Warga Tangsel Curhat Suarakan Udara Bersih
CIPUTAT-Persoalan polusi udara dan praktik pembakaran sampah masih menjadi keluhan serius warga Kota Tangerang Selatan. Isu tersebut mengemuka dalam forum diskusi Biru Talks bertajuk 'Curhat Warga Tangsel Cari Solusi Polusi' yang digelar Bicara Udara atau Yayasan Udara Anak Bangsa bekerjasama dengan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), di Ciputat.
Forum ini menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan warga, akademisi, dan tenaga medis untuk membahas dampak polusi udara terhadap kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UPJ dan Yayasan Udara Anak Bangsa sebagai bentuk komitmen kolaborasi advokasi lingkungan.
Rektor UPJ, Prof. Elisabeth Rukmini menegaskan, pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan publik berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, kampus harus hadir sebagai ruang dialog yang mempertemukan riset akademik dengan pengalaman nyata masyarakat.
“Isu polusi udara berdampak langsung pada kesehatan dan kehidupan sehari-hari. Kampus memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang diskusi yang inklusif dan berbasis data,” ujarnya, Minggu (1/2).
Dalam sesi pemaparan, Dr. Ir. Resdiansyah, dosen UPJ sekaligus Wakil Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, menyoroti kontribusi sektor transportasi terhadap peningkatan polusi udara di Tangerang Selatan. Ia menyebut pertumbuhan kendaraan pribadi, kemacetan, serta belum optimalnya integrasi transportasi publik sebagai faktor utama meningkatnya emisi di wilayah perkotaan.
“Polusi udara dari sektor transportasi berkaitan erat dengan pola mobilitas warga. Selama jumlah kendaraan terus bertambah tanpa didukung sistem transportasi rendah emisi, dampaknya akan terus dirasakan masyarakat,” katanya.
Sementara, dari sisi kesehatan, Feni Fitriani Taufik mengingatkan, bahaya pembakaran sampah terhadap sistem pernapasan. Asap pembakaran sampah mengandung partikel halus dan zat beracun yang dapat masuk hingga ke alveoli paru-paru.
“Paparan asap pembakaran sampah secara berulang meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan ibu hamil,” jelasnya.
Usai sesi paparan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menjadi inti forum. Warga dibagi ke dalam tiga kelompok untuk membahas pengalaman pengelolaan sampah, praktik pembakaran sampah di lingkungan sekitar, serta efektivitas pelaporan kepada pihak berwenang. Diskusi difasilitasi oleh tim Universitas Pembangunan Jaya.
Dalam FGD tersebut, warga mengungkap berbagai kendala, mulai dari kebiasaan masyarakat, keterbatasan layanan pengangkutan sampah, hingga minimnya tindak lanjut atas laporan pembakaran sampah. Peserta juga merumuskan langkah-langkah realistis yang dapat dilakukan di tingkat komunitas dengan dukungan kebijakan dan fasilitas dari pemerintah daerah.
Hasil diskusi kemudian dirangkum dalam bentuk petisi dan rekomendasi warga yang memuat tuntutan pengendalian pembakaran sampah, penurunan emisi transportasi, serta pemenuhan hak masyarakat atas udara bersih.
Melalui forum Biru Talks, Bicara Udara bersama UPJ berharap suara warga ini dapat memperkuat advokasi kebijakan lingkungan serta mendorong langkah konkret Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam melindungi kesehatan publik dari dampak polusi udara.
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 10 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu


