Jelang Memasuki Tahun Ajaran Baru, Dishub Tangsel Perkuat Layanan Bus Sekolah
Sopir dan Kondektur Dibekali Pelayanan Prima
SERPONG — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengumpulkan seluruh sopir dan kondektur bus sekolah untuk mengikuti evaluasi sekaligus pembekalan pelayanan di Kantor Dishub Tangsel, Serpong, Rabu (1/7). Kegiatan yang digelar bertepatan dengan masa libur sekolah ini menjadi bagian dari persiapan menyambut tahun ajaran baru agar pelayanan bus sekolah semakin aman, nyaman, dan ramah bagi para pelajar.
Kepala Dishub Kota Tangsel, Ayep Jajat Sudrajat mengatakan, evaluasi rutin yang dilaksanakan setiap tiga bulan tersebut tidak hanya membahas kendala di lapangan, tetapi juga mengingatkan kembali standar operasional pelayanan kepada seluruh awak bus.
"Yang kita tekankan adalah bagaimana sopir dan kondektur memberikan pelayanan terbaik. Anak-anak yang naik bus sekolah itu adalah tanggung jawab kita bersama, sehingga mereka harus merasa aman, nyaman, dan dilayani dengan baik," ujarnya.
Dalam pembekalan tersebut, Dishub juga memberikan edukasi mengenai perawatan kendaraan, kebersihan armada, pemeriksaan kelayakan operasional, hingga penggunaan alat keselamatan seperti alat pemadam api ringan (APAR). Sopir dan kondektur juga dibekali pengetahuan teknis sederhana, termasuk penanganan keadaan darurat di perjalanan.
Selain itu, Dishub menampung berbagai masukan dari para pengemudi terkait kondisi di lapangan. Salah satunya mengenai titik naik-turun penumpang di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Kota Tangsel yang kerap menimbulkan antrean kendaraan.
Menurut Ayep, lokasi tersebut akan dikaji ulang agar aktivitas menaikkan dan menurunkan pelajar tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Masukan lain yang turut menjadi perhatian ialah keberadaan pohon dan kabel yang menjuntai di jalur bus sekolah, serta keterbatasan area parkir saat menunggu jam pulang sekolah.
"Kami mendengar langsung keluhan mereka karena merekalah yang setiap hari berada di lapangan. Semua itu akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan pelayanan," katanya.
Dishub juga memberikan pembekalan khusus bagi awak bus yang melayani rute antarjemput anak berkebutuhan khusus (ABK). Mereka dibekali pemahaman mengenai cara berinteraksi dan memberikan pendampingan yang tepat sesuai kebutuhan para siswa.
Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, Dishub juga akan melakukan penyesuaian rute. Penyesuaian dilakukan mengikuti perubahan domisili siswa pengguna bus sekolah, sehingga jarak menuju titik penjemputan tidak terlalu jauh tanpa mengubah jalur utama yang telah ditetapkan.
"Nanti mungkin ada sedikit penyesuaian, misalnya bus masuk sedikit ke lokasi penjemputan yang baru. Tujuannya agar anak-anak lebih mudah mengakses bus sekolah," jelasnya.

Saat ini, layanan bus sekolah Tangsel telah melayani 10 rute. Dari jumlah tersebut, tiga armada dikhususkan untuk melayani anak berkebutuhan khusus, terdiri atas dua unit bus dan satu mobil Elf.
Ayep mengungkapkan, hampir seluruh rute kini telah mengalami kelebihan kapasitas penumpang. Untuk mengakomodasi tingginya permintaan, beberapa armada bahkan harus melakukan perjalanan hingga dua sampai tiga kali dalam satu waktu keberangkatan.
Tingginya minat masyarakat menggunakan bus sekolah juga tercermin dari lonjakan jumlah penumpang. Hingga pertengahan 2025, jumlah pengguna mencapai sekitar 98 ribu penumpang, meningkat 131 persen dibandingkan sepanjang 2024 yang tercatat sekitar 46 ribu penumpang.
Menurut Ayep, peningkatan tersebut merupakan hasil dari evaluasi rutin, sosialisasi ke sekolah-sekolah, serta upaya menjaga kualitas pelayanan. Dalam waktu dekat, Dishub juga akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi armada sebelum kembali beroperasi pada tahun ajaran baru.
"Kami akan memastikan seluruh armada bersih, layak jalan, dan aman. Setelah itu kami juga akan turun ke sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisasi kepada peserta didik baru mengenai layanan bus sekolah," tutupnya.
Sementara itu, salah seorang sopir bus sekolah yang melayani rute anak berkebutuhan khusus, Ruddy (51), mengaku memiliki pengalaman berharga selama enam bulan bertugas. Menurutnya, melayani para siswa berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran dan perhatian lebih, namun memberikan kepuasan tersendiri.
"Kalau saya menganggap mereka seperti keluarga sendiri. Memang perlu ekstra sabar karena ada yang harus dibantu naik ke bus, ada yang tantrum atau perlu waktu beradaptasi. Tapi melihat mereka tetap semangat sekolah membuat kami ikut senang," ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan layanan tersebut tidak lepas dari kerja sama antara Dishub, pihak sekolah, dan orang tua dalam membantu proses adaptasi siswa terhadap pergantian sopir maupun kondektur yang dilakukan secara berkala.
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Lifestyle | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu






