Tiga Kecamatan Rawan Kekeringan
Pemkot Siap-siap Hadapi Kemarau
CIPUTAT-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan pengalaman penanganan sebelumnya, terdapat tiga kecamatan yang menjadi wilayah rawan kekeringan, yakni Setu, Serpong, dan Serpong Utara.
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, salah satu upaya jangka panjang yang tengah didorong pemerintah daerah adalah percepatan pembangunan jaringan distribusi air bersih melalui kerja sama dengan Perseroda PITS sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) penyedia layanan air minum.
"Kalau musim kemarau, persoalan yang sering muncul adalah kekeringan. Karena itu Pemkot Tangsel bersama Perseroda PITS terus mendorong percepatan pembangunan saluran pipa air minum agar ke depan kebutuhan air bersih masyarakat bisa terpenuhi lebih baik," ujar Pilar, Rabu (3/6).
Selain persoalan ketersediaan air bersih, Pilar mengingatkan ancaman lain yang kerap muncul saat musim kemarau, yakni meningkatnya risiko kebakaran dan memburuknya kualitas udara akibat pembakaran sampah.
Menurutnya, masyarakat perlu berperan aktif dengan menghindari pembakaran sampah secara sembarangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan potensi kebakaran sekaligus mengurangi polusi udara yang biasanya meningkat saat musim kemarau.
"Kebakaran sampah harus dicegah karena selain memicu kebakaran lahan, juga memperburuk kualitas udara. Ini menjadi perhatian yang harus diantisipasi bersama," katanya.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel, Essa Nugraha menjelaskan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Banten secara umum telah memasuki musim kemarau. Namun, Tangsel diperkirakan menjadi daerah terakhir yang memasuki musim tersebut dibandingkan wilayah lain di Provinsi Banten.
"Awal Juni sudah mulai masuk musim kemarau. Kemudian diprediksi berlangsung hingga sekitar Agustus. Biasanya kondisi kekeringan berlangsung sekitar tiga sampai empat bulan," jelas Essa.
Ia mengungkapkan, prediksi sejumlah lembaga kebencanaan menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih ekstrem. Karena itu, BPBD telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
Fokus penanganan diarahkan pada tiga wilayah yang selama ini paling sering mengalami kekeringan, yakni Kecamatan Setu, Serpong, dan Serpong Utara. Dari ketiga wilayah tersebut, Kecamatan Setu menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tertinggi.
"Kebanyakan kejadian kekeringan terjadi di Kecamatan Setu. Karena itu wilayah tersebut menjadi fokus utama pengawasan dan penanganan kami," ujarnya.
Essa mengimbau masyarakat memanfaatkan sisa musim hujan untuk menampung air sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga. Selain itu, warga diminta segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
"Kalau terjadi kekeringan, masyarakat bisa segera melapor melalui layanan darurat 112 agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat," katanya.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, BPBD bersama Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) telah menyiapkan 53 titik toren air bersih yang tersebar di sejumlah lokasi rawan kekeringan. Toren tersebut ditempatkan di fasilitas sosial dan fasilitas umum pada tingkat kelurahan.
"Total ada sekitar 53 toren berkapasitas 5.000 liter yang sudah tersedia. Nantinya distribusi air dilakukan ke toren-toren tersebut sehingga masyarakat bisa mengambil air bersih langsung dari lokasi yang telah disiapkan," terang Essa.
Untuk memenuhi pasokan air bersih, BPBD telah menjalin kerja sama dengan Perseroda PITS serta sejumlah pihak swasta seperti Alam Sutera dan Sinar Mas. Selain itu, BPBD juga memiliki alat penyuling air yang mampu mengolah air menjadi air bersih dengan kapasitas hingga 2.000 liter per jam.
"Insya Allah jika terjadi kekeringan, kami sudah siap. Sumber air bersih bisa diperoleh dari kerja sama dengan BUMD dan swasta, serta didukung alat penyuling air yang kami miliki," tegasnya.
Meski demikian, Essa tidak menutup kemungkinan munculnya titik-titik kekeringan baru apabila musim kemarau tahun ini berlangsung lebih ekstrem dari perkiraan. Kendati begitu, BPBD tetap memprioritaskan pengawasan di wilayah yang selama ini menjadi langganan terdampak, terutama Kecamatan Setu.
"Kalau titik kekeringan baru sangat mungkin muncul. Tetapi untuk fokus kewilayahan, perhatian utama kami tetap di Kecamatan Setu karena paling sering terdampak," pungkasnya.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
TangselCity | 13 jam yang lalu
Nasional | 15 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



