TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo
Kualitas Udara Ibu Kota Buruk

DKI Waspadai Penyakit ISPA, Jantung & Kanker

Laporan: AY
Sabtu, 01 Oktober 2022 | 08:06 WIB
Kualitas udara Ibukota yang polusi. (Ist)
Kualitas udara Ibukota yang polusi. (Ist)

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan deteksi dini penyakit masyarakat akibat buruknya polusi udara di Ibu Kota. Sebab, masalah itu berpotensi menyebabkan sejumlah penyakit tidak menular seperti gangguan pernapasan, penyakit jantung, dan kanker.

Sanitarian Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Siti Suwanti menuturkan, deteksi dini tersebut dilakukan bertujuan untuk mempercepat penanganan pasien yang terpapar penyakit akibat polusi udara.

“Kami gencar melakukan pemeriksaan untuk penyakit tidak menular, seperti akibat polusi udara ini. Program ini kami lakukan di Puskesmas hingga tingkat RW,” katanya di Jakarta, Kamis (29/9).

Dia menerangkan, penyakit yang disebabkan polusi udara antara lain, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), tuberkulosis (TBC), jantung, dan penyakit paru-paru kronis. Kemudian, dampak langsung terpapar polusi yakni iritasi mata dan hidung.

Menurut Siti, selain mengganggu kesehatan, polusi udara memberikan kerugian secara ekonomi.

“Salah satunya, biaya pengobatan yang besar apabila terjangkit penyakit tersebut,” imbuhnya.

Saat ini polusi udara di Jakarta sebagian besar dihasilkan dari aktivitas manusia seperti emisi dari kendaraan bermotor, pabrik, rumah tangga hingga pembakaran sampah.

Dinkes DKI mengimbau masyarakat ikut berpartisipasi mengurangi polusi dengan menggunakan transportasi umum massal.

Guru besar Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Budi Haryanto mengungkapkan, sekitar 60 persen penyakit tidak menular disebabkan pencemaran udara.

“Data dari publikasi ilmiah daring Our World, jumlah kematian terbanyak di dunia seperti jantung, kanker dan penyakit pernapasan, itu kontribusi dari pencemaran udara. Ini harus menjadi perhatian serius,” ingatnya.

Budi menerangkan, publikasi ilmiah itu sangat masuk akal. Karena, setiap detik manusia bernafas.

"Kita tidak bisa memilih udara apa yang kita hirup. Sehingga semua udara di sekitar kita masuk ke dalam paru-paru,” paparnya

Dia memastikan, udara kotor yang mengandung karbon monoksida, ozon, sulfur, hidrogen dioksida, merkuri dan logam berat, membahayakan manusia.

“Jika ingin berkegiatan di luar ruangan, luangkan waktu untuk melihat ramalan cuaca dan lihat tingkat polusi udaranya. Selain itu, memakai masker ketika beraktivitas di wilayah polusi berat dan langsung mandi ketika pulang ke rumah,” saran Budi.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto menuturkan, dampak polusi udara terhadap kesehatan terbagi dua. Pertama akut, sifatnya langsung muncul atau jangka pendek. Kedua, kronik atau sifatnya menahun.

“Kalau orang kena polusi terus, sebenarnya sering muncul gejala akut. Tapi tidak dirasakan. Misalnya, kalau melewati suatu daerah berpolusi, mata akan merah. Terus hidung akan berair, bersin, sakit tenggorokan, dan muncul rasa tidak nyaman,” ujarnya.

Data menunjukkan, orang-orang yang berada di daerah polusi cenderung lebih tinggi mengalami ISPA. Risikonya lebih tinggi jika dibandingkan dengan penduduk di daerah yang memiliki tingkat polusi lebih rendah.

“Ketika polutannya naik melebihi nilai biasanya, jumlah serangan yang masuk ke Istalasi Gawat Darurat lebih tinggi. Jadi itu menunjukkan dampak akut pada orang-orang yang sudah punya penyakit paru-paru. Serangan lebih sering muncul ketika polusi meningkat,” terangnya.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan Air Quality Life Index (AQLI) yang dikembangkan Institut Kebijakan Energi dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, polusi udara memberi pengaruh terhadap angka harapan hidup di Jakarta.

Dalam laporan pada Juni 2022, AQLI mengungkapkan polusi udara di Jakarta mendorong penduduknya kehilangan tiga hingga empat tahun harapan hidup pada 2020.

Banyak Rencana Minim Aksi

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menilai, Pemprov DKI Jakarta punya banyak rencana tapi minim aksi untuk mengatasi polusi udara di Ibu Kota.

Sebab, dalam seminggu terakhir, situs IQAir mencatat udara di Jakarta berada dalam kategori merah dan oranye. Kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat.

Anggota DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai, Pemprov DKI kurang serius menangani masalah pencemaran udara.

“Tidak ada aksi nyata dari Pemprov untuk mengatasi masalah tersebut,” ungkapnya.

Menurut Gilbert, polusi udara ini mengurangi angka harapan hidup sebesar 4 tahun dan lebih berbahaya dari AIDS dan penyakit lainnya. Gilbert pun mendesak agar polusi udara ini segera diatasi dengan aksi nyata, bukan retorika.

“Tidak perlu menata kata untuk memberi penjelasan soal penyebab dan hal lainnya, tetapi yang diperlukan adalah tindakan. Jakarta butuh pemimpin, bukan pejabat. Seorang pemimpin seharusnya bekerja dengan hati demi rakyat, bukan harus diberitahu,” tandasnya.

Anggota DPRD DKI lain Justin Adrian mengatakan, Pemprov DKI Jakarta terkesan tidak serius mengatasi polusi udara. Padahal, Jakarta memiliki kemampuan finansial dan peraturan yang mumpuni.

“Sumber utama polusi udara di Jakarta itu kendaraan dan industri. Jadi, dua sumber masalah tersebut yang harus diatasi,” ungkapnya.

Justin mendesak, Dinas Lingkungan Hidup (LH) untuk memperbanyak uji emisi gratis.

“Semua kendaraan yang menghasilkan polusi atau gas buang di luar ambang batas tidak semestinya dibiarkan,” ujar anggota Komisi D dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

Justin meminta Dinas LH melakukan pengecekan Analisa Dampak Lingkungan semua pabrik dan tempat usaha yang menghasilkan polusi udara di Jakarta.

Di areal yang terdapat kegiatan usaha itu juga harus dipasang alat ukur partikulat atau pencemaran udara yang dapat dilihat oleh masyarakat umum. Kemudian, Dinas LH mesti menindak tegas pelaku usaha yang diduga ikut mengakibatkan polusi di luar batas toleran. (rm id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo