15 Tahun Mengabdi di Tanah Suci, Kisah Sardi Sopir Bus Salawat Asal Banten yang Layani Jamaah Haji
MAKKAH — Di depan Al-Hidayah Tower, kawasan Aziziyah, Makkah, Muhammad Sardi tampak sigap menjalankan tugasnya. Dengan postur tegap dan senyum ramah, pria asal Lebak, Banten ini menyambut satu per satu jemaah haji Indonesia yang hendak menaiki bus salawat menuju Masjidil Haram.
“Sehat, Pak?” sapanya hangat, mencairkan suasana sejak awal pertemuan.
Di balik kesederhanaannya, Sardi menyimpan perjalanan panjang. Pria 45 tahun asal Lebaksiuh, Malingping itu telah merantau ke Arab Saudi selama 15 tahun. Kini, ia menetap di Al-Hudaybiyah dan mengabdikan diri sebagai sopir bus salawat yang beroperasi hampir tanpa henti selama musim haji.
Perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Saat pandemi COVID-19 melanda, Sardi terpaksa kembali ke kampung halaman. Ia sempat mencoba peruntungan dengan membuka bengkel motor. Namun, usaha tersebut belum mampu memenuhi harapan.
“Selama tiga tahun di rumah merintis usaha, tapi karena modal terbatas, akhirnya saya memutuskan kembali ke Saudi,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi titik balik. Ia kembali melamar ke perusahaan transportasi dan dipercaya mengemudikan bus salawat—layanan vital yang mengantar jemaah dari penginapan menuju Masjidil Haram.
Bagi Sardi, pekerjaannya bukan sekadar mencari penghasilan. Ia merasakan nilai ibadah yang besar karena dapat melayani para tamu Allah. Bahkan, dari pekerjaannya itu, ia telah berkesempatan menunaikan ibadah haji hingga empat kali.
“Alhamdulillah, sudah sekitar empat kali haji,” tuturnya penuh syukur.
Di awal merantau, keterbatasan bahasa Arab sempat menjadi tantangan. Namun, seiring waktu dan pengalaman, ia mampu beradaptasi. Latar belakangnya sebagai montir juga membentuk karakter pekerja keras yang tangguh dan tidak mudah menyerah.
Meski harus menjalani ritme kerja yang padat, Sardi menjalaninya dengan penuh keikhlasan.
“Ya, Alhamdulillah,” katanya singkat.
Cuaca ekstrem di Makkah pun sempat membuatnya kewalahan. Panas yang menyengat kerap memicu gangguan kesehatan ringan seperti batuk. Namun kini, ia mengaku sudah terbiasa.
“Dulu sering batuk karena panasnya berbeda. Tapi sekarang sudah terbiasa, Alhamdulillah,” ujarnya menutup cerita.
Kisah Sardi menjadi gambaran sederhana tentang dedikasi seorang perantau yang tak hanya bekerja, tetapi juga mengabdi di Tanah Suci dengan penuh ketulusan.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 22 jam yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 16 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu






