Harga Minyak Melonjak Imbas Perang AS–Israel vs Iran, Pemerintah Cari Sumber Alternatif
JAKARTA - Harga minyak dunia meroket tajam setelah konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan global. Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, membuat pasar bergejolak.
Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 13 persen hingga menembus 82 dolar AS per barel—tertinggi sejak Januari 2025—sebelum bergerak di kisaran 78–80 dolar AS. Sementara itu, WTI diperdagangkan di atas 72 dolar AS per barel.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik dan menyiapkan langkah mitigasi. Melalui PT Pertamina (Persero), Indonesia menjajaki suplai dari negara non-Timur Tengah, termasuk kerja sama dengan perusahaan migas asal AS.
Presiden Prabowo Subianto juga memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mengantisipasi dampak terhadap pasokan dalam negeri, mengingat Indonesia masih mengimpor minyak.
Dari sisi fiskal, lonjakan harga minyak berpotensi menekan APBN 2026. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel di atas asumsi pemerintah dapat menambah beban negara sekitar Rp10,3 triliun. Jika harga menembus 90–100 dolar AS per barel, defisit anggaran diperkirakan semakin melebar.
Pemerintah pun didorong segera mengambil langkah antisipatif agar gejolak global tidak berdampak besar pada stabilitas ekonomi nasional.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



