Sembako Di Awal Ramadan, Harga Masih Relatif Stabil
JAKARTA - Harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan di awal Ramadan. Meski demikian, pemerintah memastikan harganya masih relatif stabil. Pemerintah juga sudah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk mengendalikan gejolak di pasar.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, mayoritas harga sembako tercatat merangkak naik. Cabe rawit merah naik 9,54 persen menjadi Rp 83.850 per kilogram (kg). Cabe merah keriting juga meningkat 8,16 persen menjadi Rp 50.350 per kg.
Harga bawang merah naik 5,68 persen menjadi Rp 46.500 per kg. Bawang putih ukuran sedang turut naik 1,35 persen menjadi Rp 41.350 per kg. Beras kualitas bawah I tercatat naik 3,13 persen menjadi Rp 14.850 per kg, sedangkan beras kualitas bawah II meningkat 4,55 persen menjadi Rp 15.100 per kg.
Kenaikan juga terjadi pada daging ayam ras yang naik 2,18 persen menjadi Rp 42.150 per kg. Daging sapi kualitas I meningkat 1,74 persen menjadi Rp 145.900 per kg, sementara daging sapi kualitas II naik 2,83 persen menjadi Rp 139.400 per kg.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan Budi Susanto menegaskan, akan terus memantau pergerakan harga. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, masih terdapat sejumlah komoditas yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), meski secara umum harga bahan pokok dinilai relatif stabil.
“Ada memang yang di atas HET, misalnya MinyaKita. Hari ini harganya Rp 16.020 per liter, padahal HET-nya Rp 15.700 per liter,” ujar Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Namun, menurut dia, harga tersebut sudah lebih baik dibandingkan sebelum dilakukan intervensi, yang sempat menyentuh Rp 16.800 per liter.
“Sekarang sudah mengalami penurunan,” katanya.
Komoditas lain yang masih berada di atas HET adalah telur ayam, yang mencapai Rp 30.750 per kg, sementara HET ditetapkan Rp 30.000 per kg. Sementara itu, sejumlah komoditas lain masih berada di bawah HET, seperti daging sapi yang dijual Rp 133.618 per kg (HET Rp 140.000 per kg) serta bawang putih Rp 36.875 per kg (HET Rp 38.000 per kg).
Budi memastikan pemerintah telah menyiapkan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas harga. Langkah pertama adalah memastikan ketersediaan pasokan.
“Kami sudah mengumpulkan para pelaku usaha untuk memastikan pasokan tersedia. Dari hasil pertemuan, pasokan dinyatakan aman dan tidak ada masalah,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga memastikan kelancaran distribusi pangan dan komoditas strategis hingga ke pasar-pasar, dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah. “Kami terus memantau agar tidak ada lonjakan harga. Jika terjadi kenaikan, akan dicari penyebabnya,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyebut, kenaikan harga sejumlah komoditas dipicu kendala teknis distribusi.
Ia mencontohkan, produksi cabe rawit sebenarnya dalam kondisi aman. Namun, curah hujan tinggi menyebabkan tenaga kerja kesulitan memanen karena risiko cabe cepat busuk. Selain itu, periode libur juga turut memengaruhi distribusi dan harga.
Untuk mempercepat stabilisasi, Bapanas mengoptimalkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), termasuk membantu menekan ongkos angkut dari sentra produksi ke Jakarta yang saat ini berkisar Rp 9.000–Rp 10.000 per kg.
Dengan peningkatan pasokan dan intervensi biaya distribusi, harga di tingkat pasar induk mulai terkoreksi dan diharapkan segera diikuti stabilisasi di pasar eceran.
Di sisi pengawasan, Satgas Pangan Polri telah melaksanakan 15.923 kegiatan pemantauan harga dan distribusi pangan selama periode 5–16 Februari 2026. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga, ketersediaan, dan mutu pangan selama Ramadan.
Kepala Satgas Pangan Polri Brigjen Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan pemantauan dilakukan bersama kementerian/lembaga dalam Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Pemantauan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari produsen, distributor, ritel modern, pasar rakyat, hingga pengecer,” ujarnya.
Dari hasil pengawasan tersebut, petugas menerbitkan 207 surat teguran kepada pelaku usaha yang terbukti melanggar. Selain itu, dilakukan 32 uji sampel produk pangan untuk memastikan keamanan dan mutu barang yang beredar. Satgas juga merekomendasikan pencabutan satu izin usaha serta dua izin edar produk yang tidak memenuhi ketentuan.
Ade Safri menegaskan, pengawasan akan terus diperketat selama Ramadan guna mencegah praktik penimbunan dan permainan harga yang merugikan masyarakat.
“Ini untuk memastikan harga tetap stabil dan pasokan pangan aman selama meningkatnya permintaan kebutuhan pokok,” katanya
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu




