Tangani Banjir Hingga Longsor, Pilar Cek Tiga Proyek Turap dan Bronjong di Pamulang-Ciputat
CIPUTAT — Upaya menangani persoalan banjir dan longsor terus dilakukan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan meninjau langsung tiga proyek pembangunan turap dan bronjong yang berada di sejumlah titik rawan di wilayah Pamulang dan Ciputat, Rabu (2/9).
Tiga lokasi yang ditinjau yakni pembangunan bronjong di aliran kali angke yang melintas di Perumahan Vila Pamulang, turap Kali Serua segmen grand serpong dan BNI di Perumahan Grand Serpong, serta pembangunan turap di aliran kali yang melintas di Perumahan Nusa Indah.
Peninjauan dilakukan untuk memastikan progres pekerjaan berjalan sesuai perencanaan sekaligus melihat langsung kondisi di lapangan. Pilar mengatakan, pembangunan tersebut ditujukan untuk menangani sejumlah persoalan, mulai dari longsor, pergeseran tanah akibat pengikisan aliran sungai hingga genangan dan banjir.
"Alhamdulillah hari ini saya mengunjungi 3 titik pembangunan yang ada di wilayah Tangsel. Yang pertama adalah Vila Pamulang, yang kedua ini Grand Serpong, lalu Nusa Indah," ujar Pilar.
Dalam peninjauan tersebut, Pilar mengecek metode pelaksanaan pembangunan serta progres pekerjaan. Ia juga meminta konsultan pengawas dan penyedia jasa memastikan seluruh pekerjaan dikerjakan sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
"Yang dimana ada beberapa permasalahan seperti longsor, pergeseran tanah akibat pekikisan dari air sungai, lalu juga terkait penanganan banjir yang terjadi. Nah ini saya melihat secara langsung, tadi bertanya terkait metode pelaksanaannya, dan insya Allah di akhir tahun ini semua pekerjaan bisa rampung, selesai dengan baik dan sesuai rencana," katanya.
Pilar menekankan pentingnya kualitas pekerjaan agar infrastruktur yang dibangun dapat memberikan perlindungan maksimal bagi lingkungan sekitar. Ia secara khusus menitipkan pengawasan terhadap material dan struktur bangunan, mulai dari mutu beton, campuran agregat hingga tulangan.
"Tadi saya menitipkan secara langsung kepada konsultan pengawas dan juga penyedia, untuk dilakukan pembangunan sesuai dengan spek, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kita doakan benar-benar lancar, dan benar-benar bisa memberikan solusi untuk warga di sekitar," ungkapnya.
Salah satu pekerjaan yang ditinjau di Vila Pamulang saat ini telah mencapai sekitar 30 persen. Berbeda dengan lokasi lainnya, penanganan di kawasan tersebut menggunakan metode bronjong batu kali karena berada di aliran Sungai Angke.
Pilar menjelaskan, pembangunan bronjong di Vila Pamulang dilakukan secara bertahap dan telah mendapatkan izin dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC). Struktur tersebut bersifat semi permanen dengan susunan batu kali yang diikat menggunakan kawat.
"Kalau di Anak Kali kita bisa gunakan dengan metode turap beton. Kalau di Vila Pamulang, karena itu sungai, Angke, jadi izin dari BBWSCC, kita diberikan izin, pemasangannya sebatas semi-permanen, dengan bentuk bronjong batu kali, diikat dengan kawat seperti itu, sampai 10 undakan," jelasnya.
Ketinggian bronjong di lokasi tersebut bervariasi dan dapat mencapai sekitar lima meter dari pondasi hingga bagian atas. Pilar meminta pekerjaan dipercepat agar tidak terganggu ketika memasuki musim penghujan.
"Supaya pekerjaan diselesaikan secepatnya, jangan sampai nanti masuk musim penghujan, lalu terkendala sama waktu," tegasnya.
Menurut Pilar, setelah pekerjaan konstruksi selesai, material yang berada di sekitar aliran sungai juga perlu segera ditata dan diangkat agar kapasitas aliran kembali optimal ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Dalam kesempatan tersebut, Pilar juga meminta kecamatan dan kelurahan segera berkoordinasi dengan warga terkait keberadaan bangunan di bibir sungai yang berpotensi menghambat pembangunan.

Ia menilai penataan kawasan sempadan sungai perlu dilakukan bersama agar pekerjaan infrastruktur dapat berjalan optimal dan tidak terhalang bangunan yang berada di area pembangunan.
"Ini kepentingan bersama, dan apalagi bangunan yang tidak bersertifikat, seperti misalkan ada warung apa, harus diserahkan untuk pembangunan bronjong, jangan sampai kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan publik," tegas Pilar.
Pilar meminta koordinasi tersebut segera dilakukan sehingga tim SDABMBK dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai target dan seluruh sistem pengamanan aliran sungai sudah siap menghadapi musim penghujan.
Sementara itu, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Tangsel Robbi Cahyadi mengatakan, penanganan di tiga lokasi disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Untuk Vila Pamulang, pekerjaan berupa pemasangan bronjong batu kali sepanjang 164 meter serta pagar sepanjang 145 meter. Ketinggian bronjong mencapai sekitar lima meter.
"Secara kewenangan yang di Vila Pamulang itu tadi penanganannya ada di BBWSCC. Cuma itu memang rawan longsor. Jadi dari kementerian hanya membolehkan kita penanganan tidak permanen. Jadi kalau bronjong itu sifatnya tidak permanen boleh," ujar Robbi.
Sementara turap di Kali Serua segmen grand serpong dan BNI, pembangunan dilakukan dengan beberapa metode. Di antaranya pemasangan turap baru setinggi empat meter sepanjang 165 meter, peninggian turap eksisting hingga empat meter sepanjang 132 meter, serta pembangunan saluran pembuang sepanjang 429 meter.
Adapun di Perumahan Nusa Indah, pembangunan turap dilakukan pada sisi kiri dan kanan aliran kali dengan panjang sekitar 100 meter pada masing-masing sisi atau total sekitar 204 meter. Proyek tersebut juga dilengkapi pagar parapet sepanjang 90 meter, pedestrian sekaligus jalan inspeksi sepanjang 204 meter.
Selain itu, terdapat sejumlah bangunan pelengkap seperti pintu air dan klep tabok untuk mendukung pengaturan aliran air.
Robbi mengatakan, seluruh proyek tersebut ditargetkan rampung sekitar Desember 2026. Durasi pengerjaan masing-masing proyek berkisar lima hingga enam bulan sesuai kontrak.
"Rampungnya kalau kontrak sebetulnya Desember. Ada yang 150 hari kalender, lima bulan. Ada yang enam bulan, 160. Rata-rata Desember," katanya.
Ia menambahkan, ketiga lokasi tersebut memang memiliki persoalan banjir maupun longsor. Di Vila Pamulang, misalnya, longsor berpotensi mengancam badan jalan apabila tidak segera ditangani.
"Rawan banjir dan ada longsor ya. Vila Pamulang tadi longsor. Kita lihat kan jalan-jalan kota yang jalan Vila Pamulang udah, kalau nggak ditangani, jalannya bisa amblas, longsor, berbahaya," jelas Robbi.
Sementara di Grand Serpong, persoalan yang dihadapi berupa longsor di salah satu bagian serta genangan saat hujan. Pembangunan turap diharapkan dapat memperkuat tebing sekaligus mencegah air melimpas ke lingkungan warga.
"Yang di Grand Serpong tadi ada yang longsor di ujung dan banjir juga. Yang di sini banjir. Banjir tadi kan dari Bapak RW, yang sebelumnya juga Pak RW menyatakan ada banjir. Di Grand Serpong, banjir. Tapi kita kasih turap, nanti harusnya tidak limpas lah turapnya," pungkas Robbi.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



