TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Ekowisata di Pandeglang Mulai Bergeliat, Pendaki Diminta Jaga Kelestarian Alam

Oleh: Ari Supriadi
Editor: Ari Supriadi selected
Minggu, 21 Juni 2026 | 19:03 WIB
Para pendaki tengah beristirahat di tengah pendakian menuju puncak Gunung Karang, Pandeglang, Sabtu (20/6/2026).(Istimewa)
Para pendaki tengah beristirahat di tengah pendakian menuju puncak Gunung Karang, Pandeglang, Sabtu (20/6/2026).(Istimewa)

PANDEGLANG - Industri ekowisata di Kabupaten Pandeglang, mulai bergeliat. Hal tersebut salah satunya terlihat dengan semakin banyaknya pendaki gunung yang berdatangan, baik ke Gunung Karang, Pulosari maupun Gunung Aseupan. Kondisi ini menunjukkan bahwa alam Kabupaten Pandeglang sangat potensial untuk terus dikembangkan sebagai destinasi ekowisata.

 

Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (PSDP dan Ekraf) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang, Mia Maulani Rizki mengatakan, semakin banyaknya basecamp pendakian yang dibuka dan diberikan izin oleh pemerintah, menunjukkan semakin membaiknya dukungan masyarakat terhadap ekowisata. Karena pemerintah tidak akan memberikan izin, jika tidak ada dukungan dan jalinan kolaborasi antara pengelola ekowisata dengan masyarakat setempat.

 

Hal ini dikatakan Mia pada Peresmian Jalur Pendakian Ekowisata Gunung Karang “Golden Sunrise Cinyurup” di Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang,Sabtu (20/6/2026).

 

Dikatakan Mia dalam pembukaan jalur pendakian yang diklaim ramah untuk family trip yang bertema “Besama Menjaga Alam, Pariwisata Berkelanjutan” itu, bergeliatnya ekowisata akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah setempat. Jika banyak orang yang datang, masyarakat dituntut kreatif. Karena mereka yang datang itu, bukan hanya ingin menikmati alam, tapi juga ingin punya kenangan, belanja dan punya buah tangan.

 

“Jaga kolaborasi ini sebaik mungkin, sehingga menjadi kerjasama yang saling menguntungkan, khususnya dalam pelestarian alam dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Mia, melalui siaran pers yang diterima tangselpos.id, Minggu (21/6/2026).

 

Sementara itu, tokoh masyarakat yang juga Ketua RW Kampung Cinyurup, Juli menegaskan, unsur mistis dan religius masih menjadi pondasi kuat di masyarakat dan kawasan Gunung Karang. Untuk itu, ia menekankan agar para pendaki, menghormati kearifan lokal dan ikut menjaga alam agar tetap lestari. “Gunung hejo masyarakat bisa ngejo, gunung lestari masyarakat seuri (gunung hijau masyarakat bisa memasak, gunung lestari masyarakat tersenyum, red),” katanya.     

 

Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Perhutani Gunung Karang, Muklis mengingatkan, para pendaki harus ingat tiga pilar yang harus dijaga di Gunung Karang, yakni pilar lingkungan artinya menjaga alam, pilar religi artinya berpegang teguh sesuai ajaran agama dan pilar konservasi artinya menjaga sumberdaya yang ada di gunung agar tidak punah. “Menjaga ketiga pilar itu, sama juga dengan menjaga kearifan lokal,” katanya.

 

Pengurus Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Gojali yang juga pengelola Basecamp Cinyurup meminta, para pendaki selalu menjaga kekompakan dan menjaga tutur kata. Karena keberhasilan pendakian bukan sampai puncak tetapi bisa kembali dengan selamat. “Tanya ke panitia atau pemandu, daerah mana saja yang tidak boleh dilalui pendaki, demi keselamatan bersama,” harapnya.(*)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit