Durian Baduy Diserbu Wisatawan Berbagai Daerah
Warga Adat Raup Cuan Rp 10 Juta Dalam Satu Hari
LEBAK - Musim durian di kawasan permukiman masyarakat adat Baduy, pedalaman Gunungkendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, membawa berkah ekonomi bagi warga adat tersebut.
Tingginya kunjungan wisatawan dari berbagai daerah yang datang untuk berburu durian lokal, membuat sejumlah petani dan pedagang durian Baduy mampu meraup omzet hingga Rp 10 juta per hari.
Lonjakan kunjungan wisatawan, terutama pada akhir pekan, tidak hanya menggerakkan sektor pariwisata budaya Baduy, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi langsung bagi masyarakat adat melalui penjualan hasil perkebunan, terutama durian dan manggis.
Selain menikmati suasana perkampungan adat, banyak pengunjung sengaja datang untuk berburu durian lokal yang kini memasuki puncak musim panen.
Para wisatawan terlihat membawa pulang durian yang dibeli dari warga. Sebagian lainnya memilih menikmati buah tersebut langsung di rumah-rumah panggung milik warga Baduy Luar yang berada di sepanjang jalur kunjungan wisatawan.
Selama musim panen, rumah-rumah panggung warga tersebut berubah menjadi lapak penjualan buah. Ratusan durian hasil kebun dipajang dan disajikan kepada wisatawan.
Tingginya permintaan bahkan membuat sejumlah pedagang kehabisan stok durian matang. Sebagian pengunjung tidak kebagian karena buah yang tersedia telah habis terjual.
Salah seorang warga Baduy Luar, Ayah Saiman (48), mengatakan, lonjakan kunjungan wisatawan dalam beberapa hari terakhir berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan warga.
“Yang penting ada barangnya saja. Sudah tiga hari ini ramai terus. Omzet bisa sampai Rp 10 juta per hari,” ungkap Ayah Saiman, Senin (31/8).
Menurut Saiman, durian yang dijual berasal dari kebun milik pribadi, keluarga, maupun petani lain di kawasan Baduy. Katanya, tidak semua warga memiliki kebun atau pohon durian sehingga sebagian pedagang memperoleh pasokan dari warga lainnya.
Ia memperkirakan musim panen durian di wilayah Baduy Luar masih akan berlangsung sekitar dua pekan ke depan. Setelah itu, panen durian dari wilayah Baduy Dalam diperkirakan mulai memasuki pasar.
“Perkiraan dua minggu lagi panen di Baduy Luar selesai. Kalau dari Baduy Dalam, nanti baru mulai turun,” katanya.
Harga durian yang dijual kepada wisatawan bervariasi, tergantung pada ukuran dan kualitas buah. Durian dijual mulai dari Rp 100.000 untuk tiga buah, Rp 50.000 per buah, hingga Rp 150.000 untuk dua buah.
Selain durian, warga Baduy juga tengah menikmati musim panen manggis. Buah tersebut menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Manggis dijual Rp 10.000 per kilogram. Kalau dijual ke bandar biasanya sekitar Rp 8.000 per kilogram,” ungkap Saiman lagi.
Penjualan langsung kepada wisatawan memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi warga dibandingkan menjual hasil panen melalui pengepul. Momentum musim buah pun menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat adat Baduy.
Fenomena tersebut menunjukkan eratnya keterkaitan sektor perkebunan dan pariwisata di kawasan Baduy. Ketika kunjungan wisatawan meningkat, hasil kebun warga tidak hanya dipasarkan melalui jalur distribusi tradisional, tetapi juga dapat dijual langsung kepada konsumen dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Salah seorang wisatawan asal Kabupaten Serang, Cucun (38), mengaku sengaja datang bersama suami dan anaknya untuk menikmati libur akhir pekan sekaligus berburu durian khas Baduy.
“Saya kesini sama anak dan suami dalam rangka liburan akhir pekan, sekalian mau berburu durian,” katanya.
Namun, tingginya minat wisatawan juga kembali memunculkan persoalan klasik berupa kemacetan dan keterbatasan fasilitas parkir menuju kawasan Baduy. Cucun mengaku, harus terjebak kemacetan selama hampir tiga jam sebelum tiba di kawasan wisata.
“Tadi di depan mobil saya tidak bisa bergerak sama sekali hampir tiga jam. Ditambah tempat parkir penuh, jadi harus menaruh mobil cukup jauh. Tapi alhamdulillah rasa lelahnya terbayar setelah sampai di sini,” ungkapnya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lebak segera membenahi infrastruktur pendukung pariwisata, terutama perluasan area parkir dan pengaturan lalu lintas pada akhir pekan maupun saat kunjungan wisatawan meningkat.
“Harapannya Pemerintah Kabupaten Lebak bisa memperluas tempat parkir dan petugas Dishub juga disiagakan supaya tidak semrawut. Apalagi pada momen akhir pekan seperti ini seharusnya bisa diantisipasi sejak awal,” katanya.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 23 jam yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu



