Dindikbud Minta Sekolah Lebih Peka Cegah Kekerasan Terhadap Anak
CIPUTAT – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan mengumpulkan seluruh kepala sekolah dari jenjang SD hingga SMP, untuk menekankan penguatan pengawasan lingkungan sekolah serta pencegahan kekerasan terhadap anak.
Kepala Dindikbud Kota Tangsel, Deden Deni, mengatakan ada dua poin utama yang ditekankan dalam pertemuan tersebut. Pertama, terkait pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Kedua, menyikapi situasi yang tengah menjadi perhatian publik akibat adanya kejadian di salah satu SD di wilayah Tangsel.
“Hari ini kami mengumpulkan seluruh kepala sekolah. Kami mengajak para kepala sekolah agar lebih peka dan lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan sekolah masing-masing,” ujar Deden, Jumat (23/1).
Ia mencontohkan, perubahan perilaku siswa harus menjadi perhatian serius pihak sekolah. Anak yang biasanya ceria lalu tiba-tiba menjadi murung, menurutnya, harus segera ditelusuri penyebabnya.
“Misalnya ada anak yang berubah perilakunya, itu harus dipastikan apa yang sedang terjadi pada anak tersebut,” tegasnya.
Selain itu, Dindikbud juga mendorong sekolah untuk kembali mengaktifkan pelibatan orang tua melalui kegiatan parenting secara rutin, minimal satu bulan sekali. Menurut Deden, kesinambungan pendidikan antara sekolah dan rumah sangat penting.
“Anak berada di sekolah sekitar 7 sampai 8 jam atau sepertiga hari. Sisanya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ini harus sejalan agar pendidikan anak benar-benar maksimal,” jelasnya.
Terkait kejadian di salah satu SD, Deden memastikan pihaknya memberikan perhatian serius.
“Kalau sebelumnya mengacu pada Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, sekarang sudah terbit Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman. Substansinya sama, tapi pendekatannya lebih persuasif dan menekankan pencegahan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pencegahan kekerasan di sekolah tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru, kepala sekolah, dan seluruh warga satuan pendidikan. Deden bahkan mengingatkan agar warga sekolah tidak mudah tertipu oleh sikap baik yang tidak wajar.
“Kami mengajak untuk lebih waspada dan ‘curiga’ dalam arti positif, jika ada perilaku yang berbeda atau cenderung aneh dari siapa pun di lingkungan sekolah,” katanya.
Ke depan, Dindikbud Tangsel juga merencanakan asesmen terhadap guru yang kemungkinan dilakukan satu hingga dua kali dalam setahun. Asesmen ini mencakup kondisi kesehatan fisik hingga mental dan kejiwaan guru.
“Ini bagian dari upaya pencegahan terjadinya kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan sekolah,” jelas Deden.
Ia menambahkan, imbauan agar orang tua dan siswa tidak takut melapor terus disampaikan. Edukasi juga dilakukan langsung kepada siswa melalui berbagai program, salah satunya Jaksa Masuk Sekolah.
“Anak-anak diedukasi agar berani melapor. Bahkan ada siswa yang akhirnya berani menyampaikan pengalaman yang selama ini dipendam,” ujarnya.
Menurut Deden, edukasi terkait bahaya perundungan dan kekerasan dilakukan secara berkelanjutan, baik kepada siswa maupun guru. Setiap hari, melalui pembiasaan di sekolah, termasuk pada jam pelajaran pertama, siswa terus diingatkan untuk berani berbicara dan mengadu.
“Lebih baik dilaporkan daripada menjadi beban psikologis bagi anak. Fokus utama kita adalah pencegahan,” pungkasnya.
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu


