Penanganan Sampah Jadi Prioritas Musrenbang di Kelurahan Cipayung
CIPAYUNG – Penanganan sampah menjadi prioritas utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat. Dari total pagu anggaran sebesar Rp3,14 miliar, sebagian besar diarahkan untuk program pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada pengelolaan lingkungan, terutama dalam upaya penyelesaian masalah sampah.
Lurah Cipayung, Dini Nurlianti, mengatakan pagu anggaran tersebut dibagi dengan komposisi 60 persen dan 40 persen antara pemberdayaan dan pembangunan fisik. Fokus utamanya adalah penyelesaian persoalan sampah serta penguatan pemberdayaan warga, sementara porsi sarana dan prasarana fisik dibuat lebih selektif.
“Orientasinya pertama penyelesaian masalah sampah, yang kedua pemberdayaan. Untuk sarana prasarana tetap ada, tapi tidak terlalu banyak. Kami mengarahkan program 2027 lebih ke pemberdayaan,” ujar Dini usai forum Musrenbang tersebut di kantornya, Senin (26/1).
Berkaitan dengan penanganan sampah, sejumlah usulan disampaikan masyarakat.
"Untuk Bank Sampah tentunya. Terutama mesin pencacah kita butuh. Mesin pencacah kita ajuin tadi kurang lebih sekitar 5 sampai 10 unit. Masuk F1 di RW 10 tadi. Karena di sana memang ada bank sampah yang bagus. Lalu kendaraan roda tiga kita juga ajukan," paparnya.
Selain usulan berupa pengadaan barang, warga Cipayung juga mengusulkan sejumlah program pemberdayaan lain yang berkaitan dengan pengelolaan sampah.
“Pemberdayaan paling banyak, bagaimana pengelolaan dan penyelesaian masalah sampah, seperti komposter, teba, dan biopori. Untuk teba komposter Alhamdulillah masuk ke F1” ungkapnya.
Selain itu, program unggulan lainnya yang diusulkan adalah pengembangan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kolong di bawah kolong flyover. Program tersebut dianggarkan hingga Rp200 juta dan akan dikembangkan menjadi kawasan produktif berbasis pertanian perkotaan.
“Kita mulai dari pertanian dulu dengan konsep hidroponik. Tahap awal fokus satu kegiatan, nanti bisa dikembangkan ke sektor lain seperti perikanan,” jelasnya.
Pemilihan TBM Kolong sebagai prioritas, lanjut Dini, didasari kondisi kawasan kolong flyover yang dinilai belum tertata optimal, khususnya di sisi ujung flyover ke arah Jakarta.
“Makanya TBM Kolong kami ajukan secara independen, langsung dari kelurahan. Harapannya kawasan itu bisa tertata dan produktif,” katanya.
Selain TBM Kolong, Musrenbang Kelurahan Cipayung juga menekankan penguatan kelompok masyarakat, seperti kelompok tani, kelompok wanita tani, serta bank sampah.
Sementara itu dari sisi infrastruktur, terdapat juga berbagai usulan berkaitan dengan beberapa sektor pembangunan.
“Infrastruktur tetap ada, seperti pengaspalan, drainase, dan bedah rumah. Alhamdulillah masih bisa dimasukkan dari sisa anggaran,” paparnya.
Dini mengakui, dalam proses Musrenbang masih ditemukan kendala teknis, khususnya terkait kesesuaian usulan warga dengan kamus usulan pada Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).
“Kadang usulan warga tidak sesuai dengan kamus usulan, sehingga tidak bisa langsung diinput ke sistem,” jelasnya.
Meski demikian, ia memastikan proses perapian usulan terus dilakukan agar program prioritas dapat terakomodasi dengan baik.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu


