TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Dewan Pers

Kasus DBD Tangsel Capai 128 hingga Awal April, Dinkes: Tren Turun Dibanding Tahun Lalu

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Senin, 06 April 2026 | 13:44 WIB
Foto : Istimewa
Foto : Istimewa

CIPUTAT – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) hingga awal April 2026 tercatat sebanyak 128 kasus. Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel menyebut jumlah tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan data tersebut merupakan akumulasi kasus sejak 1 Januari hingga 5 April 2026. Dari total tersebut, tidak ada laporan kasus kematian akibat DBD.

 

“Jadi dari kasus DBD dari 1 Januari sampai 5 April 2026 itu 128 kasus. Trennya turun ya. Untuk Januari itu 35, Februari 38, Maret 40, dan 1–5 April ada 15 kasus. Jadi totalnya ada 128 kasus, dan tanpa kematian,” ujar Allin saat dijumpai di Puspemkot Tangsel, Senin (6/4).

 

Ia menjelaskan, jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Tahun lalu, hanya dalam rentang Januari hingga Maret saja kasus DBD sudah mencapai 209 kasus.

 

“Trennya tentu jauh menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025 lalu. Pada tahun lalu, kasus dari Januari-Maret saja mencapai 209 kasus. Dengan rincian, Januari 99 kasus, Februari 67 kasus, dan Maret, 43 kasus,” jelasnya.

 

Sementara di sepanjang 2025, total kasus DBD di Tangsel tercatat sebanyak 648 kasus.

 

Dari sisi wilayah, penyebaran kasus DBD pada awal tahun 2026 paling banyak terjadi di Kecamatan Serpong dengan 29 kasus. 

 

"Kemudian Pamulang 24 kasus, Ciputat 23 kasus, Pondok Aren 22 kasus, Serpong Utara 14 kasus, Setu 13 kasus, serta Ciputat Timur 3 kasus," paparnya.

 

Allin menyebut penurunan tren kasus tersebut tidak lepas dari berbagai upaya pencegahan yang terus digencarkan pemerintah bersama masyarakat, salah satunya melalui program Satu Rumah Satu Jumantik.

 

“Ya, jadi kita kan terus masih menggalakkan satu rumah satu jumantik. Kemudian juga terus melakukan edukasi, kader turun gitu ya. Kemudian juga wilayahan turun,” katanya.

 

Selain itu, petugas juga melakukan pemeriksaan jentik secara langsung ke lingkungan warga melalui kegiatan silent survey.

 

“Sambil meriksa jentik, sambil kita ada silent survey namanya. Nah itu silent survey, kemudian nanti ada proses sertifikasi RW bebas jentik. Nah dari situ masyarakat ya kita coba merubah perilaku mereka untuk menjaga lingkungan,” terangnya.

 

Ia berharap kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan tersebut bisa menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari.

 

“Betul, jadi gaya hidup. Dan menjadi budaya ya. Menjadi budaya menjaga kesehatan lingkungan dengan tadi membersihkan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk,” pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit