkan pembentukan Dewan Kolonel. Trimedya Panjaitan ditunjuk sebagai koordinatornya. Keberadaan Dewan Kolonel ini pun kemudian santer jadi buah bibir di kalangan Fraksi PDIP.

Johan membenarkan keberadaan Dewan Kolonel ini. Ia mengklaim, inisiasinya itu sudah mendapat restu dari Puan.

"Mbak Puan setuju," kata mantan Juru Bicara Presiden itu, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Berapa orang anggotanya? Hitungan Johan, ada sekitar 12 orang. Enam di antaranya disebutkan satu-persatu.

"Trimedya, Pak Hendrawan (Hendrawan Supratikno), Masinton (Masinton Pasaribu), pokoknya ada enam. Mbak Agustin (Agustina Wilujeng Pramestuti). Jadi, awal itu cuma enam orang. Termasuk saya, kan saya yang ngusulin," sebutnya.

Ia menjelaskan, Dewan Kolonel ini juga punya jenderal. Jenderalnya adalah Ketua Fraksi PDIP Utut Adianto dan Ketua Komisi III Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul.

"Ini saya cerita sebenarnya," lanjutnya.

Lalu siapa prajuritnya? Menurut Johan, prajuritnya adalah anggota Fraksi PDIP di setiap Komisi. Ada 128 Banteng duduk di Senayan.

Sejauh ini, program Dewan Kolonel ini baru pada tahapan mensosialisasikan sosok Puan sebagai cucu Bung Karno dan Ketua DPR lengkap dengan prestasi-prestasinya setiap turun ke Dapil.

Poskonya juga sudah ada sekitar sebulan yang lalu. Tapi Johan mengaku belum pernah ke sana. Mereka lebih sering ngumpul di lantai 7, Gedung Nusantara I, Kompleks DPR, yang merupakan ruang Fraksi PDIP.

"Sementara ini kita rapat-rapatnya kalau nggak ada tugas di sini, tapi nggak selalu lengkap kan. Siapa gitu naik ke atas ke lantai 7 (ruang Fraksi PDIP), diskusi," terangnya.

Koordinator Dewan Kolonel Trimedya Panjaitan mengatakan, misi timnya ini adalah mewangikan Puan, sembari menunggu keputusan Ketua Umum PDIP Soekarnoputri terkait siapa yang akan didukung sebagai calon presiden (capres) di 2024.

"Kalau bahasanya Pacul (Bambang Pacul) kan bagaimana mewangikan Mbak Puan di dapil kita masing-masing," kata Trimed, kemarin.

Tetapi, jika keputusan Mega bukan Puan yang didukung PDIP sebagai Capres atau Cawapres di 2024, Trimed memastikan pihaknya akan tegak lurus dengan keputusan tersebut.

"Apa pun bagi kami, ya Mbak Puan, sebelum Ibu memutuskan lain. Kalau Ibu putuskan lain, ya kami tentu tegak lurus," tegasnya.

mengaku, punya alasan tersendiri kenapa mendukung Puan. Menurutnya, PDIP tidak gampang diarahkan jika bukan dari trah Soekarno. Ia juga tidak ikhlas jika suatu saat PDIP berubah menjadi seperti Golkar. Partai yang dibangun dari nol oleh Soeharto, tapi kini keluarganya tak lagi dianggap oleh Beringin.

Politisi senior PDIP Hendrawan Supratikno, yang namanya juga muncul di Dewan Kolonel, meminta agar keberadaan tim tersebut jangan terlalu dibesar-besarkan. Meskipun dari namanya, Dewan Kolonel ini diakuinya terkesan seru. Padahal, tujuannya adalah untuk berbagi informasi dan gagasan antarkomisi jelang pesta politik 2014.

"Menganalisis berbagai fenomena dan peristiwa politik yang relevan, dan mempersiapkan hal-hal yang perlu disarankan via pimpinan fraksi," kata Hendrawan, kemarin.

Bambang Pacul yang didapuk sebagai Jenderal dari Dewan Kolonel ini malah menyebut tim yang diinisiasi para loyalis Puan itu hanya guyonan belaka. Tak cuma Dewan Kolonel, Dewan Sersan juga mencuat saat ngobrol-ngobrol seru di ruang depan lantai 7.

"Itu kan guyonan. Mereka cuma guyonan di situ. Yang beri nama Dewan Kolonel itu kan Pak Johan Budi," kata Sekretaris Fraksi PDIP DPR ini.

Ia juga mengaku dijuluki macam-macam sama anggotanya di DPR. Mulai dari Brigjen hingga Jenderal.

"Nggak sekalian jenderal bintang lima, saya bilang. Ketawa-ketawa aja," sambungnya.

Kendati demikian, ia menilai wajar-wajar saja jika ada dukungan yang mengalir dari anggota Fraksi PDIP agar Puan untuk maju sebagai capres.

"Sebab, Puan dianggap 'komandan' di parlemen," ucap Ketua Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP ini.

Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio meyakini, keberadaan Dewan Kolonel ini cukup efektif mendongkrak popularitas maupun elektabilitas Puan. Apalagi setiap anggota DPR punya basis massa di akar rumput yang bisa digerakkan.

"Wah efektif itu, bagus itu. Bukan cuma kolonel itu, ada Dewan Jenderalnya juga. Jadi di Jawa Tengah itu, ada komandan bintang tiga dan komandan bintang dua. Jadi nggak apa-apa juga dibikin seperti itu," kata pria yang akrab disapa Hensat ini, tadi malam.

Menurutnya, Dewan Jenderal, Dewan Kolonel, maupun Dewan Sersan, yang dibentuk bisa saja sebagai struktur di internal PDIP.

"Karena Puan itu memang digerakkan oleh struktur PDIP, dibentuk strukturnya seperti itu, boleh-boleh aja gua bilang sih," tambahnya.

Pengamat komunikasi politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin juga menilai Dewan Kolonel ini sah-sah saja dibentuk sebagai ikhtiar untuk mengatrol elektabilitas Puan. Namun, ia belum bisa menakar efektivitasnya.

Efektivitas dari tim ini baru ketahuan minimal setelah 100 hari berjalan. Barometernya bisa dilihat dari hasil survei lembaga yang independen. Namun demikian, tanpa Dewan Kolonel pun, Puan kata Ujang, punya alat lain yang lebih ampuh untuk mendongkrak elektabilitasnya.

"Yang paling ampuh sebetulnya adalah bagaimana mengatrol jabatannya sebagai Ketua DPR dengan kebijakan yang pro rakyat," kata Ujang tadi malam. (rm.id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo