TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2025

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers

Delapan Persen

Oleh: Dahlan Iskan
Editor: Redaksi
Kamis, 17 Juli 2025 | 10:20 WIB
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan

SERPONG - Saya sering memikirkan ini: mengapa Presiden Prabowo mencanangkan pertumbuhan ekonomi harus delapan persen. Saya tentu juga memikirkan ''bisa'' atau ''tidak bisa'' mencapainya. Tapi saya lebih fokus pada mengapa Presiden Prabowo ngotot dengan pertumbuhan delapan persen.

 

Tidak mungkin itu hanya karena emosi –agar kelihatan lebih gagah dibanding presiden-presiden sebelumnya. Juga tidak mungkin Presiden Prabowo tidak tahu angka delapan itu sulit sekali dicapai. Apalagi –seperti dirumorkan di kalangan politikus– itu hanya ''takhayul angka delapan'' karena Gerindra nomor delapan. Prabowo bukan orang yang mudah percaya takhayul.

 

Saat ke Perth pekan lalu saya mulai terbuka pikiran. Terutama setelah diskusi dengan para calon doktor di kampus U-dab –University of Western Australia (Baca Disway kemarin :Jebakan U-dab). Ternyata kita sedang dalam persoalan besar. Kalau tidak bisa tumbuh delapan persen kita terjebak dalam middle income trap.

 

Berarti angka delapan persen itu datang dari keprihatinan presiden yang amat mendalam soal keadaan bangsa saat ini.

 

Yang sedang terjadi, kita berada di jebakan yang menakutkan. Sudah lebih 10 tahun publik intelektual mengingatkan itu: awas kita bisa kena jebakan batman –seperti yang dialami Argentina.

 

Kalau sampai jebakan itu melilit bangsa Indonesia akibatnya Anda sudah tahu: kita akan berputar-putar di sini saja. Tidak akan bisa beranjak ke tahap berikutnya: menuju negara maju.

 

Maka di balik angka delapan persen, dugaan saya, adalah kesadaran akan tibanya jebakan yang menakutkan itu. Pilihannya tinggal tumbuh delapan persen atau masuk jebakan.

 

Di Disway kemarin saya sudah melaporkannya: para calon doktor itu sudah berkesimpulan kita sudah berada di dalam jebakan. Bukan ''akan''. Untuk keluar dari jebakan, GDP per kapita kita harus USD 13.000. Tidak ada jalan lain: pertumbuhan kita harus di atas delapan persen.

 

Selama 10 tahun terakhir GDP per kapita kita ternyata tidak pernah naik. Berhenti. Bahkan turun. Dari USD 5.000 dolar ke USD 4.200 atau USD 4.500. Di balik gegap gempita berbagai kemajuan, ternyata data statistik GDP per kapita kita bicara lain.

 

Maka tumbuh delapan persen harus. Tapi mencapainya tidak mudah. Apalagi kalau semua pihak pesimistis dengan angka itu. Tahun 2025 tinggal separonya.

 

Sudah banyak jalan keluar diuraikan di Disway kemarin. Masih bisa ditambah sektor pariwisata –agar menyedot turis asing kian banyak. Pariwisata. Pariwisata. Pariwisata.

 

Rasanya kita perlu melupakan politik. Perlu satu komando. Bergerak di segala lini ekonomi. Dalam politik lebih baik ada yang mengalah daripada 280 juta orang masuk dalam jebakan.

 

Tapi politik terlalu mengasyikkan. Jangan-jangan banyak yang suka bila kita terjebak di dalamnya.

Komentar:
Berita Lainnya
Ist.
Wali Kota Wali Jiwa
Jumat, 29 Agustus 2025
Dahlan Iskan
Tionghoa Sholehah
Kamis, 28 Agustus 2025
Dahlan Iskan
Hijrah Riba
Rabu, 27 Agustus 2025
Ilustrasi. Foto : Ist
Catatan Muhamad Akbar
Rabu, 27 Agustus 2025
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si.  Foto : Dok. Pribadi
Membaca Demo 25 Agustus 2025
Selasa, 26 Agustus 2025
Prof. Dr. Muhadam Labolo, Guru Besar IPDN.(Dok. Pribadi)
Integritas, Harta Karun yang Hilang
Senin, 25 Agustus 2025
ePaper Edisi 01 September 2025
Berita Populer
01
Bhayangkara FC Kalahkan Persis Solo 2-0

Olahraga | 2 hari yang lalu

02
PSBS Biak Vs Persik, Tuan Rumah Kalah 1-2

Olahraga | 2 hari yang lalu

03
Inter Milan Makin Gahar

Olahraga | 19 jam yang lalu

GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit