Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Lebih dari 1.300 Orang Tewas
JAKARTA – Sejumlah negara di Eropa tengah menghadapi gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu. Temperatur di beberapa wilayah menembus 40 derajat Celsius, memicu krisis kesehatan, mengganggu aktivitas masyarakat, hingga merenggut lebih dari 1.300 jiwa dalam kurun kurang dari dua pekan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 150 juta penduduk terdampak cuaca panas yang melanda sejak pertengahan Juni. Banyak sekolah ditutup, sementara pemerintah di berbagai negara meningkatkan status kewaspadaan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan lebih dari 1.300 kematian tercatat sejak 21 Juni 2026 akibat gelombang panas tersebut.
WHO menilai kondisi ini sebagai darurat kesehatan yang memerlukan langkah cepat dan koordinasi lintas negara. Organisasi itu juga mendorong setiap pemerintah memiliki rencana aksi khusus menghadapi dampak suhu ekstrem serta memperkuat layanan kesehatan.
Dalam beberapa hari terakhir, rekor suhu tertinggi tercatat di sejumlah negara Eropa Tengah, seperti Jerman, Polandia, dan Republik Ceko.
Di Jerman, suhu mencapai 41,7 derajat Celsius di Coschen, Brandenburg. Sehari sebelumnya, beberapa wilayah lain juga mencatat suhu di atas 41 derajat Celsius, termasuk Drewitz, Bad Muskau, dan Saarbrücken.
Cuaca panas bahkan mengganggu infrastruktur transportasi. Layanan trem di Leipzig sempat dihentikan karena rel dinilai tidak aman setelah aspal di sejumlah titik melunak dan mengalami perubahan bentuk.
Menurut laporan Euronews, permukaan Jalan Tol A2 di Saxony-Anhalt mengalami deformasi akibat panas berlebih sehingga beberapa ruas terpaksa ditutup sementara. Otoritas setempat juga menyiram jembatan berbahan baja dengan air untuk mengurangi risiko kerusakan struktur.
Republik Ceko turut mencatat sejarah baru. Institut Meteorologi Ceko (CHMI) melaporkan suhu 41,9 derajat Celsius di Doksany, sekitar 50 kilometer dari Praha.
CHMI menyebutkan, untuk pertama kalinya jaringan stasiun cuaca resmi negara itu mencatat suhu melampaui 41 derajat Celsius. Kondisi tersebut dipicu aliran udara panas dari kawasan barat daya Eropa.
Di Slovakia dan Hungaria, suhu tertinggi juga menembus 41 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 2007.
Sementara itu, Prancis menjadi salah satu negara dengan dampak paling serius. Di Kota Biscarrosse, suhu mencapai 44,3 derajat Celsius.
Kementerian Kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 orang meninggal akibat gelombang panas. Sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia yang mencapai sekitar 85 persen dari total kematian.
Lonjakan korban terjadi di rumah sakit, panti jompo, maupun rumah-rumah warga.
Pemerintah Prancis mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan saat siang hari, memperbanyak konsumsi air, dan memanfaatkan ruangan berpendingin udara apabila memungkinkan.
Menteri Kesehatan Prancis, Stéphanie Rist, memperingatkan bahwa tekanan terhadap fasilitas kesehatan masih akan berlangsung meski suhu mulai berangsur turun.
Senada dengan itu, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengungkapkan petugas pemadam kebakaran telah menangani sekitar 122 ribu operasi selama periode cuaca ekstrem.
Di Hungaria, Perdana Menteri Peter Magyar menerapkan kebijakan bekerja dari rumah serta memangkas jam kerja untuk mengurangi risiko paparan panas bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Iklim PBB Simon Stiell menegaskan gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan dampak nyata perubahan iklim. Menurutnya, dunia perlu mempercepat transisi menuju energi bersih, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat perlindungan hutan dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 21 jam yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Lifestyle | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 21 jam yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu






