TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Makna Munggahan dan Ruwahan: Tradisi Nusantara dalam Menyambut Ramadan

Oleh: Andy Hadiyanto
Editor: AY selected
Rabu, 11 Februari 2026 | 10:47 WIB
Tradisi ruwahan di Jawa. Foto : Ist
Tradisi ruwahan di Jawa. Foto : Ist

SERPONG – Ramadan dalam ajaran Islam bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah. Ia adalah momentum spiritual yang selalu disambut dengan kegembiraan, harapan, dan kesiapan batin. Rasulullah SAW telah menanamkan semangat tersebut sejak dini. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa kegembiraan atas datangnya Ramadan bernilai amat tinggi, bahkan menjadi jalan menuju surga. Dalam riwayat lain ditegaskan, siapa yang berpuasa dengan iman dan penuh kesadaran akan memperoleh ampunan atas dosa-dosanya.

 

Karena itu, Rasulullah tidak menunggu Ramadan tiba begitu saja. Beliau membiasakan umatnya mempersiapkan diri sejak bulan Rajab dan Sya’ban, memperbanyak doa dan menumbuhkan optimisme. Awal bulan disambut dengan harapan akan keselamatan, keberkahan, dan keteguhan iman. Pesan yang hendak ditegaskan jelas: Ramadan harus disambut secara sadar, bukan sekadar dilewati sebagai rutinitas tahunan.

 

Semangat penyambutan inilah yang kemudian diekspresikan umat Islam dalam beragam bentuk, sesuai dengan konteks sosial dan budaya masing-masing. Di Nusantara—khususnya di tanah Jawa—para ulama merumuskan ekspresi simbolik yang dikenal dengan istilah munggahan dan ruwahan.

 

Antara Agama dan Budaya

 

Sebagian kalangan memandang munggahan sebagai tradisi yang tidak memiliki dasar keagamaan, bahkan dicurigai sebagai bid‘ah. Cara pandang semacam ini lahir dari pemahaman yang menyempitkan agama pada satu bentuk budaya tertentu.

 

Seolah-olah ekspresi keberagamaan yang sah hanyalah yang identik dengan budaya Arab pada masa Nabi. Padahal, jika logika ini diterapkan secara konsisten, maka penggunaan bahasa non-Arab, pakaian non-Arab, hingga ragam kuliner yang berbeda pun seharusnya dipersoalkan. Faktanya, Islam tidak pernah menuntut keseragaman budaya.

 

Islam hadir sebagai agama yang menghargai keragaman ekspresi manusia selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan nilai akhlak. Dalam sejarahnya, Islam tidak menghapus budaya, melainkan memberikan makna baru dan arah yang lebih luhur. Tradisi menjadi medium dakwah, bukan lawannya.

 

Yang dinilai dalam Islam bukan semata bentuk lahiriah, melainkan niat, nilai, serta dampak moral yang ditimbulkan. Jika sebuah tradisi memuat semangat persiapan ibadah, penyucian jiwa, penguatan silaturahmi, serta perbaikan relasi sosial, maka ia sejalan dengan tujuan luhur syariat.

 

Munggahan: Naik Kelas Secara Spiritual

Secara etimologis, munggah berarti naik. Maknanya sangat filosofis: menjelang Ramadan, manusia diajak untuk menaikkan kualitas dirinya. Dari pribadi yang larut dalam kesibukan memenuhi kebutuhan material menuju insan yang lebih sadar makna, lebih mampu mengendalikan diri, dan lebih bertanggung jawab secara spiritual.

 

Munggahan menjadi simbol bahwa Ramadan tidak layak disambut dengan jiwa yang kotor—dipenuhi dendam, ambisi berlebihan, dan kerakusan duniawi. Ia mengajak manusia “naik kelas”: dari sekadar hidup menuju hidup yang bernilai dan bermakna.

 

Dalam praktik budaya Nusantara, munggahan kerap diisi dengan ziarah kubur dan tradisi saling memaafkan. Ziarah kubur menghadirkan pengingat paling jujur tentang keterbatasan hidup. Ia meruntuhkan ilusi keabadian dunia dan mengembalikan manusia pada kesadaran akan tujuan akhir kehidupannya. Rasulullah menyebut orang yang cerdas sebagai mereka yang mampu mengendalikan diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.

 

Adapun makan bersama dan saling memaafkan menjadi cara membersihkan penyakit-penyakit hati dalam relasi sosial: dendam, iri, luka batin, serta ego yang membatu. Tanpa pembersihan ini, Ramadan berisiko menjadi ritual individual yang kering dari dampak sosialnya.

 

Ruwahan: Menghidupkan Dimensi Ruhani

 

Ruwahan berasal dari kata ruh. Tradisi ini menegaskan bahwa keberhasilan puasa sangat ditentukan oleh kesiapan dan kesehatan ruhani, bukan semata kesiapan fisik. Tubuh yang sehat memang penting, tetapi ruh yang lalai atau sakit akan membuat puasa kehilangan daya transformasinya.

 

Ruwahan mengajak umat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, bertafakur, dan melakukan evaluasi diri. Ia menjadi momentum introspeksi sebelum memasuki Ramadan, agar bulan suci tidak dijalani dengan jiwa yang lelah, melainkan dengan batin yang siap ditempa.

 

Tanpa persiapan ruhani, puasa mudah tereduksi menjadi rutinitas tahunan. Namun dengan kesiapan batin, Ramadan dapat benar-benar menjadi bulan pembentukan karakter, bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur.

 

Penutup

 

Dengan demikian, munggahan dan ruwahan bukanlah tradisi kosong atau praktik yang menyimpang dari ajaran agama. Keduanya merupakan bahasa budaya untuk menyampaikan pesan spiritual Islam: menyambut Ramadan dengan kesadaran, kegembiraan, dan kesiapan untuk berubah.

 

Tradisi boleh beragam, tetapi tujuannya tetap sama: agar Ramadan tidak hanya datang, melainkan benar-benar menghidupkan.

 

Andy Hadiyanto

Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Negeri Jakarta (UNJ)/Ketua Umum Assosiasi Dosen PAI se Indonesia (ADPISI)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit