Empat Gunung Erupsi Bersamaan, Warga Diminta Waspada Tanpa Panik
JAKARTA – Aktivitas vulkanik meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Empat gunung api dilaporkan mengalami erupsi dalam waktu yang hampir bersamaan pada Rabu (9/9/2026).
Keempat gunung tersebut yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara.
Meski terjadi hampir bersamaan, masyarakat diimbau tidak panik. Kewaspadaan tetap diperlukan dengan mengikuti perkembangan dan informasi resmi dari pemerintah.
Berdasarkan laporan harian Magma Indonesia, Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu gunung yang menunjukkan aktivitas cukup signifikan. Erupsi tercatat terjadi sekitar pukul 00.47 WIB.
Pemantauan KRI Lepu-861 milik TNI AL menunjukkan Anak Krakatau masih mengeluarkan asap dan abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer.
Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi menerus telah berlangsung sejak 4 September. Abu vulkanik sebelumnya juga dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah Banten, Lampung, Jawa Barat hingga Jakarta.
Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, meminta masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya.
“Fase erupsinya secara total belum bisa dikatakan berakhir,” ujar Wahyu, Rabu (9/9/2026).
Ili Lewotolok Erupsi Dua Kali
Aktivitas vulkanik juga terjadi di Gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, NTT. Gunung yang berstatus Level II atau Waspada itu tercatat mengalami dua kali erupsi pada Rabu pagi.
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 05.03 WITA dengan kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Sekitar 53 menit kemudian, erupsi kembali terjadi dengan kolom abu setinggi sekitar 600 meter.
Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut.
Semeru 29 Kali Letusan
Di Jawa Timur, Gunung Semeru juga masih menunjukkan aktivitas tinggi. Dalam periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat 29 kali gempa letusan atau erupsi.
Durasi masing-masing letusan berkisar antara 59 hingga 111 detik. Aktivitas tersebut terekam instrumen pemantauan, meski ketinggian kolom erupsi tidak teramati secara visual.
Gunung Semeru saat ini berstatus Level III atau Siaga.
“Gunung Semeru mengalami 29 kali letusan selama enam jam,” ujar petugas pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, Rabu (9/9/2026).
Gunung Ibu Empat Kali Erupsi
Sementara itu, Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, dilaporkan mengalami empat kali erupsi sepanjang Rabu.
Mengutip Magma Indonesia, erupsi terjadi pada pukul 05.27, 09.19, 11.54, dan 12.01 WIT. Visual letusan tidak teramati dan aktivitas erupsi masih berlangsung saat laporan dibuat.
Gunung Ibu berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah.
“Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah timur laut dan timur,” demikian laporan PVMBG.
Tak Perlu Panik
Aktivitas empat gunung api dalam waktu berdekatan turut menjadi perhatian pemerintah. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik dan potensi sebaran abu akibat erupsi.
“Masyarakat, khususnya di sekitar wilayah terdampak diimbau tetap waspada, tidak panik, serta mengikuti informasi resmi BMKG, PVMBG/Badan Geologi, dan pemerintah setempat,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya.
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Prof. Nana Sulaksana, mengatakan erupsi yang terjadi hampir bersamaan di sejumlah gunung api tidak perlu disikapi dengan kepanikan.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi pengingat agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana.
Setiap gunung api memiliki sistem geologi berbeda, mulai dari kedalaman dapur magma, jalur pergerakan magma hingga komposisi dan karakteristik magmanya. Karena itu, erupsi beberapa gunung dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung di antara gunung-gunung tersebut.
“Secara singkat seluruh variabel sebagai tanda-tanda akan terjadi erupsi sudah dimanfaatkan secara optimal dalam pemantauan gunung api di Indonesia,” tulis Prof. Nana.
Ia menilai keberadaan peta zona risiko gunung api sangat penting agar masyarakat mengetahui wilayah yang harus dihindari ketika aktivitas vulkanik meningkat.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu





