Bangun Teba Organik, Camat Pondok Aren Ajak Warga Kelola Sampah dari Sumbernya
PONDOK AREN — Persoalan sampah yang kian menumpuk di Kota Tangerang Selatan tak bisa lagi hanya diselesaikan dengan mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di Kecamatan Pondok Aren, upaya penanganan itu kini diarahkan langsung ke sumbernya, yakni rumah tangga, melalui pembangunan Teba Sampah Organik berbasis gotong royong bersama warga.
Teba berasal dari bahasa Bali yang berarti bagian bawah/belakang rumah. Teba merupakan teknologi sederhana yang dimanfaatkan untuk pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga. Teba dibuat seperti lubang mirip sumur untuk mengompos sampah organik menjadi pupuk.
Camat Pondok Aren, Hendra mengatakan, Teba dinilai dapat menjadi solusi dalam menuntaskan permasalahan sampah dari sumbernya.
“Memang dengan kondisi yang kita hadapi sekarang, persoalan sampah ini sebenarnya harus diselesaikan dari sumbernya. Banyak penggiat lingkungan di beberapa RW yang sudah membuktikan, warganya bisa memilah dan mengolah sampah sendiri sehingga tidak dibuang ke TPA,” ujar Hendra kepada Tangsel Pos, Selasa (13/1).
Pembangunan Teba Organik ini, kata Hendra, akan terus ditularkan ke seluruh warganya. Sehingga inovasi ini bisa menjadi upaya berbasis masyarakat.
"Ini yang akan kita dorong, ke semua RW ke semua RT. Ibaratnya kan gini, kita di kecamatan juga sudah membangun. Harapannya tentu dapat menjadi contoh bagi warga masyarakat," harapnya.
Selain Teba untuk menekan produksi sampah organik, Kecamatan Pondok Aren juga mendorong pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah agar seluruh jenis sampah dapat ditangani secara berimbang.
Hendra mencontohkan bank sampah yang telah berjalan di wilayah Klaster Camar Pinguin, Pondok Betung. Dari sekitar 700 rumah di kawasan tersebut, baru 40 rumah yang aktif berpartisipasi. Meski demikian, jumlah sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan tergolong signifikan.
“Dari 40 rumah saja, dalam sebulan bisa terkumpul sekitar 900 kilogram sampah anorganik. Kalau seluruh 700 rumah ikut, potensi pengurangannya bisa mencapai sekitar 15 ton per bulan yang tidak perlu dibuang ke TPA,” jelasnya.
Menurutnya, sampah anorganik yang dikelola melalui bank sampah tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dijual ke pengepul.
“Organiknya diselesaikan dengan Teba, anorganiknya lewat bank sampah. Kalau ini berjalan, sampah tidak lagi jadi masalah, bahkan bisa menghasilkan,” katanya.
Ke depan, Hendra berencana melakukan road show ke seluruh wilayah di Kecamatan Pondok Aren untuk mendorong setiap RW memiliki minimal satu bank sampah. Pihak kecamatan juga akan menetapkan pengurus bank sampah melalui surat keputusan agar memiliki tanggung jawab yang jelas.
“Memang kesadarannya belum besar, tapi ini harus terus didorong. Sampah itu tanggung jawab bersama. Kalau tidak dipaksa untuk sadar, sulit bergerak,” pungkasnya.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 13 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 14 jam yang lalu


